Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.

Rabu, 17 November 2010

Adakah cerita lain dari Obama?

Obama can not speak with us about criminal in west papua, why?



Pidato telah dimulai. Dipanggung telah terpampang jelas bendera kedua negara. Antara Indonesia dan Amerika. Obama telah naik ke panggung yang berbentuk persegi panjang. Obama telah berpidato cukup panjang.
“Pulang kampung deh”, kata obama dalam pertengahan pidato . Para hadirin berteriak ria gembira dari ruangan Depok, Universitas Indonesia (UI). Mungkin ini bagi hadirin adalah lelucon. Teriakan para hadirin, cukup membuat obama lebih energik lagi dalam berpidato. Menurut obama, Ini hanya proses pendekatan kekerabatan. Menandakan obama dapat berbahasa melayu. Seperti sejak kecil di Indonesia.

Obama cukup piawai, dalam membawakan pidato di Depok UI. Sangat energik dan antusias. Ruangan penuh manusia yang mendegarkan pidato obama. Ada yang datang, ada yang sengaja lewat hanya ingin mengabadikan gambar Obama.

Masyarakat Indonesia merasa senang melihat sosok Obama datang, agar mendegarkan ceritera yang pernah ada. Apalagi hikayat negeri pamansam. Ataupun menceritakan segumpal cerita yang pernah ada di negeri nusantara yang dia kenal.

Nusantara, itulah yang saya pernah kenal, dalam beberapa tahun belakangan.
Dalam beberapa literatur, kata nusantara hanyalah ungkapan penyatuan. Wilayah yang berada antara dua benua dan dua samudera. Nusantara hanyalah symbol penyatuan, symbol keindonesiaan.

Kerajaan majapahit telah lewat. Sumpah palapa telah berlalu, namun menjadi symbol penyatuan. Nasionalisme keindonesiaan digelar seluruh tanah air. Di aceh misalnya, setiap rumah makan atau setiap tempat- tempat penting selalu bertuliskan, “ sabang- merauke”. Lain hal di papua, ada tulisan “gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar”. Ada juga “ NKRI harga mati”. Tulisan- tulisan seperti ini banyak dijumpai di beberapa tempat umum. Apalagi kata “ NKRI harga mati” jelas sering di jumpai di markas tentara.

Nasionalisme Indonesia masih berlanjut. Namun, bagi aceh, Maluku, papua dan daerah konflik lainnya, merasakan hal yang berbeda dari nasionalisme Indonesia ini.

Ungkapan “ NKRI harga mati” adalah tentu melihat gerakan separatisme yang sedang berlansung. Yang sering disebut adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) untuk papua. Indonesia masih menekankan pada kebinekaan. Tetapi, papua merasa berbeda.
Kehadiran sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928, menjadi sejarah paling penting bagi bangsa Indonesia. Dengan menekankan bahwa punya bahasa yang satu, punya bangsa yang satu dan punya tanah air yang satu.

Papua tentu tetap merasa berbeda. Dengan itu, papua memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 1 desember 1961 oleh Brigjend Zeth Rumkorem bersama rekan- rekanya. Namun, Indonesia masih bersikeras untuk tetap merebut papua dari tanah papua, atas perjanjian New York Agreement. Amerika dan Belanda menyerahkan papua kedalam pangkuan Indonesia.
Tentu tidak terlepas dari semua kepentingan. Kepentingan Amerika berhasil mendatangkan perusahaan Freeport. Freeport adalah salah satu kolonisasi di Papua. Selain penteroran dan penganiayaan lain.

Selain Freeport, kasus papua berdarah adalah bukan lelucon. Entah, biak berdarah, wamena berdarah, AB berdarah, Nabire berdarah, Merauke berdarah, waghete berdarah dan lainnya di seluruh tanah papua adalah bukan lelucon.

Tentu pelakunya adalah TNI/ Polri. Operasi garuda, operasi serigala, operasi lumba- lumba adalah sebagian dari jenis operasi yang sempat dilancarkan oleh TNI/POLRI. Operasi yang dilakukan di darat maupun laut.

