Tadi pagi, kami bagi tugas. Saya dan Nato Tebai pagi- pagi kira- kira jam 9 keluar untuk sebarkan proposal untuk persiapan buat turnamen dalam rangka mencari dana. Asik yak, karena sebagai bagian dari belajar. Kegiatan yang akan di adakan oleh se komunitas di kota studi bogor. Turnamen yang diadakan untuk mengundang teman- mahasiswa dari kota studi lain.
Ini mengigatkan saya di SMA Adhi Luhur. Saya teringat dengan Romo Bei. Romo Bei ini sangat senang dengan kegiatan seperti kemping rohani maupun kegiatan jalan- jalan.
Waktu itu, Romo Bei, dia sebagai Frater sebelum kursus alkitab di Thailand, dan menlanjutkan studi di Teologi Filsafat Dryakarya Jakarta. Awalnya di Adhi Luhur ini, dia buat kegiatan jalan ke Dokar. Artinya jalan- jalan ke mata air, jalan kaki, dan balik pun jalan kaki. Dan tempat itu kira- kra 5 kilo meter dari Adhi Luhur. Adhi Luhur ini merupakan salah satu kolese Jesuit dalam pembebasan pendidikan. Dan juga ini merupakan salah satu dari kolese Jesuit yang ada di indonesia dan di Papua adalah salah satunya.
Sebelum kedokar itu kita di suruh persiapkan segalanya untuk pembambilan nilai agama. Karena Frater Bei (sekarang Romo Bei) merupakan guru agama di Kolese yang termasuk kedalam Yayasan Tiellmans Papua.
Dari situlah saya mengenal banyak teman dari berbagai daerah. Karena saya ini merupakan siswa baru dari Pedelaman Papua. Kota kecil peningalan Belanda dalam beberapa tahun silam. Belanda yang dibilang bagus oleh seluruh warga Papua dibangding pergaulan dengan Indonesia. Indonesia yang selalu lempar batu sembunyi tangan. Dibilang peduli padahal tidak peduli terhadap dirinya sendiri.
Jujur. Saya waktu datang dari pedelaman kota kecil Waketei ke Nabire itu , saya tidak bisa berbicara berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bicara pun menjadi kaku. Dan, akhirnya pergaulan saat itu membuat saya agak tertutup. Tidak leluasa seperti teman- teman lain dari kota nabire.
Saya masih ingat kata- kata yang itu saya kasih keluar, kemudian menjadi tertawaan bagi banyak orang. Saya bilang sama adik Denis Badii, saat kita lagi petik Sayur di Kebun. Waktu itu, ada mamade bilang sama saya untuk harus datang ambil sayur yang telah dipetik mamade. Saya bilang, Denis, dorang bilang bagaimana? ....
Pokoknya waktu itu, berbasa- basi, dorang....kitorang,....dan lain- lain.
Saat kita ke dokar pun sama. Karena memang masih baru sehingga saya bicarapun masih berbasa- basi.
Waktu itu, Frater suruh kami untuk berbaur sesama teman agar kenal satu sama lain. Tapi, memang waktu itu saya masih ragu untuk bergaul dengan teman- teman dari kota. Teman- teman kota yang waktu itu saya ajak bicara itu hanya sama saudara perempuan yakni Yuliana Pekei, yang sekarang masih di nabire.
Ketika saya salah bicara, saudara Yuli Pekei yang membela saya. Tapi, dengan berjalannya waktu akhirnya, saya bisa juga untuk berbahasa Indonesia. Saya kira, kita lebih mahir berbahasa indonesia di banding teman- teman Jakarta ataupun lainnya. Saya yakin itu sesuai buku yang di tulis Fredi Numbery dan beberapa diskusi bersama teman- lain dari daerah lain.
Setelah dari kegiatan dokar, di lanjutkan dengan kegiatan kemping. Kegiatan kemping yang dilaksanakan di lapangan Adhi Tama atau sekarang lapangan Persinab atau lapangan Adhi Putra. Dilapangan Adhi Luhur ini kita buat 20 tenda. Dari kegiatan ini, selain kegiatan yang berkaitan dengan religius, kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah kunjugan ke kantor untuk kerja.
Awalnya kita dirusuh jangan makan. Tapi cari makan di kantor dengan minta bantu kerja di kantor. Entah sapu- sapu, entah mengetik, entah babat rumput, atapun kerja apa yang halal.
