Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Desember 2010

Ekspresikan trus, Kawan …!!!


Dari kejahuan kudengar. Pagi itu, hape bermerk nokia telah berdering. Tanda ada beberapa pesan masuk.

“met HUT kemerdekaan Papua Barat”, kata adik yang saya kenal diseberang.
“terima kasih dikku, met HUT Papua juga” jawabku cepat.
“Selamat atas kemerdekaan Papua Barat pada 1 Desember 2010 yang ke - 49”, kata orang lain yang ada diseberang.
“terima kasih juga yah, atas sms ini” jawabku lagi.
“merdeka bangsaku, jayalah negeriku untuk pembebasan” kata sms lainnya.
“thanks”, ucapku.

Dari sms ini saya ingat cerita masa lalu, pada, pace Brigjend Seth Yafet Rumkorem di wilayah markas Victoria . Dia memproklamirkan kemerdekaan Papua Barat, walaupun Indonesia mengatakan papua adalah Negara boneka buatan Belanda. Pernyataan kemerdekaan papua tidak berlansung lama karena Indonesia melalui militer mengambil ahli kekuasan wilayah Papua Barat kedalam Indonesia.

Sekaranglah saatnya, Sebagai bukti bangga pada tanah papua. Saya pun bergegas membuat sms yang mengatakan selamat hari kemerdekaan bagi bangsa Papua kepada beberapa teman. Mereka pun ucapkan terima kasih. Bagiku, karena kita sudah pernah merdeka. Walaupun sampai saat ini belum ada pengakuan dari RI.

Tentu ini melahirkan kebebasan berpikir oleh orang- orang Papua atas semua ketidakadilan yang terjadi. Namun, beberapa hari belakangan ini, pemerintah RI lewat kaki tangannya selalu mengangu dan menghalangi naluri protes dan kebebasan anak Papua dengan menghadang tanpa hukum yang jelas. 

Biasanya, bentuk kebanggaan bagi bangsa Papua sudah tentunya mengumandangkan lagu kebangsaan “ hai tanahku papua”. Namun, bagi pemeritahan RI, menamakan ini adalah bentuk separatis.

Walaupun, symbol- symbol yang berkenaan dengan Papua diperbolehkan oleh Gusdur .Namun, orang- orang yang muncul ditengah, selalu menjadi penghalang bagi kebebasan berekspersi anak- anak Papua. 
Tahun 2004, Filib Karma tampil untuk menyuarakan hak sebagai anak negeri papua, dengan mengibarkan bendera bintang kejora di Biak, namun dianggap makar. Begitupun, antara Fillip Karma dan Yusak Pakage yang mendemontrasikan haknya namun masih disebut sebagai makar. 

Todius Tabuni terbunuh tanggal 9 agustus di Wamena merupakan bukti penghadangan dan penghalangan oleh pemerintahan RI melalui senjata utamanya militer. Tapol- Napol Papua di Abepura Papua merupakan bukti juga bahwa RI masih saja menghadang kebebasan berekspresi dari anak- anak papua. 

Aksi yang pernah dipimpin oleh Muchtar Tabuni saat itu, agar menuntaskan kasus Todius Tabuni, tak ada berujuk pasti yang ditemukan. Kebebasan ekspresi anak- anak negeri Papua dijadikan sesuatu yang ditendang tanpa arah dan tujuan. Malah, kebebasan ekspresi anak- anak Papua dijadikan sebagai bola pimpong yang hanya dilempar kesana- kemari. 

Dari kebebasan berekspresi itu, semua adalah dianggap sebagai bentuk separatis. Ada kisah, awal bulan Juli tanggal 4 Juli Solidaritas Perempuan Papua (SPP) dianggap sebagai organisasi separatis. Oleh karena itu, Abina Wasanggai, Sp.d selaku sekertaris umum membantah atas isu tersebut.
Kisah lain, saat pengibaran bendera 28 juli 2006 di kantor distrik Sentani, Yakob Ambo Mamori yang berusia 25 tahun diperiksa di rumah sakit jiwa. Kepolisian polres Jayapura, mengatakan bahwa Yakob sakit jiwa. 

Itulah mereka ( RI) dan antek- anteknya. Ada kesan bahwa, mereka hanya memberikan nama dari tindakan anak negeri papua, walaupun dianggap tidak logis sekalipun. Dibilang makar, dibilang cacat mental, dibilang organisasi separatis dan lainnya.

Sengaja dibuat saja untuk menghadang kebebasan ekspresi dari anak- anak papua. Lihat saja, wartawan dilarang masuk ke Papua. Apalagi berbicara soal wartawan luar negeri. Masih tetap dilarang. Sekalipun ada, mungkin butuh proses yang sangat ketat. 