Manusia mamangsa sesama manusia. Manusia papua yang tidak berdosa menjadi korban kekerasan. Contohnya, video kekerasan kemarin yang beredar terhadap pendeta kindeman gire yang dibunuh dan temannya yang melarikan diri, hanyalah sebagian kecil pelanggaran HAM yang terutama dilakukan TNI dan bahkan POLRI. Penganiyayaan, penteroran, peyiksaan, permerkosaan adalah kegiatan yang tidak pernah jahu dari TNI/ polri.

Kedatangan obama merupakan, saat yang ditunggu- tunggu. Pidato di Depok UI, adalah moment penting bagi obama kembali dengan ceritera lain, salah satu adalah mengenai persoalan papua. Sebagaimana, sejak kecil Obama dengan cerdiknya menanyakan nasib kekerasan bagi bangsa New guinea, sekarang papua, kepada ayah tirinya, Lolo Soturo saat itu.

Obama bertanya kepada ayah tirinya, "Apakah Anda pernah melihat seorang laki-laki dibunuh?", Lolo terkejut dengan pertanyaan itu.
"Apakah Anda pernah melihat?”, tanya Obama lagi.
"Ya."
"Apakah itu berdarah?"
"Ya."
Obama berpikir sejenak. "Mengapa orang itu dibunuh?"
Lolo menjawab, "Karena ia lemah. Orang lemah harus dimamfaatkan. Ketika laki- laki dan perempuan lemah, maka perlu dimamfaatkan "Lolo berhenti., Lalu bertanya kepada anak tiri yang masih muda (Obama)," Mana yang Anda lebih suka? , tentu anda harus kuat.” Tambah Lolo Sutoro

Adapun lelucon lain Obama di Depok UI, “soto”, “bakso”, itu adalah kata-kata lain yang sempat dilontarkan oleh obama. “Indonesia adalah bagian dari saya”, tuturnya lagi. Tentu ini menjadi lelucon bagi hadirin saat itu. Dengan berbahasa melayu yang terbata- bata.

“Indonesia adalah bagian dari saya”, menurut obama. Bagiannya yang jelas, tentu ada Freeport yang berkat kerja keras Jhon F Kennedy, saat itu. Kontra kerja Freeport telah diberlakukan tahun1967, selain itu, pepera yang diberlakukan di berbagai kota di tanah papua tahun 1969. Freeport telah ada sebelum pepera.

Pepera cacat hukum, merupakan tuntutan awal yang selalu diteriakkan oleh seluruh aktivis papua. Ada ceritera bahwa, pepera dilakukan atas tekanan militer RI.

Ali Murtopo tampil sebagai komandan Operasi Khusus (OPSUS), dengan masyarakat ditekan untuk memilih Indonesia. Dr. Fernando Ortiz sanz, menyesalkan kerja Indonesia dalam mempersiapkan Pepera.

Ortiz sanz merasa menyesal dengan beberapa pasal di dalam New York Agreement, yaitu,pertama, pasal XXII (22), tentang hak- hak dan kebebasan orang papua. Kedua, pasal XVII (18) tentang system “ satu orang satu suara” sesuai praktek internasional. Ketiga, pasal XVI (16), tentang PBB berhak penuh atas pengawasan dari persiapan, hingga penghalian papua barat secara administrative.

Namun, Indonesia telah membangun kekuatan dulu untuk mengambil ahli papua. Kerja- kerja militer di seluruh tanah papua. Walau Ortiz sanz telah tiba di papua barat bulan Agustus 1968, namun hanya timbul penyesalan karena secara pribadi mendapat tekanan ganda. Dengan, akar masalah Freeport yang telah masuk lebih dulu.

“ Obama semestinya harus mewacanakan masalah papua. Bukan malah menutub persoalan- persoalan papua seperti pelanggaran HAM, Genosida, dan terkait otonomi khusus. Masalah criminal yang dilakukan militer Indonesia secara sistematis ”, Kata saya. Seperti proses hearing yang dilakukan oleh tujuh orang aktivis papua, satu orang dari human right watch dan satu orang pakar sejarah dari Belanda.

“ Indonesia ini bicara lain, pikir lain, lakukan lain” kata neles tebai, selaku teolog sekaligus pengajar di STFT fajar timur, dalam buku Heboh Papua. Benar ketika kebenaran di abaikan. Keadilan diabaikan.

“Dengan senyum yang lebar , tentu Obama masih meninggalkan cerita- cerita lain di indonesia” kata saya.

