Penerbit: Kanisius
Penulis: Surif Stanislaus, OFM Cap
Jumlah halaman: viii + 86 halaman
Perensensi: Jhon Pekei*
Keras
marupakan suatu bentuk sifat dari perlakuan dari suatu kondisi. Bila kata
‘keras’ diberi awalan dan akhiran, maka akan jadi kata ‘kekerasan’ yang merujuk
pada kata benda. Dan, kekerasan diakibatkan oleh factor dosa dan lingkungan.
Dosa ada karena ada kekerasan. Dosa itu sangat dekat dengan manusia
(masyarakat).
Penulis
mengatakan , sosiolog ini sangat pandai dalam membagi masyarakat dalam tiga
kelas. Masyarakat kelas pertama yang mengatakan “ hari ini saya makan apa”. Hal
ini dikarenakan, belum ada modal yang cukup menjangkau untuk makan. Maryarakat
kelas kedua yang mengatakan, “hari ini saya makan dimana dan jenis makanannya
apa”. Ini pun sama, namun di masyarakat kelas ini sangat jelas bahwa masyarakat
kelas ini punya modal yang cukup. Jadi, kelas ini tidak perlu lagi mengatakan, saya
makan apa. Kemudian, kelas ketiga mengatakan bahwa saya makan siapa. Kelas ini
memunyai modal yang melimpah ruah jadi kelas ini punya kehendak bebas. Bebas
untuk melakukan apa saja yang dia mau.
Pepatah
latin, “ homo homini luput est”, manusia adalah serigala bagi orang lain.
Makan- memakan yang terjadi. Makan karena dalam konteks perlu. Makan karena
dalam konteks tidak perlu. Ada yang sengaja diciptakan dan ada juga yang karena
naluriah manusia.
Dosa
timbul dari manusia pertama ketika adam dan hawa tidak taat perintah Tuhan.
Begitupun kekerasan itu dilanjutkan oleh Kain dan Habel. Dimana Kain merasa
irinya membludak akhirnya adikknya Habel menjadi korban, begitupun seterusnya.
Kekerasan
sudah seumur dengan adanya manusia dan telah menjadi bagian dalam hidupnya
sejak ia menyalahkan gunakan kebebasan dan akhirnya jatuh kedalam dosa. Kisah
tragis pembunuhan habel oleh kain (kej 4: 1 – 16 ), pembalasan dendam lamekh
yang mematikan seorang anak muda (kej 4: 23- 24), musibah air bah dan menara
babel yang membinasakan banyak orang ( kej 7: 10- 24, 11: 1- 9) merupakan
derita berdarah dan kehancuran akibat kejahatan dan dosa manusia. Kekerasanpun
menambah sejarah kehidupan manusia dalam perkelahian antara para gembala
Abraham dan lot ( kej 13: 7), penghinaan hagar dan penindasan sara ( kej 16: 4-
12), kejahatan dan pemusnahan Sodom dan gomora ( kej 19 : 1- 29). Pemerkosaan
terhadap dina dan pembalasan anak- anak yakub yang membunuh semua laki- laki
penduduk sikhem dan merampas harta kekayaan mereka telah memperpanjang sejarah
kekerasan berdarah ( kej 34: 1- 31). Ini sejarah perkembangan manusia dan
kekersan. ( halaman 1 )
Ini
sebenarnya ingin mengambarkan betapa hiruk pikuknya yang secara sengaja dan tidak
sengaja diciptakan manusia untuk semacam mata rantai atau sebuah siklus. Siklus
kekerasan manusia. Manusia yang secara ekonominya mapan memperalat dengan
tujuan kekerasan dan sebaliknya. Sengaja menciptakan budaya balas dendam,
Budaya iri hati, budaya penindasan, budaya perampasan hak dan lain- lain.
Dalam
buku ini juga menguraikan sekaligus dengan bagaimana budaya yunani yang bagi
yesus menyeweleng dengan harapan kerajaan Allah. Disinipun penulis menguraikan
dengan jelas apa maksud timbulnya peperangan dari dan bagi bangsa Israel
sebagai bangsa pilihan. Dibuku inilah akan mengungkap dengan jelas, dosa,
peperangan, dan kekerasan dan dalam peran serta Allah. Dengan makna ‘cinta’
yang diyakini oleh bangsa yunani.
Disini,
walaupun saya masih awam, namun saya melihat ada konteks keterlibatan Allah
dalam peperangan oleh bangsa Israel belum terlihat secara jelas contoh
konkretnya. Contoh konkret yang meyakinkan bahwa keikutsertaan Allah ataupun
peranan- Nya bagi bangsa Israel sebagai bangsa pilihan dan bangsa- bangsa
lain.
Judul
mematahkan siklus kekerasan ini ingin mengatakan bahwa kekerasan harus
dipatahkan. Penulis (surif Stanislaus, OFM Cap) juga ingin memberikan solusi
yang ditawarkan oleh alkitab agar dapat memahtahkan siklus kekerasan itu.
Misal, dengan kehadiran Yesus menjadi begitu penting. Agar, dosa yang sekarang
menjadi- jadi dan bahkan rumit ini dapat terpecahkan dengan baik didalam kasih
yang tidak pernah padam. Tentu, manusia dianjurkan untuk melihat secara nyata,
didalam kehidupan sebagai manusia bukan sebagai serigala bagi orang lain.
buku
ini sangat jelas oleh penulis bahwa hanya ingin mengambarkan siklus kekerasan
yang bersiklus setiap saat tanpa kita sadari. Oleh karena itu, buku ini layak
dimiliki oleh setiap umat manusia yang mau mengenal asal- muasal dosa,
kekerasan yang slalu bersiklus dan agar dengan dapat memberikan masukan ataupun
inspirasi segar untuk kembali menabur kasih dimanapun, kapanpun dan dengan
siapapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.