Saya bersyukur kepada ketiga anak- anak negeri papua yang sms saya tadi. Ternyata mengigatkan saya pada hari kemenangan bangsa Papua Barat. Saya bersyukur, karena mereka mengekspresikan hari kemenangan itu.

Syukur, syukur saja karena tadi mereka bisa sms. Syukur sobat- sobatku, karena sobat telah mengekspresikan apa yang menjadi bagian anda. Selalu berekspresi trus yah, kawan, walau ditolak sekalipun.


Rabu, 17 November 2010

Adakah cerita lain dari Obama?

Obama can not speak with us about criminal in west papua, why?



Pidato telah dimulai. Dipanggung telah terpampang jelas bendera kedua negara. Antara Indonesia dan Amerika. Obama telah naik ke panggung yang berbentuk persegi panjang. Obama telah berpidato cukup panjang.
“Pulang kampung deh”, kata obama dalam pertengahan pidato . Para hadirin berteriak ria gembira dari ruangan Depok, Universitas Indonesia (UI). Mungkin ini bagi hadirin adalah lelucon. Teriakan para hadirin, cukup membuat obama lebih energik lagi dalam berpidato. Menurut obama, Ini hanya proses pendekatan kekerabatan. Menandakan obama dapat berbahasa melayu. Seperti sejak kecil di Indonesia.

Obama cukup piawai, dalam membawakan pidato di Depok UI. Sangat energik dan antusias. Ruangan penuh manusia yang mendegarkan pidato obama. Ada yang datang, ada yang sengaja lewat hanya ingin mengabadikan gambar Obama.

Masyarakat Indonesia merasa senang melihat sosok Obama datang, agar mendegarkan ceritera yang pernah ada. Apalagi hikayat negeri pamansam. Ataupun menceritakan segumpal cerita yang pernah ada di negeri nusantara yang dia kenal.

Nusantara, itulah yang saya pernah kenal, dalam beberapa tahun belakangan.
Dalam beberapa literatur, kata nusantara hanyalah ungkapan penyatuan. Wilayah yang berada antara dua benua dan dua samudera. Nusantara hanyalah symbol penyatuan, symbol keindonesiaan.

Kerajaan majapahit telah lewat. Sumpah palapa telah berlalu, namun menjadi symbol penyatuan. Nasionalisme keindonesiaan digelar seluruh tanah air. Di aceh misalnya, setiap rumah makan atau setiap tempat- tempat penting selalu bertuliskan, “ sabang- merauke”. Lain hal di papua, ada tulisan “gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Ada juga “ NKRI harga mati”. Tulisan- tulisan seperti ini banyak dijumpai di beberapa tempat umum. Apalagi kata “ NKRI harga mati” jelas sering di jumpai di markas tentara.

Nasionalisme Indonesia masih berlanjut. Namun, bagi aceh, Maluku, papua dan daerah konflik lainnya, merasakan hal yang berbeda dari nasionalisme Indonesia ini.

Ungkapan “ NKRI harga mati” adalah tentu melihat gerakan separatisme yang sedang berlansung. Yang sering disebut adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk papua. Indonesia masih menekankan pada kebinekaan. Tetapi, papua merasa berbeda.
Kehadiran sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928, menjadi sejarah paling penting bagi bangsa Indonesia. Dengan menekankan bahwa punya bahasa yang satu, punya bangsa yang satu dan punya tanah air yang satu.

Papua tentu tetap merasa berbeda. Dengan itu, papua memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 1 desember 1961 oleh Brigjend Zeth Rumkorem bersama rekan- rekanya. Namun, Indonesia masih bersikeras untuk tetap merebut papua dari tanah papua, atas perjanjian New York Agreement. Amerika dan Belanda menyerahkan papua kedalam pangkuan Indonesia.
Tentu tidak terlepas dari semua kepentingan. Kepentingan Amerika berhasil mendatangkan perusahaan Freeport. Freeport adalah salah satu kolonisasi di Papua. Selain penteroran dan penganiayaan lain.

Selain Freeport, kasus papua berdarah adalah bukan lelucon. Entah, biak berdarah, wamena berdarah, AB berdarah, Nabire berdarah, Merauke berdarah, waghete berdarah dan lainnya di seluruh tanah papua adalah bukan lelucon.

Tentu pelakunya adalah TNI/ Polri. Operasi garuda, operasi serigala, operasi lumba- lumba adalah sebagian dari jenis operasi yang sempat dilancarkan oleh TNI/POLRI. Operasi yang dilakukan di darat maupun laut.

Manusia mamangsa sesama manusia. Manusia papua yang tidak berdosa menjadi korban kekerasan. Contohnya, video kekerasan kemarin yang beredar terhadap pendeta kindeman gire yang dibunuh dan temannya yang melarikan diri, hanyalah sebagian kecil pelanggaran HAM yang terutama dilakukan TNI dan bahkan POLRI. Penganiyayaan, penteroran, peyiksaan, permerkosaan adalah kegiatan yang tidak pernah jahu dari TNI/ polri.