Obama memang orang yang cerdik. obama sangat menghargai dalam bersalam dahulu. Obama dia mencoba untuk mengindonesiakan diri. Walaupun obama masih belum paham bahasa melayu sepenuhnya. Dia menebak- nebak kata sebagai bagian kekerarabatan dengan Indonesia. Obama hanya mencoba melakukan itu, saat di Depok UI. Tidak ada cerita lain apalagi tentang papua.

Obama menghakiri pidato dengan tenang dan cukup menyakinkan. Informasinya hanya sebatas hubungan kedua Negara. Tidak ada cerita lain, seperti HAM dan lain- lain. Dia melambaikan tangan kepada para hadirin. Kedepan. Kesamping. Keatas. Pergi juga dengan tenang, atas kawalan anak buah. Dia meningalkan ruangan itu.

kini, obama telah pergi. Kembali ke negeri adikuasa. Dua puluh dua setengah jam merupakan waktu yang cukup bagi obama di Indonesia. Dari ceritera ke ceritera dalam beberapa jam itu telah usai. Namun, hanya sebatas memperbaiki hubungan kerja kedua Negara.

“masih adakah cerita- cerita menarik lain yang belum diceritakan oleh seorang obama? masih adakah ceritera yang tertinggal di indonesia untuk perlu diceriterakan lagi?”, ungkapku.




Jumat, 10 September 2010

Matematika untuk daerah tertinggal

(Prof. Yohanes Surya Pendiri Surya Institute School of Education/STKIP Surya)

1. Pendahuluan

Indonesia adalah sebuah negara yang sangat majemuk. Penduduknya yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa ini dapat dikelompokan dalam 1128 suku bangsa yang berbicara 750 bahasa. Mereka mendiami lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dalam daerah seluas 1,919,440 sq km.

Kualitas pendidikan matematika di Indonesia sangat beragam. Mereka yang tinggal di kota-kota besar umumnya mendapat pendidikan yang cukup baik dibandingkan dengan mereka yang tinggal di daerah-daerah tertinggal (seperti mereka yang tinggal di hutan, di gunung atau di lembah-lembah). Di daerah-daerah tertinggal anak-anak sangat sulit belajar matematika. Anak usia 17 tahun masih belum mampu menghitung 9 + 5 apalagi untuk menghitung 4 x 5. Merupakan suatu tantangan besar untuk mengajar matematika di daerah-daerah tertinggal ini.

Melihat kualitas pendidikan matematika yang sangat rendah di daerah-daerah pedalaman ini, saya tertarik untuk mengadakan suatu penelitian tentang bagaimana mengajar matematika pada anak-anak yang tinggal di daerah tertinggal. Untuk itu saya memutuskan memilih satu pulau yang banyak dihuni oleh penduduk yang sangat tertinggal dalam bidang matematika yaitu Papua.

Papua adalah satu pulau di Indonesia bagian timur. Pulau ini adalah pulau yang sangat besar. Sebagian pulau milik Pemerintah New Guinea dan sebagian lagi milik Pemerintah Indonesia. Pulau ini bisa dikatakan sebagai pulau kedua terbesar didunia setelah Pulau Greenland di Eropa.

Bagian Pulau Papua yang milik Indonesia dibagi dalam 2 propinsi (Propinsi Papua dan Propinsi Papua Barat). Disini tinggal sekitar 2 juta penduduk yang terdiri dari lebih dari 270 suku bangsa. Sebagian penduduk tinggal di kota-kota besar seperti di Jayapura, Merauke dan Sorong. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah penduduk-penduduk yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Saya tertarik pada mereka yang tinggal di gunung-gunung dan dihutan-hutan karena pendidikan mereka ini jauh lebih tertinggal dari mereka yang tinggal di kota-kota.

Bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Papua, kami menyelenggarakan penelitian mengajar matematika pada anak-anak pedalaman Papua ini. Paper ini menceritakan langkah-langkah dan strategi yang kami lakukan untuk melatih dan mengajar anak-anak Papua dalam bidang matematika.

Paper terbagi dalam beberapa bagian. Setelah bagian pendahuluan ini dalam bagian kedua kami akan menceritakan tentang metode dan strategi yang kami lakukan untuk mengajar dan melatih anak-anak Papua ini. Dalam bagian ketiga kami akan menceritakan berbagai hal menarik yang terjadi dilapangan ketika melatih anak-anak Papua ini. Paper akan diakhiri dengan kesimpulan dan penelitian ke depan.

