Cahaya
matahari ini tak tampak. Hanya titik- titik butir di kota Jakarta, sore ini.
Gerimis. Saya hanya lewat sebentar. Arahkan muka ke depan, ada satu tenda
putih. Tenda ini, kini rasanya tak berpenghuni. Mungkin sebelumnya, belum
diketahui secara pasti. Tapi mungkin pasti.
Memang
benar, tenda ini ada di sudut kota dari pusat Jakarta. Tenda ini bertuliskan “
Pos Kesehatan”.
Saya
lansung terbayang hingga pada banjir di Jakarta. Kemudian juga di Papua. Banjir
yang melanda kota Jakarta, Jayapura papua dan Timika papua dalam beberapa hari
belakangan.
Aku
hanya berpaling sebentar, kemudian saya ketemu lelaki. Dia membunyikan beberapa
lagu di sekitar tempat itu. Tak jahu dari tenda putih yang kini tak berpenghuni
karena berada di sudut kota. Pria yang diduga berumur 30- an ini cukup antusias
bermain dengan beberapa CD lagu untuk diputarkan ditempatkan itu.
Sejatinya,
dia sedang menghibur masyarakat Jakarta yang lewat disitu. Mungkin juga bagi
para korban banjir di Jakarta. Karena, ada yang bilang, Musik adalah penyeralas
jiwa. Tentu hiburan itu harus ada bagi korban Jakarta, korban di Jayapura papua
dan korban banjir di Timika. Dalam beberapa hari belakangan secara bersama.
Kuhanya
ucapkan selamat menghibur. Apalagi bagi para korban. Korban musibah alam ini.
Karena alam kita ini, sudah tak bersahabat. Walaupun, bicara alam tentu bicara
Manusia yang menjadi aktor utama bumi. Manusia yang memutuskan untuk melakukan
apapun dengan prinsip utama, “Menjaga Keseimbangan Ekosistem Alam Semesta”.
Tapi itulah musibah terjadi.
Kutakpantas
lagi kalau katakan musibah dimanapun, yang berkaitan dengan hukum alam, manusia
tak mampu mengalahkan. Walaupun manusia adalah aktor bumi. Tak pantas juga,
kuucapkan ini adalah keserakahan manusia terhadap alam semesta.
Ada
Fauna. Ada Flora. Ada Manusia. Ada benda- benda langit yang menjadi satu
kesatuan ekosistem kompleks. Aktornya adalah manusia. Manusia yang memutuskan
tuk menjaga keseimbangan itu. Tapi, bila keputusan salah oleh manusia, maka
jangan salahkan hukum Alam yang ada dan akan ada ini.
Saya
setuju kata para pemikir dan Filsuf besar Yunani ini, “ Manusia yang hidupnya
tak reflektif terhadap hidup, maka tak layak untuk dihidupi “.
Satu
jam melihat tenda putih telah usai. Tenda putih telah usai tapi, para korban di
Jakarta maupun Papua butuh penanganan lebih lanjut. Misalnya, penyelasan jiwa
dengan Musik seperti lelaki periang tadi. Atau apalah yang menjadi penanganan
korban oleh semua pihak.
Intinya,
Hukum alam ya hukum alam. Manusia adalah bagian dari hukum alam itu. Dan
manusia adalah aktor utama untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam semesta
ini. Dan semestinya, banjir di Jakarta dan Papua, selayakya menjadi pengalaman.
Sebagaimana yang dikatakan Pemikir yunani tadi.
Tenda
putih ada karena akibat hukum alam ini. Sama juga dengan lelaki tadi. Saya satu
jam di sudut kota Jakarta juga karena demikian.
Ini
sudah kenalanku,disuatu sudut kota, sore tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.