Kedatangan obama merupakan, saat yang ditunggu- tunggu. Pidato di Depok UI, adalah moment penting bagi obama kembali dengan ceritera lain, salah satu adalah mengenai persoalan papua. Sebagaimana, sejak kecil Obama dengan cerdiknya menanyakan nasib kekerasan bagi bangsa New guinea, sekarang papua, kepada ayah tirinya, Lolo Soturo saat itu.

Obama bertanya kepada ayah tirinya, "Apakah Anda pernah melihat seorang laki-laki dibunuh?", Lolo terkejut dengan pertanyaan itu.
"Apakah Anda pernah melihat?”, tanya Obama lagi.
"Ya."
"Apakah itu berdarah?"
"Ya."
Obama berpikir sejenak. "Mengapa orang itu dibunuh?"
Lolo menjawab, "Karena ia lemah. Orang lemah harus dimamfaatkan. Ketika laki- laki dan perempuan lemah, maka perlu dimamfaatkan "Lolo berhenti., Lalu bertanya kepada anak tiri yang masih muda (Obama)," Mana yang Anda lebih suka? , tentu anda harus kuat.” Tambah Lolo Sutoro

Adapun lelucon lain Obama di Depok UI, “soto”, “bakso”, itu adalah kata-kata lain yang sempat dilontarkan oleh obama. “Indonesia adalah bagian dari saya”, tuturnya lagi. Tentu ini menjadi lelucon bagi hadirin saat itu. Dengan berbahasa melayu yang terbata- bata.

“Indonesia adalah bagian dari saya”, menurut obama. Bagiannya yang jelas, tentu ada Freeport yang berkat kerja keras Jhon F Kennedy, saat itu. Kontra kerja Freeport telah diberlakukan tahun1967, selain itu, pepera yang diberlakukan di berbagai kota di tanah papua tahun 1969. Freeport telah ada sebelum pepera.

Pepera cacat hukum, merupakan tuntutan awal yang selalu diteriakkan oleh seluruh aktivis papua. Ada ceritera bahwa, pepera dilakukan atas tekanan militer RI.

Ali Murtopo tampil sebagai komandan Operasi Khusus (OPSUS), dengan masyarakat ditekan untuk memilih Indonesia. Dr. Fernando Ortiz sanz, menyesalkan kerja Indonesia dalam mempersiapkan Pepera.

Ortiz sanz merasa menyesal dengan beberapa pasal di dalam New York Agreement, yaitu,pertama, pasal XXII (22), tentang hak- hak dan kebebasan orang papua. Kedua, pasal XVII (18) tentang system “ satu orang satu suara” sesuai praktek internasional. Ketiga, pasal XVI (16), tentang PBB berhak penuh atas pengawasan dari persiapan, hingga penghalian papua barat secara administrative.

Namun, Indonesia telah membangun kekuatan dulu untuk mengambil ahli papua. Kerja- kerja militer di seluruh tanah papua. Walau Ortiz sanz telah tiba di papua barat bulan Agustus 1968, namun hanya timbul penyesalan karena secara pribadi mendapat tekanan ganda. Dengan, akar masalah Freeport yang telah masuk lebih dulu.

“ Obama semestinya harus mewacanakan masalah papua. Bukan malah menutub persoalan- persoalan papua seperti pelanggaran HAM, Genosida, dan terkait otonomi khusus. Masalah criminal yang dilakukan militer Indonesia secara sistematis ”, Kata saya. Seperti proses hearing yang dilakukan oleh tujuh orang aktivis papua, satu orang dari human right watch dan satu orang pakar sejarah dari Belanda.

“ Indonesia ini bicara lain, pikir lain, lakukan lain” kata neles tebai, selaku teolog sekaligus pengajar di STFT fajar timur, dalam buku Heboh Papua. Benar ketika kebenaran di abaikan. Keadilan diabaikan.

“Dengan senyum yang lebar , tentu Obama masih meninggalkan cerita- cerita lain di indonesia” kata saya.

Obama memang orang yang cerdik. obama sangat menghargai dalam bersalam dahulu. Obama dia mencoba untuk mengindonesiakan diri. Walaupun obama masih belum paham bahasa melayu sepenuhnya. Dia menebak- nebak kata sebagai bagian kekerarabatan dengan Indonesia. Obama hanya mencoba melakukan itu, saat di Depok UI. Tidak ada cerita lain apalagi tentang papua.

