Judul: seandainya semua orang berpikir positif.
Penerbit: Dhia Publishing
Penulis: Yunus Timotheus
Jumlah halaman: XXIII + 78 halaman
Perensensi: Jhon Pekei*
Berpikir
positif adalah mutlak yang harus dilakukan bagi setiap manusia. Agar, mampu
menjadi manusia yang layak secara pribadi, sesama dan bahkan untuk Tuhan. Demi
pengapdian sebagai manusia yang diakui secara manusia dibanding dengan makluk
lain. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan secara istimewa. Berpikir dan akhirnya
berkehidupan yang baik. Bukan dan akhirnya berpikir negative dan berkehidupan
yang tidak layak, bagi dirinya, sesama dan bahkan untuk Tuhan.
Penulis
berpikir bahwa manusia saat ini apalagi bangsa Indonesia tidak mengunakan
nuraninya lagi, jiwa sadarnya lagi, jiwa persatuan nya lagi. Pemimpinnya ada
yang korupsi dan rakyat yang menjadi korban dan lain sebagainya. Dengan melihat
kondisi anak bangsa ini, ia rela keluar dari kerjanya untuk membuka sekolah
berpikir positif. Menurutnya, dengan solusi berpikir positiflah yang dapat
menyelesaikan caruk – maruknya bangsa ini.
Berpikir
negative di Indonesia ini lebih banyak dibanding berpikir positif apalagi seperti
saat- sat ini . lihat dan perhatikan orang- orang yang ada disekitar anda
ataupun diri anda sendiri. Mana yang lebih muda ditemukan orang yang disiplin
atau orang yang tidak disiplin. Menemukan tempat yang bersih dari sampah atau
tempat yang berserakan dengan sampah. Menemukan orang yang egois atau tidak
egois. Menemukan orang yang menolong dan peduli atau cuek dan tidak peduli,
menemukan orang yang korupsi atau tidak, dan lain sebagainya. (halaman 4)
Munculnya
budaya keserahkaan yang membawa manusia pada tindakan melakukan korupsi, budaya
kekerasan dari beberapa ormas. Masyarakat mudah sekali untuk marah dan membuat
tindakan anarkis apalagi hanya karena hal- hal yang sangat kecil. Apalagi
kekerasan ini dihembusi isu yang barbau SARA. Dengan ini, sifat bangsa
Indonesia yang ramah, lembut dan santun menjadi punah dan bahkan hilang.
Penulis mengatakan bahwa, hal ini didorong oleh manusia yang lebih berpikir
negative. Solusinya adalah tentu harus berpikir postif. ( halaman 5)
Disinilah
sebenarnya penulis mengatakan, solusi harus berpikir positif. Penulis pun
menjabarkan secara jelas bagaimana hubungan, berperasaan positif, berbicara
positif, berpenampilan positif, dan akhirnya berkehidupan positif. Penulis
mengutip pendapat sokrates bahwa, berpikir adalah nenek moyang dari perbuatan.
Awal yang harus dibentuk adalah berpikir positif Kemudian sampailah pada
berkehidupan positif. Karena ada pendapat juga mengatakan, apa yang kita
pikirkan itu yang kita lakukan. Semoga kita selalu berpikir positif.
Namun
bila kita pahami, secara benar dari siklus yang berpikir positif ini, maka
penulis belum memberikan penjelasan secara jelas, siklus dari berpikr positif
itu. Apa ini merupakan proses yang ditetapkan urutannya atau dilihat secara
acak.
Bila
kita cermati dari judul, maka inilah buku yang sangat gemilang bagi umat
manusia. Buku ini sangat layak untuk digunakan oleh kaum akademisi, kaum
politisi, dan bahkan umum, yang tentunya kepada manusia yang mau berpikir
positif agar hidupnya dapat terbentuk secara positif pula. Agar, dari manusia
tetap manusia yang selalu berpikir positif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.