Awalnya
saya tidak menduga. Saya mengenal Andreas
Harsono lewat FB (facebook). Apa itu jurnalisme sastrawi. Tapi
setelah saya mengikuti jurnalisme sastrawi di pantau. Sangat berarti bagi saya.
Ketika Andreas Harsono, mengiyahkan saya untuk ikut Kursus Jurnalisme Sastrawi
di pantau, saya merasa, saya dapat terbantu.
Bayangkan
saja, ketika kita melihat perkembangan jurnalisme di Indonesia. Banyak sekali,
yang hanya berpatokan pada kepentingan. Banyak sekali kasus- kasus yang perlu
di angkat menjadi terabaikan. Mungkin, kaum awam melihat bahwa belum cukupnya
wartawan dalam jumlah yang cukup. Mungkin iya dan mungkin tidak untuk pendapat
ini. Tetapi yang menjadi sorotan disini adalah, belum nampaknya wajah
jurnalisme di tanah air.
Apalagi
bila kita berbicara soal jurnalisme di tanah Papua. Nilai- nilai jurnalisme di
tanah papua menjadi lebih penting. Karena, bila dilihat dengan mata papua,
tentu di papua banyak masalah yang perlu di angkat ke mata nasional maupun
internasional.
Dari
kerinduhan- kerinduhan inilah, rasa kepedulian dari Bill Kovach dan Tom
Rosenteell di Amerika. Dua orang yang berhasil mengarang buku sembilang elemen
jurnalisme. Inilah yang menjadi patokan yang harus di tiru oleh semua
wartawan.
Dari
pengalaman itulah, mas Andreas pun berbagi mengenai nilai jurmalisme yang baik
di Indonesia.
Saya
secara pribadi senang sekali membaca Jurnalisme Sastrawi ini. Saya juga ingin
mengembangkan jurnalisme gendre ini, sebagai pembangan bakat saya. Yang
tentunya, tak lepas dari nilai- nilai dari kedua tokoh Amerika dan Andreas
Harsono.
Terima
kasih atas semua kepeduliannya. Terima kasih atas datangnya gendre ini. Saya
senang membaca. Saya perlu belajar. Saya orang tanah papua perlu belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.