Sebelum membahas lebih jahu, saya
meminta permisi kepada anda untuk membagi apa yang saya miliki. Walaupun, saya
bukan seorang Pastor, bukan seorang Pendeta, bukan seorang Ustadz, ataupun
lainnya yang ingin membagi dan ataupun mewartakan apa yang dimilikinya. Tetapi
saya hanyalah seorang awam yang ingin mensyaringkan apa sebenarnya hidup itu.
Umat nasrani
menyakini dari firman Tuhan bahwa hendaklah kamu menjadi pelaku firman, jika
tidak demikian maka kamu menipu diri sendiri.Ayat ini yang menjadikan saya
berani untuk membagi apa yang saya miliki kepada anda.
Nah, bila demikian. Saya
ingin bertanya kepada anda. Apa arti hidup bagi anda? Mengapa kita hidup? Dan
bagaimana mewujudkan hidup itu? Saya secara pribadi yakin bahwa anda semua
pastilah punya jawaban yang berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini
dikarenakan, kita memiliki motivasi hidup yang berbeda.
Bila
membahas lebih jahu, secara filsafat sebenarnya hidup berbicara mengenai
relasi. Rerasi secara umum. Bagaimana relasi saya dengan Tuhan? Bagaimana
relasi saya dengan sesama saya yang lain?
Anda
semua tahu bahwa hidup itu telah diuraikan dalam alkitab. Ungkapan yang tidak
asing lagi di telinga kita yakni Alfa dan Omega. Sebuah kata yang berasal dari
bahasa yunani. Yang memberikan garis pemahaman mengenai hidup. Hidup yang harus
dipersiapkan di awal, dan menikmati hasil di akhir. Tetapi, kepada anda baru
mendegar istilah ini, saya akan membagi sesuai pemahaman saya.
Pasti
sebagian dari anda sedang bertanya, apa sich arti Alfa dan Omega? Alfa artinya
awal. Omega artinya akhir. Dan, anda masih penasaran bahwa bila ada awal dan
akhir pasti ada tengahnya. Ya, benar. Alfa dan Omega ingin mengambarkan seluruh
pengabungan proses di awal, tengah maupun akhir. Di awal sebagai masa
persiapan, di tengah sebagai masa berkarya/melayani, di akhir sebagai masa
menuju kemenangan. Namun, masa tengah ditentukan oleh masa awal. Dan masa akhir
di tentukan oleh masa awal dan tengah. Dan, akhir, tinggal menunggu masa
kemenangan. Namun, Alfa dan Omega juga bertentangan dengan teologi
golongan Trinitarian. Tetapi inilah pemahaman singkat.
Awal
dan akhir bukanlah sebuah garis linear yang hanya dilihat dengan kasat mata,
yang menyatakan dimana titik A dan dimana titik B, namun ini adalah perjuangan
kemenangan kekal. Hidup kita adalah kumpulan dari perjuangan yang hanya untuk
sementara. Dan, memang itu semua merupakan bagian dari perjuangan kekal itu.
Jadi, sekali lagi saya tekankan bahwa hidup merupakan pengabungan dari proses
untuk kemenangan kekal yakni kemenagan dalam kristus.
Supaya
logika berpikir kita terbuka, saya akan menganalokan dari proses keseharian
kita. Sebagai contoh, seorang pelari. Seorang pelari sebelum berlari pastilah
ia akan mempersiapkan apa- apa yang berkenaan dengan berlari. Misalnya, latihan
berlari, dan lain- lain. Kemudian, saat berlari, seorang pelari itu tinggal mempraktekan
dari segala persiapan di awal. Dan, kemudian di akhir tinggal menikmati
hasilnya. Hasilnyapun tergantung, semua persiapan di awal dan saat aplikasi di
tengah. Inilah serangkaian proses dari seorang pelari apakah telah sungguh –
sungguh atau tidak.
Begitu
juga, dengan masalah papua. Kita mengetahui, kita mendengar, kita terespon, kita
melihat bahwa saudara kita, mama kita, tante kita, nenek kita, tete kita, telah
dan sedang mengalami penindasan, penganiyayaan, pemerkosaan, penterorran dan
bentuk ketidakadilan lainya oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab.
Sekarang, kembali ke kita bahwa apa yang kita persiapkan di awal, di tengah
maupun di akhir. Inilah pertanyaan terbesar buat kita? Sebagai langka awal
menuju kemenangan sementara.
Saya ada pengalaman.
Saya yakin anda juga pasti memunyai pengalaman dalam berbagai kegiatan. Saya
setelah ujian nasional maupun ujian sekolah tahun 2007 dari kolese lecocq
D’Armandville( SMA adhi luhur) nabire. Sebuah kolese yang termasuk kedalam
yayasan tillemans. Tilemans merupakan seorang pastor pertama yang telah
berkarya di pedelaman papua. Lebih tepatnya di Mapia, Kamu, Tigi dan Enarotali.