Obama menghakiri pidato dengan tenang dan cukup menyakinkan. Informasinya hanya sebatas hubungan kedua Negara. Tidak ada cerita lain, seperti HAM dan lain- lain. Dia melambaikan tangan kepada para hadirin. Kedepan. Kesamping. Keatas. Pergi juga dengan tenang, atas kawalan anak buah. Dia meningalkan ruangan itu.

kini, obama telah pergi. Kembali ke negeri adikuasa. Dua puluh dua setengah jam merupakan waktu yang cukup bagi obama di Indonesia. Dari ceritera ke ceritera dalam beberapa jam itu telah usai. Namun, hanya sebatas memperbaiki hubungan kerja kedua Negara.

“masih adakah cerita- cerita menarik lain yang belum diceritakan oleh seorang obama? masih adakah ceritera yang tertinggal di indonesia untuk perlu diceriterakan lagi?”, ungkapku.




Rabu, 04 Agustus 2010

A PART I OF MY LIFE: Jalan Pagi Sehat.


Tadi pagi, kami bagi tugas. Saya dan Nato Tebai pagi- pagi kira- kira jam 9 keluar untuk sebarkan proposal untuk persiapan buat turnamen dalam rangka mencari dana. Asik yak, karena sebagai bagian dari belajar. Kegiatan yang akan di adakan oleh se komunitas di kota studi bogor. Turnamen yang diadakan untuk mengundang teman- mahasiswa dari kota studi lain.

Ini mengigatkan saya di SMA Adhi Luhur. Saya teringat dengan Romo Bei. Romo Bei ini sangat senang dengan kegiatan seperti kemping rohani maupun kegiatan jalan- jalan.

Waktu itu, Romo Bei, dia sebagai Frater sebelum kursus alkitab di Thailand, dan menlanjutkan studi di Teologi Filsafat Dryakarya Jakarta. Awalnya di Adhi Luhur ini, dia buat kegiatan jalan ke Dokar. Artinya jalan- jalan ke mata air, jalan kaki, dan balik pun jalan kaki. Dan tempat itu kira- kra 5 kilo meter dari Adhi Luhur. Adhi Luhur ini merupakan salah satu kolese Jesuit dalam pembebasan pendidikan. Dan juga ini merupakan salah satu dari kolese Jesuit yang ada di indonesia dan di Papua adalah salah satunya.

Sebelum kedokar itu kita di suruh persiapkan segalanya untuk pembambilan nilai agama. Karena Frater Bei (sekarang Romo Bei) merupakan guru agama di Kolese yang termasuk kedalam Yayasan Tiellmans Papua.

Dari situlah saya mengenal banyak teman dari berbagai daerah. Karena saya ini merupakan siswa baru dari Pedelaman Papua. Kota kecil peningalan Belanda dalam beberapa tahun silam. Belanda yang dibilang bagus oleh seluruh warga Papua dibangding pergaulan dengan Indonesia. Indonesia yang selalu lempar batu sembunyi tangan. Dibilang peduli padahal tidak peduli terhadap dirinya sendiri.

Jujur. Saya waktu datang dari pedelaman kota kecil Waketei ke Nabire itu , saya tidak bisa berbicara berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bicara pun menjadi kaku. Dan, akhirnya pergaulan saat itu membuat saya agak tertutup. Tidak leluasa seperti teman- teman lain dari kota nabire.

Saya masih ingat kata- kata yang itu saya kasih keluar, kemudian menjadi tertawaan bagi banyak orang. Saya bilang sama adik Denis Badii, saat kita lagi petik Sayur di Kebun. Waktu itu, ada mamade bilang sama saya untuk harus datang ambil sayur yang telah dipetik mamade. Saya bilang, Denis, dorang bilang bagaimana? ....


Pokoknya waktu itu, berbasa- basi, dorang....kitorang,....dan lain- lain.

Saat kita ke dokar pun sama. Karena memang masih baru sehingga saya bicarapun masih berbasa- basi.

Waktu itu, Frater suruh kami untuk berbaur sesama teman agar kenal satu sama lain. Tapi, memang waktu itu saya masih ragu untuk bergaul dengan teman- teman dari kota. Teman- teman kota yang waktu itu saya ajak bicara itu hanya sama saudara perempuan yakni Yuliana Pekei, yang sekarang masih di nabire.

Ketika saya salah bicara, saudara Yuli Pekei yang membela saya. Tapi, dengan berjalannya waktu akhirnya, saya bisa juga untuk berbahasa Indonesia. Saya kira, kita lebih mahir berbahasa indonesia di banding teman- teman Jakarta ataupun lainnya. Saya yakin itu sesuai buku yang di tulis Fredi Numbery dan beberapa diskusi bersama teman- lain dari daerah lain.