Sebelum berangkat ke kantor, kami di bagi kelompok menjadi 25. kalau tidak salah, saya dapat kelompok 15. kita punya ketua kelompok itu, Mira Kobogau. Mira Kobogau ini, badanya besar, dan tinggi kira mendekati badan normalnya anak- anak Paskibra. Dan memang Mira Kobogau ini sempat ikut paskibra saat kita kelas 2 di adhi luhur.
Setelah itu, kita pergi melewati jalan merdeka. Pertama kami masuk di perusahaan Telkom. Disana kita pergi temui bapak yang disitu. Akhirnya kami diperbolehkan untuk kerja bakti di samping rumahnya. Rumputnya tidak terlalu tinggi karena, setiap saat di potong dengan mesin potong. Saat itu, kita hanya meratakan rumput itu saja. Kelompok kami terdiri dari 10 orang.
Setelah kami kerja bakti, kami disuruh makan. Kemudian kami dikasih 200 ribu rupiah. Sebenarnya kami harapkan adalah 200 dolar sebagai harga ganti rugi PT freeport, yang status hukumnya tidak jelas. Tapi gitulah karena masuk dalam rupiah.
Syukur. Kami bagi 20 ribu untuk satu orang. Kemudian kami lanjutkan ke kantor lain. namun, kami tidak di terima karena, tidak ada kerjaan yang bisa diselesaikan.
Akhirnya, sampailah kami mendekati pada waktu yang ditentukan oleh Romo Bei. Karena begitu, kami makan bakso yang ada didepan gedung putih nabire ( kantor kabupaten nabire).
Dari situlah saya belajar kunjungan ke kantor untuk berbagai urusan. Artinya, saya baru kenal untuk hal ini. Jelas, saya hanya kenal, dunia anak yang ada di kota kecil peningalan belanda itu. Misalnya, permainan tradisonal yang sudah dikenal.
Melihat itu, Saya tidak tahu tapi nato tebai sudah siapkan motor king di depan kontrakan untuk sebarkan proposal di seluruh kota Bogor. Setelah saya sama Nato siapkan tujuh proposal. Satu proposal kita kasih ke gedung seni dan budaya IPB. Gedung megah yang di miliki oleh IPB. Dari sarana olahraga inilah akhirnya IPB menerima penghargaan dari menpora dari SBY jilid 1, bahwa IPB merupakan kampus prima. Keprimaannya selalu menjadi perdebatan ketika harga sewa sarana olahraga naik. Namun, sekarang sudah harga standart.
Saya dan Nato masuk ke Gymnasium untuk menyerahkan sebundel proposal yang telah dikreasikan oleh teme- teman sekomunitas Bogor itu. Saya dan dik Nato diterima duduk oleh salah satu penerima arsip itu. Karyawan itu badannya tinggi. Kira- kira mencapai 2 meter. Entah kenapa saya tidak tahu tapi memang dia punya tinggi begitu. Bila dilihat dari wajahnya, tampaknya orang jawa. Entah jawa tengah atau jawa timur dan bukan asal jawa barat atau daerah pasundan. Daerah yang punya ciri khas tersendiri ini.
Daerah pasundan ya daerah pasundan. Daerah yang kalau tidak salah, nasibnya hampir sama yang dirasakan di papua.
Bapak karyawan setelah ambil proposal itu. Ia periksa sesuai perizinan kami. Dan, setelah kami lihat, maka jumlah uang yang kami harus bayar adalah 520.000 rupiah. Saya Kira kurang untuk stándar obama. Stándar obama yang sudah dan sedang mensetafet perusahaan raksasa PT Freeport, terekayasa dan CACAT HUKUM didepan mata ini. Semoga saja kalau datang ke indonesia. Ia dapat mengulanggi pertanyaan yang sempat diajukan sama ayah tirinya saat di menteng jakarta. Bagaimana dengan kabar kondisi papua ( dahulunya ia sebut: warga new guinea)
Tapi, jumlah uang yang dibilang pak karyawan, bagi kami merasa harus lobi lagi dengan baik untuk hari berikutnya.