2. Metode dan Strategi

Keadaan daerah pedalaman

Anak-anak di daerah tertinggal (yang saya sebut anak pedalaman) tidak mengenal bilangan yang besar. Ada suku-suku di Papua hanya mengenal bilangan sampai 3 saja. Lebih dari 3 mereka sebut “banyak”. Dalam kehidupan mereka, mereka merasa tidak perlu matematika. Kalau mereka mau makan, mereka tinggal kehutan mencari buah-buah atau berburu hewan. Kalau mereka butuh sayuran, mereka tinggal pergi ke kebun. Mereka pikir dalam hidup mereka yang sederhana ini tidak perlu berpikir sampai angka jutaan, miliaran atau triliunan. Mereka tidak mempunyai motivasi yang kuat belajar matematika.

Anak daerah tertinggal juga mempunyai rasa percaya diri yang kurang. Orang tua terlalu sering mengatakan anak-anaknya sebagai anak bodoh. Jarang sekali orang tua mau memuji anaknya. Sehingga anak-anaknya kurang percaya diri. Ketika mereka dipertemukan dengan anak-anak dari kota, terlihat sekali betapa mindernya mereka. Mereka merasa diri bodoh dan merasa tidak akan mampu belajar matematika.

Di daerah-daerah tertentu untuk kesekolah anak-anak harus berjalan kaki 2-3 jam. Bagi mereka yang tidak mempunyai motivasi kuat untuk belajar, mereka tidak termotivasi untuk berjalan sebegitu jauhnya ke sekolah.

Di daerah pedalaman sulit mendapat guru yang berkualitas. Guru-guru ini sangat lemah dalam konten. Dalam berbagai pelatihan yang kami lakukan di berbagai daerah pedalaman kami menemukan banyak guru-guru sekolah dasar yang tidak dapat menghitung . Bahkan yang lebih ekstrim mereka tidak mampu menghitung penjumlahan 3 digit seperti 327 + 348. Latar belakang para guru ini adalah bukanlah guru matematika. Mereka adalah guru-guru olahraga, guru bahasa, guru agama yang di”paksa” menjadi guru matematika karena tidak adanya guru matematika disana.

Dengan masalah-masalah besar diatas maka untuk meningkatkan pendidikan matematika disana maka kami melakukan strategi sebagai berikut:

a. Peningkatan motivasi
b. Peningkatan rasa percaya diri
c. Pengembangan matematika GASING (Gampang Asyik Menyenangkan)
d. Pelatihan guru dan implementasi metode GASING di Indonesia.


a. Peningkatan motivasi

Anak-anak di daerah tertinggal membutuhkan motivasi untuk keluar dari lingkaran ketidak tahuan akan matematika. Mereka harus diberitahu betapa pentingnya matematika di abad modern ini. Mereka perlu tahu bahwa di luar dari daerah mereka ada yang namanya teknologi yang dapat membantu mereka hidup lebih mudah, lebih nyaman, lebih menyenangkan. Dan teknologi ini memerlukan pengetahuan matematika.

Mereka perlu diberitahu bahwa untuk bertemu dengan teman-temannya mereka tidak perlu naik gunung turun gunung berjam-jam, cukup menggunakan handphone 3G dimana mereka bisa saling melihat sambil berkomunikasi. Mereka perlu tahu bahwa bulan yang terlihat begitu jauh dapat dicapai dengan teknologi. Mereka perlu tahu bahwa teknologi sedang mengembangkan mobil terbang ataupun pesawat luar angkasa yang akan membawa mereka ke tempat lebih jauh dari bulan.

Beberapa bulan yang lalu saya pergi ke Tolikara dan memberikan seminar pada ratusan penduduk desa dan puluhan kepala suku disana. Mereka ternganga-nganga ketika saya menceritakan tentang teknologi yang sedang berkembang di dunia. Tentang adanya mesin bahasa dimana setiap bangsa nantinya dapat berkomunikasi satu sama lain dengan mudah, tentang transportasi yang dapat membawa mereka ke planet-planet yang jauh, tentang peningkatan hasil perkebunan lewat teknologi dan sebagainya. Dalam seminar itu saya tekankan bahwa perlu sekali mendorong anak-anak mereka untuk belajar matematika agar anak-anak mereka dapat juga menguasai berbagai teknologi ini. Selesai seminar banyak dari mereka meminta saya untuk melatih anak-anak mereka belajar matematika.