Setelah dari kegiatan dokar, di lanjutkan dengan kegiatan kemping. Kegiatan kemping yang dilaksanakan di lapangan Adhi Tama atau sekarang lapangan Persinab atau lapangan Adhi Putra. Dilapangan Adhi Luhur ini kita buat 20 tenda. Dari kegiatan ini, selain kegiatan yang berkaitan dengan religius, kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah kunjugan ke kantor untuk kerja.

Awalnya kita dirusuh jangan makan. Tapi cari makan di kantor dengan minta bantu kerja di kantor. Entah sapu- sapu, entah mengetik, entah babat rumput, atapun kerja apa yang halal.

Sebelum berangkat ke kantor, kami di bagi kelompok menjadi 25. kalau tidak salah, saya dapat kelompok 15. kita punya ketua kelompok itu, Mira Kobogau. Mira Kobogau ini, badanya besar, dan tinggi kira mendekati badan normalnya anak- anak Paskibra. Dan memang Mira Kobogau ini sempat ikut paskibra saat kita kelas 2 di adhi luhur.

Setelah itu, kita pergi melewati jalan merdeka. Pertama kami masuk di perusahaan Telkom. Disana kita pergi temui bapak yang disitu. Akhirnya kami diperbolehkan untuk kerja bakti di samping rumahnya. Rumputnya tidak terlalu tinggi karena, setiap saat di potong dengan mesin potong. Saat itu, kita hanya meratakan rumput itu saja. Kelompok kami terdiri dari 10 orang.

Setelah kami kerja bakti, kami disuruh makan. Kemudian kami dikasih 200 ribu rupiah. Sebenarnya kami harapkan adalah 200 dolar sebagai harga ganti rugi PT freeport, yang status hukumnya tidak jelas. Tapi gitulah karena masuk dalam rupiah.

Syukur. Kami bagi 20 ribu untuk satu orang. Kemudian kami lanjutkan ke kantor lain. namun, kami tidak di terima karena, tidak ada kerjaan yang bisa diselesaikan.

Akhirnya, sampailah kami mendekati pada waktu yang ditentukan oleh Romo Bei. Karena begitu, kami makan bakso yang ada didepan gedung putih nabire ( kantor kabupaten nabire).

Dari situlah saya belajar kunjungan ke kantor untuk berbagai urusan. Artinya, saya baru kenal untuk hal ini. Jelas, saya hanya kenal, dunia anak yang ada di kota kecil peningalan belanda itu. Misalnya, permainan tradisonal yang sudah dikenal.

Melihat itu, Saya tidak tahu tapi nato tebai sudah siapkan motor king di depan kontrakan untuk sebarkan proposal di seluruh kota Bogor. Setelah saya sama Nato siapkan tujuh proposal. Satu proposal kita kasih ke gedung seni dan budaya IPB. Gedung megah yang di miliki oleh IPB. Dari sarana olahraga inilah akhirnya IPB menerima penghargaan dari menpora dari SBY jilid 1, bahwa IPB merupakan kampus prima. Keprimaannya selalu menjadi perdebatan ketika harga sewa sarana olahraga naik. Namun, sekarang sudah harga standart.

Saya dan Nato masuk ke Gymnasium untuk menyerahkan sebundel proposal yang telah dikreasikan oleh teme- teman sekomunitas Bogor itu. Saya dan dik Nato diterima duduk oleh salah satu penerima arsip itu. Karyawan itu badannya tinggi. Kira- kira mencapai 2 meter. Entah kenapa saya tidak tahu tapi memang dia punya tinggi begitu. Bila dilihat dari wajahnya, tampaknya orang jawa. Entah jawa tengah atau jawa timur dan bukan asal jawa barat atau daerah pasundan. Daerah yang punya ciri khas tersendiri ini.

Daerah pasundan ya daerah pasundan. Daerah yang kalau tidak salah, nasibnya hampir sama yang dirasakan di papua.

Bapak karyawan setelah ambil proposal itu. Ia periksa sesuai perizinan kami. Dan, setelah kami lihat, maka jumlah uang yang kami harus bayar adalah 520.000 rupiah. Saya Kira kurang untuk stándar obama. Stándar obama yang sudah dan sedang mensetafet perusahaan raksasa PT Freeport, terekayasa dan CACAT HUKUM didepan mata ini. Semoga saja kalau datang ke indonesia. Ia dapat mengulanggi pertanyaan yang sempat diajukan sama ayah tirinya saat di menteng jakarta. Bagaimana dengan kabar kondisi papua ( dahulunya ia sebut: warga new guinea)

Tapi, jumlah uang yang dibilang pak karyawan, bagi kami merasa harus lobi lagi dengan baik untuk hari berikutnya.

Saya dengan adik Nato Tebai melanjutkan perjalanan lagi. Yang menjadi saksi bisu hanyalah motor king yang lajunya melebih motor lainnya. Sampai adik Nato , menancap gas demi terselesainya tugas yang diberikan teman- teman.