Saya dengan adik Nato Tebai melanjutkan perjalanan lagi. Yang menjadi saksi bisu hanyalah motor king yang lajunya melebih motor lainnya. Sampai adik Nato , menancap gas demi terselesainya tugas yang diberikan teman- teman.
Tapi gila choy, saya cari alamat proposal yang dituju. Sampai saya dengan adik Nato bolak- balik sepanjang jalan baru, jalan padjajaran dan jalan djuanda. Saya Kira nama jalan yang menyimpan sejuta cerita bagi masyarakat pasundan. Entah mengenai pajajaran, entah juanda, ataupun lainnya. Apalagi melihat gedung WHITE HOUSE ( ISTANA BOGOR) yang dimiliki masyarakat bogor, lebih umunya warga pasundan yang menyimpan sejuta cerita.
Akhirnya, selesai juga penyebaran proposal. Dan, tersisa satu buah proposal.
Saya dan dik Nato sempat ke alamat yang ditulis oleh teman- teman. Namur, salah tulis alamatnya. Yang sebenarnya jalan Raya Tajur, ditulis Jalan Baru. Wah, tambah tugas lagi untuk diselesaikan di hari berikutnya.
Kemudian, kami dua pulang kembali. Kembali ke basecamp untuk berkumpul lagi bersama teman- teman. Berkumpul seperti beberapa tahun silam, yang dilakukan orang tua dulu, hidup dalam kebersamaan.
Hari berikutnya, saya kaget bangun ketika dik Nato sedang membangunkan saya. Karena, saya tidur pulas di kamar. Nato bilang kak, bagun untuk persiapan. Tapi, saya masih ngatuk untuk tidur. Saat dik Nato menanyakan alamat proposal yang ingin ditujupun saya menjawabnya dengan terbata- bata. Pokoknya, gituhlah karena gantuk punya permainan.
Saya tidur lagi. Nato lanjutkan print satu proposal lagi untuk tambahan. Dan sekalian dia persiapan surat- surat lainnya.
Kira- kira pukul 10 pagi saya dengan Nato pergi gunakan motor yang selalu menjadi teman setia itu. Akhirnya, berhadapan juga dengan macet di sekitar BBS. Tapi saya hanya berdoa agar tidak macet untuk negara ini, tidak macet untuk perintahan ini. Tidak macet untuk birokrasi ini, tidak macet bagi hak- hak aceh, tidak macet untuk hak- hak pasundan, tidak macet untuk masyarakat borneo, tidak macet untuk rakyat timor barat (ntt), tidak macet untuk maluku, apalagi bagi papua.
Bila memang yang terlihat adalah demikian maka, benar yang dikatakan guru besar UGM ini, Amien Rais bahwa, negara ini ibarat negara yang masih menunjukan pagarnya saja, padahal dalam rumahnya berantakan. Inilh kritikan tajam yang ditulis oleh bapak Amien Rais dalam bukunya ”Agenda Mendesak Bangsa”.
Saya dengan Nato tiba di depan PT SINAR SOSRO. Saya menyerahkan proposal ke bapak satpamnya karena bagian umum yang menangani bagian proposal lagi keluar. Kami diberikan nomor kontaknya. Kami diberitahu untuk besok dihubungi. Saya ambil nomor itu, dan kami dua lanjutkan perjalanan lagi.
Alamat yang dituju selanjutnya ini, saya maupun dik Nato tidak tahu. Sehingga saya dengan dik hanya mengandalkan modal tanya dijalan. Kira- Kira beberapa kali kami menanyakan alamat jalan Raya Tajur ini. Tempat yang kami dua sedang tuju di PT COCA- COLA.
Dari depan pagar gapura masuk saya kasih keluar proposal itu, ternyata alamat yang dituju salah tulis. Padahal, sebelumnya juga, salah alamat dan tidak sempat untuk kasih ke pihak perusahaan yang dituju.
Ternyata dik Nato salah dengar. Karena mengatuk dan terbata-batanya saya membuat dik nato salah dengar dan salah kreasi. Semoga saya tidak seperti itu untuk menjerumuskan orang lain pada jalan yang salah.
Akhirnya, walaupun cape kami dua bergegas lagi untuk menyelesaikan masalah kecil ini, dari pada mengurusi bangsa indonesia yang kian hari kian berantakan ini. Kami dua bergegas untuk mencari warnet dan penjilitan terdekat untuk menganti alamat jalan maupun menjilid ulang.
