Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.

Kamis, 11 Maret 2010

Saya di Gurun, Saya lagi di Benua, Saya masih dalam perjalanan






Sebelum membahas lebih jahu, saya meminta permisi kepada anda untuk membagi apa yang saya miliki. Walaupun, saya bukan seorang Pastor, bukan seorang Pendeta, bukan seorang Ustadz, ataupun lainnya yang ingin membagi dan ataupun mewartakan apa yang dimilikinya. Tetapi saya hanyalah seorang awam yang ingin mensyaringkan apa sebenarnya hidup itu.

Umat nasrani menyakini dari firman Tuhan bahwa hendaklah kamu menjadi pelaku firman, jika tidak demikian maka kamu menipu diri sendiri.Ayat ini yang menjadikan saya berani untuk membagi apa yang saya miliki kepada anda.

Nah, bila demikian. Saya ingin bertanya kepada anda. Apa arti hidup bagi anda? Mengapa kita hidup? Dan bagaimana mewujudkan hidup itu? Saya secara pribadi yakin bahwa anda semua pastilah punya jawaban yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini dikarenakan, kita memiliki motivasi hidup yang berbeda.

Bila membahas lebih jahu, secara filsafat sebenarnya hidup berbicara mengenai relasi. Rerasi secara umum. Bagaimana relasi saya dengan Tuhan? Bagaimana relasi saya dengan sesama saya yang lain?

Anda semua tahu bahwa hidup itu telah diuraikan dalam alkitab. Ungkapan yang tidak asing lagi di telinga kita yakni Alfa dan Omega. Sebuah kata yang berasal dari bahasa yunani. Yang memberikan garis pemahaman mengenai hidup. Hidup yang harus dipersiapkan di awal, dan menikmati hasil di akhir. Tetapi, kepada anda baru mendegar istilah ini, saya akan membagi sesuai pemahaman saya.

Pasti sebagian dari anda sedang bertanya, apa sich arti Alfa dan Omega? Alfa artinya awal. Omega artinya akhir. Dan, anda masih penasaran bahwa bila ada awal dan akhir pasti ada tengahnya. Ya, benar. Alfa dan Omega ingin mengambarkan seluruh pengabungan proses di awal, tengah maupun akhir. Di awal sebagai masa persiapan, di tengah sebagai masa berkarya/melayani, di akhir sebagai masa menuju kemenangan. Namun, masa tengah ditentukan oleh masa awal. Dan masa akhir di tentukan oleh masa awal dan tengah. Dan, akhir, tinggal menunggu masa kemenangan. Namun, Alfa dan Omega juga bertentangan dengan teologi golongan Trinitarian. Tetapi inilah pemahaman singkat.

Awal dan akhir bukanlah sebuah garis linear yang hanya dilihat dengan kasat mata, yang menyatakan dimana titik A dan dimana titik B, namun ini adalah perjuangan kemenangan kekal. Hidup kita adalah kumpulan dari perjuangan yang hanya untuk sementara. Dan, memang itu semua merupakan bagian dari perjuangan kekal itu. Jadi, sekali lagi saya tekankan bahwa hidup merupakan pengabungan dari proses untuk kemenangan kekal yakni kemenagan dalam kristus.

Supaya logika berpikir kita terbuka, saya akan menganalokan dari proses keseharian kita. Sebagai contoh, seorang pelari. Seorang pelari sebelum berlari pastilah ia akan mempersiapkan apa- apa yang berkenaan dengan berlari. Misalnya, latihan berlari, dan lain- lain. Kemudian, saat berlari, seorang pelari itu tinggal mempraktekan dari segala persiapan di awal. Dan, kemudian di akhir tinggal menikmati hasilnya. Hasilnyapun tergantung, semua persiapan di awal dan saat aplikasi di tengah. Inilah serangkaian proses dari seorang pelari apakah telah sungguh – sungguh atau tidak.

Begitu juga, dengan masalah papua. Kita mengetahui, kita mendengar, kita terespon, kita melihat bahwa saudara kita, mama kita, tante kita, nenek kita, tete kita, telah dan sedang mengalami penindasan, penganiyayaan, pemerkosaan, penterorran dan bentuk ketidakadilan lainya oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab. Sekarang, kembali ke kita bahwa apa yang kita persiapkan di awal, di tengah maupun di akhir. Inilah pertanyaan terbesar buat kita? Sebagai langka awal menuju kemenangan sementara.