Saya sudah lakukan diberbagai tempat sejenis seminar untuk anak-anak pedalaman ini, hasilnya adalah seperti yang kita harapkan yaitu siswa termotivasi untuk belajar matematika.

Mereka yang sudah termotivasi ini di follow up dengan program berikut yaitu program peningkatan rasa percaya diri. Perlu ditanamkan rasa percaya diri bahwa mereka pasti bisa belajar matematika. Sama seperti rekan-rekan mereka yang ada di pulau Jawa atau daerah-daerah yang sudah berkembang lainnya.

b. Peningkatan rasa percaya diri

Tahun 2003 saya pergi ke Papua, saya menginterview beberapa orang salah satunya adalah Andrey Awoitauw. Saat itu Andrey masih kelas VI SD, kemampuan matematikanya kurang bagus tetapi ia punya semangat yang tinggi. Saat itu saya bertanya Ia jawab 1/5!

Andrey kemudian dibawa ke tempat kami tinggal di daerah Karawaci Tangerang yang terletak sekitar 25 km dari Jakarta. Disana kami latih Andrey selama 8 bulan. Amazing, Andrey berhasil meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional 2004 dalam bidang matematika. Kemudian Andrey dilatih lagi selama 8 bulan lagi dan hasilnya adalah Andrey berhasil meraih medali emas matematika Olimpiade Sains Nasional 2005

Disamping Andrey kami juga melatih beberapa anak Papua. Septinus George Saa berhasil meraih medali emas dalam lomba The First Step to Nobel Prize in Physics 2004 disusul Anike Boawire meraih medali emas juga dalam lomba yang sama di tahun 2005. Kemudian Surya Bonay meraih medali emas dalam The First Step to Nobel Prize in Chemistry.

Hasil-hasil ini membangkitkan rasa percaya diri pada anak-anak Papua. Mereka seperti tersadar bahwa kemampuan mereka sebenarnya tidak berbeda dengan siswa-siswa dari daerah-daerah lain yang lebih maju. Mereka kini punya keyakinan bahwa mereka tidak kalah dengan siswa-siswa dari berbagai daerah di Indonesia lainnya. Percaya diri membuat anak-anak di Papua lebih termotivasi lagi untuk mengejar ketertinggalannya.

Tahun 2009 saya pergi ke beberapa daerah pedalaman di Papua antara lain Tolikara,Jayawijaya (Wamena) dan Lannyjaya. Disana kami memilih 13 siswa yang terdiri dari 6 siswa kelas 5 SD, 5 siswa kelas 4 SD dan 2 siswa kelas 3 SD. Mereka dibawa ke Surya Institute di Jakarta dan dilatih matematika, piano, computer serta bahasa Inggris. Dalam waktu 6 bulan dengan menggunakan metode yang baik dan guru yang baik, ternyata anak-anak ini mampu menguasai matematika kelas 1 sampai kelas 6 SD. Tahun 2010 siswa kelas 5 yang naik ke kelas 6 mengikuti ujian nasional dan hasilnya luar biasa, 1 anak mendapat nilai 100 % dan 5 anak yang lain mendapat nilai diatas 92 %. Anak-anak yang lain sedang dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade sains nasional bidang matematika.

Tahun 2010 kami membuat gebrakan besar. Kali ini kami menawarkan kepada beberapa kabupaten di Papua untuk mengirim siswa-siswa yang mereka anggap paling bodoh ke Surya Institute. Kami hendak tunjukan bahwa siswa yang mereka anggap terbodoh ini akan mampu menguasai matematika dalam waktu hanya 6 bulan. Target kami adalah kalau anak-anak yang dianggap terbodoh ini saja mampu menguasai matematika dalam waktu singkat, maka rasa percaya diri dari anak-anak lain anak meningkat. Anak-anak yang merasa lebih baik dari anak-anak yang dianggap terbodoh ini akan lebih yakin bahwa mereka akan mampu juga menguasai matematika untuk selanjutnya menjadi orang-orang yang akan mengembangkan teknologi untuk daerahnya.