Tapi gila choy, saya cari alamat proposal yang dituju. Sampai saya dengan adik Nato bolak- balik sepanjang jalan baru, jalan padjajaran dan jalan djuanda. Saya Kira nama jalan yang menyimpan sejuta cerita bagi masyarakat pasundan. Entah mengenai pajajaran, entah juanda, ataupun lainnya. Apalagi melihat gedung WHITE HOUSE ( ISTANA BOGOR) yang dimiliki masyarakat bogor, lebih umunya warga pasundan yang menyimpan sejuta cerita.

Akhirnya, selesai juga penyebaran proposal. Dan, tersisa satu buah proposal.

Saya dan dik Nato sempat ke alamat yang ditulis oleh teman- teman. Namur, salah tulis alamatnya. Yang sebenarnya jalan Raya Tajur, ditulis Jalan Baru. Wah, tambah tugas lagi untuk diselesaikan di hari berikutnya.


Kemudian, kami dua pulang kembali. Kembali ke basecamp untuk berkumpul lagi bersama teman- teman. Berkumpul seperti beberapa tahun silam, yang dilakukan orang tua dulu, hidup dalam kebersamaan.

Hari berikutnya, saya kaget bangun ketika dik Nato sedang membangunkan saya. Karena, saya tidur pulas di kamar. Nato bilang kak, bagun untuk persiapan. Tapi, saya masih ngatuk untuk tidur. Saat dik Nato menanyakan alamat proposal yang ingin ditujupun saya menjawabnya dengan terbata- bata. Pokoknya, gituhlah karena gantuk punya permainan.

Saya tidur lagi. Nato lanjutkan print satu proposal lagi untuk tambahan. Dan sekalian dia persiapan surat- surat lainnya.

Kira- kira pukul 10 pagi saya dengan Nato pergi gunakan motor yang selalu menjadi teman setia itu. Akhirnya, berhadapan juga dengan macet di sekitar BBS. Tapi saya hanya berdoa agar tidak macet untuk negara ini, tidak macet untuk perintahan ini. Tidak macet untuk birokrasi ini, tidak macet bagi hak- hak aceh, tidak macet untuk hak- hak pasundan, tidak macet untuk masyarakat borneo, tidak macet untuk rakyat timor barat (ntt), tidak macet untuk maluku, apalagi bagi papua.

Bila memang yang terlihat adalah demikian maka, benar yang dikatakan guru besar UGM ini, Amien Rais bahwa, negara ini ibarat negara yang masih menunjukan pagarnya saja, padahal dalam rumahnya berantakan. Inilh kritikan tajam yang ditulis oleh bapak Amien Rais dalam bukunya ”Agenda Mendesak Bangsa”.

Saya dengan Nato tiba di depan PT SINAR SOSRO. Saya menyerahkan proposal ke bapak satpamnya karena bagian umum yang menangani bagian proposal lagi keluar. Kami diberikan nomor kontaknya. Kami diberitahu untuk besok dihubungi. Saya ambil nomor itu, dan kami dua lanjutkan perjalanan lagi.

Alamat yang dituju selanjutnya ini, saya maupun dik Nato tidak tahu. Sehingga saya dengan dik hanya mengandalkan modal tanya dijalan. Kira- Kira beberapa kali kami menanyakan alamat jalan Raya Tajur ini. Tempat yang kami dua sedang tuju di PT COCA- COLA.

Dari depan pagar gapura masuk saya kasih keluar proposal itu, ternyata alamat yang dituju salah tulis. Padahal, sebelumnya juga, salah alamat dan tidak sempat untuk kasih ke pihak perusahaan yang dituju.

Ternyata dik Nato salah dengar. Karena mengatuk dan terbata-batanya saya membuat dik nato salah dengar dan salah kreasi. Semoga saya tidak seperti itu untuk menjerumuskan orang lain pada jalan yang salah.

Akhirnya, walaupun cape kami dua bergegas lagi untuk menyelesaikan masalah kecil ini, dari pada mengurusi bangsa indonesia yang kian hari kian berantakan ini. Kami dua bergegas untuk mencari warnet dan penjilitan terdekat untuk menganti alamat jalan maupun menjilid ulang.

Namun, kami dua tidak ketemu. Kami dua pakai motor lagi kira- kira menempuh 5 kilo meter, setelah kami dua menempuh 25 kilometer dari basecamp tercinta. Wao sungguh capek kita dua nih, tapi ini masalah kepercayaan dan tanggung jawab. Maka, yang ada saat itu mengatakan, harus dan harus selesaikan saat itu juga.