Saya ada pengalaman. Saya yakin anda juga pasti memunyai pengalaman dalam berbagai kegiatan. Saya setelah ujian nasional maupun ujian sekolah tahun 2007 dari kolese lecocq D’Armandville( SMA adhi luhur) nabire. Sebuah kolese yang termasuk kedalam yayasan tillemans. Tilemans merupakan seorang pastor pertama yang telah berkarya di pedelaman papua. Lebih tepatnya di Mapia, Kamu, Tigi dan Enarotali. Setelah ujian itu, kami diberi rekoleksi yang merupakan program tahunan oleh kolese lecocq D’Armandville. Sebuah pembekalan yang diberikan oleh kolese lecocq untuk saya dan teman- teman saya. Agar saya dan teman- teman berani dalam menjalani hidup sebagai mahasiswa dan lainnya. Namun, sekarang tergantung saya dan teman- teman saya,, apakah itu teraplikasi dengan baik atau tidak? Inilah yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi saya.

Saya sebagai suku mee dari ras melanesia biasa dianalokan oleh orang tua saya bahwa sebuah kebehasilan mutlak yang didapatkan ibarat kita pergi berburu di hutan belantara. Persiapan di awal, aplikasi ditengah, maupun hasil yang didapat. Dengan konsekuensi resiko alam yang ganas yang nantinya akan berhadapan dengan Jurang, Tebing, Sungai, Lembah, Siang dan Malam yang telah bergandeng menjadi satu. Inilah sebenarnya pemahaman demi keberhasilan sementara maupun kekal. Untuk mencapai keberhasilan, harus membayar harga, Haruslah melawan tantangan demi menuju kemenangan.

”Hidup, epen ka?”

Pada saat saman sekarang ini kita mengabaikan yang namanya ”hidup”. Sampai- sampai mengatakan, hidup, epen ka?. Kita merasa tidak sadar bahwa sebenarnya kita sedang meniadakan hidup. Membiarkan hidup itu berlalu begitu saja. Dan pada saat ini saya mengatakan wajarlah karena saya dan kita semua telah termakan oleh yang namannya globalisasi, weternisasi, maupun modernisasi (silakan baca dan pahami lagi materi lain atau materi karya ilmiah saudara titus pekei pada saat natal sejawa bali di semarang 2008).

”Hidup, epen ka?” merupakan ungkapan yang kerapkali diungkapkan oleh manusia papua. Saya dan kita semua. Ini adalah sebuah ungkapan tren pada saat- saat ini. Yang mengartikan secara bahasa indonesia bahwa hidup ini memang pentingkah. Lebih bagus lagi bila orang yang mengerti dengan tujuannya yang baik mengatakan, ”hidup, yapen to”.Artinya, hidup itu memang penting. Penting diwujudkan dan penting di akhiri.

Hidup, epen ka? Merupakan ungkapan dari papua. Namun, Ungkapan pemuda dan remaja yang berkembang di kota jakarta saat inipun mengatakan, ” hidup, emannya gue pikirin?” dan kadang- kadang mereka menambahkan juga, ”hidup, siapa sich loe?”, inilah sebenarnya masyarakat jakartapun secara tidak sadar meniadakan yang namanya hidup. Membuat diri dengan kesibukan- kesibukan yang tidak jelas, tanpa bersyukur terhadap hidup itu. Dan, bahkan hal ini telah membudaya di maryarakat kita sekarang. Entah, dari papua ataupun lainnya. Entah, kaum konglomerat maupun masyarakat biasa.

Apalagi bila ungkapan seperti ”hidup, emangnya gue pikirin”, dan ungkapan sejenisnya diungkapan oleh masyarakat batak, maluku, kupang, seluruh wilayah indonesia Timur, ataupun papua yang menurut orang luar( orang) mengatakan, lucu. Lucu karena logat daerahnya masih kental. Benar. Lucu karena memang itu bukan budaya kita. Kita harus membendungnya dari sekarang.

Dalam proses hidup ini, Saya secara pribadi menyakini bahwa saya lagi berada di gurun, lagi di benua, artinya masih dalam perjalanan. Saya meyakini bahwa saya harus melawan tantangan yang ada di gurun, yang ada di benua, yang ada dalam perjalanan hidup saya. Hanya saja, saat di gurun, saat di benua, saat dalam perjalanan, saya pasti akan terkecoh. Tetapi, Apakah saya akan bangkit lagi untuk memangul salib bersama kristus? Inilah yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi saya dalam proses pencarian rahasia ilahi.

Mungkin itu, pembahasan dari saya. Hai, sahabat muda, mari kitorang membendung pola pikir kita yang berantakan dengan memanfaat peluang hidup yang ada dengan kegiatan yang sangat mendukung. Yang intinya membagun dan membesarkan kemuliaan Allah. Bukankah, hal ini adalah proses dari menabung yang kemudian nantinya kita akan menuai kelak.

Para sahabat- sahabat muda yang berbahagia, sebelum saya mengakhiri dari apa yang saya bagikan kepada anda semua. Saya ingin tekankan lagi bahwa hidup ini singkat. Hidup ini hanya untuk sementara. Mari kitorang pergunakan dengan sebaik munkin hidup itu. Karena kita tahu di alkitab bahwa ada Alfa dan Omega. Mari berkarya melayani Tuhan sebagai proses dari menabung untuk menuai kelak.