Inilah
triknya. Menulis seperti orang lain menulis. Baik dari gaya bahasanya, polanya,
gaya bertuturnya, gaya machinenya, gaya meaningnya, EYD-nya dan lain
sebagainnya. Menulis seperti orang lain menulis ini saya maksudkan adalah, saya
ingin belajar seperti cara orang lain menulis. Apalagi kita selalu mengidolakan
mereka. Entah tokoh politik, tokoh budayawan dan disini, saya lebih khususkan
untuk tokoh menulis yang kita idolakan. Tokoh penulis dari regional, nasional
dan bahkan internasional.
Dari
regional misal, jubi, bintang papua, cepos, nabire pos, merauke pos dan lain
sebagainya. Dari nasional, misal dari kompas, tempo, pantau, dan lain
sebagainya. Dunia misalnya, dari new yoker,
dari washingtho post, dari new york times,
human
right wacht , JFCC,
CPJ, CCJ,dan
lain sebagainya.
Ketika
saya bersama beberapa abang di Monas. Saya sempat menanyakan bagaimana menjadi
penulis hebat. Keseharian saya memang saya sibukkan dengan hal- hal seperti
bagaimana menjadi penulis hebat. Saya selalu tanya sana- tanya sini.
Kakak
Wensi AF, itulah orang yang saya
sempat kenalan di Jakarta. Saat kumpul bersama. Saya sempat menanyakan kepada
dia tentang soal Menulis ini.
Wensi
A.F ini, dia juga seorang wartawan. Dia juga cukup memberikan pencerahan
sekaligus dia melaporkan pelanggaran- pelanggaran yang terjadi di tanah papua.
Hanya tatap muka selama tiga jam itu membuat saya mendapat satu trik menulis.
Trik menulis yang saya selaku tanya- tanya. Trik itu adalah mengikuti seperti
penulis terkenal. Terkenal dalam artian dari semua aspek. Setelah terbiasa,
barulah kami pun akan mahir menulis.
Dikesempatan
lain, saya juga dibilang oleh mas Andreas Harsono soal bagaimana menjadi
penulis hebat. Misalnya, awalnya kita menulis dengan pola piramida terbalik,
dan akhirnya sampai pada narasi. Inilah yang dia katakan melalui tulisannya bagaimana menulis bahasa inggris.
Hanya
untuk membandingkan, sore itu, saya ke gramedia terdekat untuk melihat- lihat
buku yang ada disana. Dengan pertanyaan awal, bagaimana menjadi penulis hebat.
Akhirnya, di rak bahasa dan sastra saya menemukan buku bersampul warna hijau
yang di tulis oleh Jonru. Dia menulis sesuai pertanyaan yang selama itu, saya
cari. Yakni menjadi penulis hebat.
Jonru, membeberkan panjang lebar soal kata
“ ATM”. Kawan, ATM bukan kartu mengambil nilai rupiah yang ada didalam mesin,
namun ini kepanjangan dari, “ amati, tiru, modifikasi”. Ini yang dimaksudkan
oleh bukunya jonru.
Artinya
sangat panjang.
Kita
harus amati dulu penulis hebat punya cara tulisnya. Entah gaya bahasa,
pengunaan EYD, dan lain sebagainya. Kemudian, kita semua dituntut untuk beraksi
terhadap apa yang kita lihat, dengar, rasakan, resapi, dan lainnya. Akhirnya,
kita harus modifikasi.
Modifikasi
sama seperti kita kita memisahkan teh dari airnya. Yang terbaik dari panca
indera diambil dan tidak cocok dari panca indera, tidak digunakan sebagai
bagian dari proses beraksi itu.
ATM
inilah konteks tepat menjadi penulis hebat. Hal inilah yang kita harus
praktekan. Entah menulis tentang apapun.
Ternyata
pertemuan dengan kakak wensi AF itu, adalah harus menulis sama seperti penulis ternama.
Itu tidak akan tercapai jika kami tidak berusaha keras untuk beraksi. Inilah
terori yang saya dapatkan dari mas Andreas Harsono, AF Wensi, dan Jonru. lebih
menarik jika gaya menulis ini kita menulis secara narasi. apalagi narasi gaya
bahasa melayu tanah Papua. Yakni Bahasa Nasional Melayu Papua (BNMP). Yang
diperkenalkan oleh kakak Yermias Degei. sekarang tinggal
beraksi untuk menulis. mari mulai.
Mantap suda. Tingkatkan terus. Menulis terus. Jangan cepat bosan kaya saya. Dong bilang, "menulis, menulis, dan menulis".
BalasHapus