Dari Tajur, kami dua buru- buru ke Ciawi. Hanya cari warnet dan tempat penjilidan. Dari warnet adik Nato masuk, ternyata tidak bisa print berwarna. Akhirnya kami dua melangkah lagi ke warnet yang jaraknya 100 meter. Dari situ, kami dua tidak bisa print lagi karena, datanya telah tersimpan di microsoft 2007 dan tidak bisa terbuka di microskop 2003, untuk print berwarna.

Sial benar hari ini. Kami dua harus buru- buru lagi ke warnet yang jaraknya 50 meter. Akhirnya, kami dua print itu. Namanya ”warnet asah”. Warnet ini sebenarnya teras yang dijadikan tempat online. Padahal dibelakangnya ada rumah penjaga itu. Kayaknya, dia orang cina. Dia sempat cerita bahwa dia punya mama sempat ke Jayapura. Dia punya adik tugas di Jayapura sebagai jaksa. Jaksa, yang zaman orang tua mengatakan kepala kampung. Kepala kampung yang sebagai mediator, bukan mempropokasi.

Setelah print kami dua, masukan untuk mau jilid. Ternyata, kami dua lupa bawa stempel lagi. Karena, yang jelas setelah diganti alamat pasti tanda tangan dan tentunya akan dibubuhi dengan stempel.

Lupa ya lupa. Lupa tertingal di basecamp tercinta. Tapi, saya dan dik nato tidak berharap untuk ”lupa akan keriting rambutku, hitam kulitku, melanesiku, dan tentunya tanah papuaku”.

Waduh, saya dan dik Nato harus balik lagi ke basecamp tercinta untuk mengambil stempel lagi. Stempel yang ditujukan untuk dibubuhkan di sebundel proposal.

Setelah ditempel lalu dijilid. Akhirnya jadi deh. Tinggal tancap gas choy. Dalam pertengahan jalan kami dihadagi oleh hujan lebat. Walaupun waktu semakin sore. Saya hanya berharap saja, agar perusahaan PT COCA- COLA masih buka. Harapan saya, seperti mengharapkan sejuta ketenagan, sejuta kesejukan ditengah hirup pikuknya dunia yang semakin tidak jelas, ditengah ketidakjelasannya bangsa indonesia. Setelah disana, Kami berikan proposal itu sama bagian proposal di PT COCA- COLA karena masih ada.

Yes..., beres. Akhirnya kami dua balik ke basecamp.

sementara dalam perjalanan, saat di didepan pom bensin dekat Gunung Batu, kami dua disambar oleh motor bebek jenis Vega. bila kita lihat motor, bodi motornya sudah dilepas, tapi sedang bergaya didepan pom bensin itu dan menabrak kami berdua. Walaupun, yang salah itu, dia ( yang menabrak kami) namun kami dua kasih 100 ribu karena, dia sudah tergores sedikit di kakinya. Kalau kami dua masih stabil karena dik Nato sudah rem dan patahkan stir motor. Dan, kami dua tidak terjadi kecelakaan apa- apa seperti luka dan lainnya.

Pokoknya, begitulah, kami dua yang kasih uang sama yang tabrak kami itu. Tanpa melihat, dia ini siapa? Dengan latar belakangnya bagaimana?

Akhirnya, kembalilah ke basecam untuk berkumpul bersama- sama lagi. Yes, beres. Di basecamp kami untuk mendiskusikan rencana persiapan selanjutnya untuk mau adakan turnmen Futsal dan voli di gimnasium IPB tercinta.

Dan, saat ini, yang ada di benak hanyalah, perasaan berharap. Berharap akan dijawabnya permohonan kami dan suksesnya kegiatan kami. Seperti berharapnya, sang surya menyinari kembali untuk jalan pagi karena akan sehat.

Semoga, acara kami lancar saja, GOD, HELP ME, PLEASE?

Kamis, 17 Juni 2010

Piala Dunia Atau Piala Akhirat



Saya yakin pada pada saat ini di seluruh dunia di gencarkan dengan piala dunia. Dan, sayapun yakin bahwa saya dan anda sedang mendukung tim kesayangannya. Entah, Pantai Gading, Afrika Selatan sendiri, Ghana, Brasil ataupun, lainya, yang menjadi tim kesayangan kita. Itulah roda pertandingan piala dunia pada saat ini. 

Di dalam serumah, sekosan, sekontrakan, pasti berbeda pendukung. Antara temen- temanpun berbeda tim kesayangan. Betul atau tidak. Coba tengok keluar. Ke teman sekosan anda, serumah anda, ataupun teman sekontrakan anda, saya yakin teman yang satu dengan lainnya berbeda tim kesayangannya. Ada yang bilang Pantai Gading. Ada yang bilang Ghana, ada pula yang bilang Brasil jagonya. Ada yang bilang lagi Portugal yang tak tertandingkan. Pokoknya banyak alasan deh, untuk mendukung tim kesayangannya.