Namun, kami dua tidak ketemu. Kami dua pakai motor lagi kira- kira menempuh 5 kilo meter, setelah kami dua menempuh 25 kilometer dari basecamp tercinta. Wao sungguh capek kita dua nih, tapi ini masalah kepercayaan dan tanggung jawab. Maka, yang ada saat itu mengatakan, harus dan harus selesaikan saat itu juga.
Dari Tajur, kami dua buru- buru ke Ciawi. Hanya cari warnet dan tempat penjilidan. Dari warnet adik Nato masuk, ternyata tidak bisa print berwarna. Akhirnya kami dua melangkah lagi ke warnet yang jaraknya 100 meter. Dari situ, kami dua tidak bisa print lagi karena, datanya telah tersimpan di microsoft 2007 dan tidak bisa terbuka di microskop 2003, untuk print berwarna.
Sial benar hari ini. Kami dua harus buru- buru lagi ke warnet yang jaraknya 50 meter. Akhirnya, kami dua print itu. Namanya ”warnet asah”. Warnet ini sebenarnya teras yang dijadikan tempat online. Padahal dibelakangnya ada rumah penjaga itu. Kayaknya, dia orang cina. Dia sempat cerita bahwa dia punya mama sempat ke Jayapura. Dia punya adik tugas di Jayapura sebagai jaksa. Jaksa, yang zaman orang tua mengatakan kepala kampung. Kepala kampung yang sebagai mediator, bukan mempropokasi.
Setelah print kami dua, masukan untuk mau jilid. Ternyata, kami dua lupa bawa stempel lagi. Karena, yang jelas setelah diganti alamat pasti tanda tangan dan tentunya akan dibubuhi dengan stempel.
Lupa ya lupa. Lupa tertingal di basecamp tercinta. Tapi, saya dan dik nato tidak berharap untuk ”lupa akan keriting rambutku, hitam kulitku, melanesiku, dan tentunya tanah papuaku”.
Waduh, saya dan dik Nato harus balik lagi ke basecamp tercinta untuk mengambil stempel lagi. Stempel yang ditujukan untuk dibubuhkan di sebundel proposal.
Setelah ditempel lalu dijilid. Akhirnya jadi deh. Tinggal tancap gas choy. Dalam pertengahan jalan kami dihadagi oleh hujan lebat. Walaupun waktu semakin sore. Saya hanya berharap saja, agar perusahaan PT COCA- COLA masih buka. Harapan saya, seperti mengharapkan sejuta ketenagan, sejuta kesejukan ditengah hirup pikuknya dunia yang semakin tidak jelas, ditengah ketidakjelasannya bangsa indonesia. Setelah disana, Kami berikan proposal itu sama bagian proposal di PT COCA- COLA karena masih ada.
Yes..., beres. Akhirnya kami dua balik ke basecamp.
sementara dalam perjalanan, saat di didepan pom bensin dekat Gunung Batu, kami dua disambar oleh motor bebek jenis Vega. bila kita lihat motor, bodi motornya sudah dilepas, tapi sedang bergaya didepan pom bensin itu dan menabrak kami berdua. Walaupun, yang salah itu, dia ( yang menabrak kami) namun kami dua kasih 100 ribu karena, dia sudah tergores sedikit di kakinya. Kalau kami dua masih stabil karena dik Nato sudah rem dan patahkan stir motor. Dan, kami dua tidak terjadi kecelakaan apa- apa seperti luka dan lainnya.
Pokoknya, begitulah, kami dua yang kasih uang sama yang tabrak kami itu. Tanpa melihat, dia ini siapa? Dengan latar belakangnya bagaimana?
Akhirnya, kembalilah ke basecam untuk berkumpul bersama- sama lagi. Yes, beres. Di basecamp kami untuk mendiskusikan rencana persiapan selanjutnya untuk mau adakan turnmen Futsal dan voli di gimnasium IPB tercinta.
Dan, saat ini, yang ada di benak hanyalah, perasaan berharap. Berharap akan dijawabnya permohonan kami dan suksesnya kegiatan kami. Seperti berharapnya, sang surya menyinari kembali untuk jalan pagi karena akan sehat.
Semoga, acara kami lancar saja, GOD, HELP ME, PLEASE?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.