Setelah ujian itu, kami diberi rekoleksi yang merupakan program tahunan oleh
kolese lecocq D’Armandville. Sebuah pembekalan yang diberikan oleh kolese
lecocq untuk saya dan teman- teman saya. Agar saya dan teman- teman berani
dalam menjalani hidup sebagai mahasiswa dan lainnya. Namun, sekarang tergantung
saya dan teman- teman saya,, apakah itu teraplikasi dengan baik atau tidak?
Inilah yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi saya.
Saya sebagai suku mee
dari ras melanesia biasa dianalokan oleh orang tua saya bahwa sebuah
kebehasilan mutlak yang didapatkan ibarat kita pergi berburu di hutan
belantara. Persiapan di awal, aplikasi ditengah, maupun hasil yang didapat.
Dengan konsekuensi resiko alam yang ganas yang nantinya akan berhadapan dengan
Jurang, Tebing, Sungai, Lembah, Siang dan Malam yang telah bergandeng menjadi
satu. Inilah sebenarnya pemahaman demi keberhasilan sementara maupun kekal.
Untuk mencapai keberhasilan, harus membayar harga, Haruslah melawan tantangan
demi menuju kemenangan.
”Hidup,
epen ka?”
Pada
saat saman sekarang ini kita mengabaikan yang namanya ”hidup”. Sampai- sampai
mengatakan, hidup, epen ka?. Kita merasa tidak sadar bahwa sebenarnya kita
sedang meniadakan hidup. Membiarkan hidup itu berlalu begitu saja. Dan pada
saat ini saya mengatakan wajarlah karena saya dan kita semua telah termakan
oleh yang namannya globalisasi, weternisasi, maupun modernisasi (silakan baca
dan pahami lagi materi lain atau materi karya ilmiah saudara titus pekei pada
saat natal sejawa bali di semarang 2008).
”Hidup, epen ka?”
merupakan ungkapan yang kerapkali diungkapkan oleh manusia papua. Saya dan kita
semua. Ini adalah sebuah ungkapan tren pada saat- saat ini. Yang mengartikan
secara bahasa indonesia bahwa hidup ini memang pentingkah. Lebih bagus lagi
bila orang yang mengerti dengan tujuannya yang baik mengatakan, ”hidup, yapen
to”.Artinya, hidup itu memang penting. Penting diwujudkan dan penting di
akhiri.
Hidup, epen ka?
Merupakan ungkapan dari papua. Namun, Ungkapan pemuda dan remaja yang
berkembang di kota jakarta saat inipun mengatakan, ” hidup, emannya gue
pikirin?” dan kadang- kadang mereka menambahkan juga, ”hidup, siapa sich loe?”,
inilah sebenarnya masyarakat jakartapun secara tidak sadar meniadakan yang
namanya hidup. Membuat diri dengan kesibukan- kesibukan yang tidak jelas, tanpa
bersyukur terhadap hidup itu. Dan, bahkan hal ini telah membudaya di maryarakat
kita sekarang. Entah, dari papua ataupun lainnya. Entah, kaum konglomerat
maupun masyarakat biasa.
Apalagi bila ungkapan
seperti ”hidup, emangnya gue pikirin”, dan ungkapan sejenisnya diungkapan oleh
masyarakat batak, maluku, kupang, seluruh wilayah indonesia Timur, ataupun
papua yang menurut orang luar( orang) mengatakan, lucu. Lucu karena logat
daerahnya masih kental. Benar. Lucu karena memang itu bukan budaya kita. Kita
harus membendungnya dari sekarang.
Dalam proses hidup
ini, Saya secara pribadi menyakini bahwa saya lagi berada di gurun, lagi di
benua, artinya masih dalam perjalanan. Saya meyakini bahwa saya harus melawan
tantangan yang ada di gurun, yang ada di benua, yang ada dalam perjalanan hidup
saya. Hanya saja, saat di gurun, saat di benua, saat dalam perjalanan, saya
pasti akan terkecoh. Tetapi, Apakah saya akan bangkit lagi untuk memangul salib
bersama kristus? Inilah yang menjadi pertanyaan tersendiri bagi saya dalam
proses pencarian rahasia ilahi.
Mungkin itu,
pembahasan dari saya. Hai, sahabat muda, mari kitorang membendung pola pikir
kita yang berantakan dengan memanfaat peluang hidup yang ada dengan kegiatan
yang sangat mendukung. Yang intinya membagun dan membesarkan kemuliaan Allah.
Bukankah, hal ini adalah proses dari menabung yang kemudian nantinya kita akan
menuai kelak.
Para sahabat- sahabat
muda yang berbahagia, sebelum saya mengakhiri dari apa yang saya bagikan kepada
anda semua. Saya ingin tekankan lagi bahwa hidup ini singkat. Hidup ini hanya
untuk sementara. Mari kitorang pergunakan dengan sebaik munkin hidup itu.
Karena kita tahu di alkitab bahwa ada Alfa dan Omega. Mari berkarya melayani
Tuhan sebagai proses dari menabung untuk menuai kelak.