Inilah yang mengerakkan kita untuk tak perlu melewatkan yang namanya piala dunia. Piala dunia yang semakin digencarkan pada saat ini. Entah kenapa, kita tak perlu banyak alasan untuk duduk didepan layar. Kegiatan kita, saat makan pun, saat belajarpun, mungkin saja, saya dan anda tidak melewatkan hal ini. 

Inilah sebuah kompetisi yang sedang berlansung untuk memberikan nama yang terbaik untuk daerahnya ataupun negaranya. 

Ketika, pertandingan antara Jepang dan Kamerun, Samuel Eto bersama timnya kalah pada pertemuan awal. Ini artinya, negara Kamerun, Samuel Eto bersama teman- teman belum memberikan hasil yang terbaik untuk negaranya Kamerun. Begitu juga dengan tim dari negara lainnya. Untuk Brasil telah memberikan kemenangan atas Korea Utara. Inipun artinya Brasil telah memberikan nama yang terbaik bagi negaranya. 

Hal yang dirasakan tim Pantai Gadingpun sama. Merekapun ingin memberikan hasil yang terbaik bagi Pantai Gading dan Pantai Gading, dari Dedier Drogba bersama teman- temannya ini, tidak bisa juga memenangkan pertandingan, namun seri dengan tim nya Christian Ronaldo, Portugal. 

Disana- sini di setiap rumah diwarnai dengan pendugaan- pendugaan bahwa timnya yang lolos dan akan memenagkan piala dunia kali ini. Sampai- sampai pengamat sebak bola nasional dan internasional pun mencoba untuk memberikan pendugaan- pendugaan atas tim yang berlaga di piala dunia ini bahwa tim ini yang akan menang atapun yang akan kalah. Inilah roda dari piala dunia. 

Inilah sebuah gambaran mengenai kompetisi menuju kemenangan. Entah yang akan dimenangkan dalam piala dunia ini adalah Pantai Gading, Ghana, Brasil, Korea Utara, Korea Selatan, Afrika Selatan ataupun lainnya. Manusia di seluruh belahan dunia memikirkan dan berharap agar tim kesayangannya dapat memenangkan piala dunia kali ini. Dan, pasti saja, dari semua pendukung, pelatih, pemain dan lainya pasti sedang melancarkan strategi tepat agar timnya dapat memenangkan pertandingan piala dunia ini. Betul atau tidak?

Mungkin saya dan anda mengerti bahwa, inilah sebuah gambaran kompetisi yang sementara. Kompetisi sesaat untuk kesenangan sesaat. Betul atau tidak. Tapi, saya pada pendapat saya bahwa, ini hanyalah kompetisi sementara untuk kesenangan sementara. Dan mungkin anda bertanya, bila ada kompetisi sesaat, berarti ada kompetisi selamanya, dong?
Yah benar. Ada juga kompetisi selamanya. Kompetisi menuju kemenangan kekal. Kemenangan didalam kerajaan surga, kesenangan untuk selamanya. 

Kita tengok saja ke judul diatas. Piala dunia dan atau piala akirat. Ini dimaksudkan bahwa ada pilihan yang ingin diberikan. Pilihan itu misalnya, kemenangan atas kedua- duanya, misalnya dari kemenangan dunia maupun kemenangan akhirat, kemenanagan di dunia lebih penting, dan atau kemenangan untuk akhrirat lebih penting. Ini tentu saja bertolak belakang dari motivasi hidupnya. 

Berbicara motivasi tentu tidak terlepas dari tujuan hidup seseorang. Tujuan hidup yang sudah dirangcang, tujuan hidup yang belum maupun yang masih stengah hati terhadap tujuan alias, membiarkan hidup bagai air. Padahal, air belum tentu selalu mengalir ke laut yang tenang tetapi air itu mengalir ke selokan yang kotor. 

Bila kita tengok ke belakang tentang informasi 2012, saya kira ini hanyalah mengigatkan kita agar bersiap sedia untuk menerima kemenangan atapun kekalahan yang sudah dan akan menghampiri kita untuk saat ini ataupun selamanya. 

Inilah yang saya uraikan disini . Kita menghabiskan waktu untuk duduk didepan layar demi tim kesayangan kita. Apakah perlu? Saya kira, saya dan anda jawab sendiri menjawab sesuai motivasi hidup kita masing- masing. Apakah kemenangan didunia dan kemenagan akhirat atau hanya salah satunya. 

Piala dunia ini hanyalah sebagai contoh menuju kemenanagan duniawi untuk kemenangan sementara. Trus, bagaimana dengan kemenangan akhirat bagi saya dan anda? 

Mari mulai memilih untuk kemenangan keduanya, atau kemenangan satunya saja. Karena pilihan ada ditangan anda dan saya, apalagi untuk piala akhirat ini.
Mari mulai.