Pemerintah daerah kabupaten di Papua ini ternyata sangat tanggap. Pemerintah daerah Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Jayapura, Mappi, Nduga, Raja Ampat, Sorong Selatan, Timika, dan Yahukimo mengirimkan siswa-siswa yang dianggap terbodoh untuk dilatih di Surya Institute.

Anak yang dianggap terbodoh itu ternyata mereka mampu menguasai matematika dengan baik ketika kita memberikannya dengan metode yang baik. Ada anak yang sebelumnya sulit menjumlahkan 7 + 4 tetapi hanya dalam waktu beberapa jam saja mereka sudah mampu menghitung semua penjumlahan yang hasilnya dibawah 20. Dalam waktu 1 minggu anak-anak ini mampu menguasai berbagai jenis penjumlahan. Dalam waktu 3 minggu kemudian mereka mampu menghitung segala jenis perkalian sampai perkalian 4 digit dikalikan 4 digit.

Pemerintah daerah yang mengetahui perkembangan ini merasa sangat gembira dan sangat termotivasi. Kini mereka berlomba-lomba untuk menerapkan metode ini di daerahnya. Tahun 2011 mendatang kami akan menerapkan metode ini di berbagai kabupaten di Papua.

c. Pengembangan Matematika GASING

Matematika GASING yang kami kembangkan adalah suatu pembelajaran matematika dimana siswa belajar matematika secara mudah, asyik dan menyenangkan.

Dikatakan mudah karena metodenya sangat mudah dimengerti oleh siswa. Karena mudahnya maka siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal matematika. Ketika anak tahu cara menyelesaikan matematika, maka siswa akan merasa asyik berlatih. Mereka anggap mengerjakan soal matematika itu seperti bermain game. Mereka merasa bahwa belajar matematika itu ternyata menyenangkan sekali.

Selama 13-15 tahun mengembangkan matematika GASING ini kami melihat bahwa pelajaran matematika harus diberikan secara berurutan sebagai berikut:

1. Pengenalan bilangan
2. Penjumlahan
3. Perkalian
4. Pengurangan
5. Pembagian
6. Bilangan negatif
7. Aplikasi operasi hitung
8. Pecahan
9. Desimal
10. Geometri (termasuk skala dan simetri)

Dalam belajar matematika GASING, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa adalah sebagai berikut:

1. Siswa harus menguasai konsep matematika secara benar. Ini dilakukan lewat eksplorasi dengan menggunakan alat peraga sederhana yang disesuaikan dengan budaya anak tersebut seperti batu, panah, daun ataupun buah-buahan.

2. Siswa harus menghafalkan beberapa hasil operasi hitung seperti perkalian dengan bilangan 1 sampai 10, penjumlahan bilangan yang hasilnya kurang dari 20, pasangan 10 (bilangan yang kalau dijumlahkan hasilnya 10) dan pasangan 9 (bilangan yang kalau dijumlahkan hasilnya 9).

3. Siswa perlu belajar konsep bilangan negative. Bilangan negative ini sangat bermanfaat dalam aplikasi maupun dalam menghitung pecahan.

4. Siswa perlu mengerjakan soal cerita dalam 3 level:

o Level pertama, soalnya sangat mudah siswa dapat langsung menjawab soal dengan menggunakan 1 atau 2 operasi hitung yang sejenis. Misalnya dalam soal penjumlahan “ Budi bermain kelereng dengan Ali dan menang 23 kelereng. Kemudian Budi bermain lagi dengan Andi dan menang 15 kelereng. Jika mula-mula kelereng Budi 19 kelereng, berapa jumlah kelereng Budi sekarang?”

o Level kedua, soal dibuat dengan menggabungkan beberapa operasi hitung. Pada soal-soal ini kita juga memasukan pelajaran etika seperti perlunya membantu orang, perlunya hidup dalam keharmonisan dan sebagainya. Misalnya “Amir mengendarai sebuah mobil. Ia berangkat dari rumah pukul 07.30 menuju kantornya. Ketika sudah jalan 10 menit, ditengah jalan Amir melihat seorang anak tertabrak sepeda motor. Amir segera turun dan membawa anak itu ke rumah sakit. Waktu yang dihabiskan Amir untuk membantu anak itu 30 menit. Amir harus tiba di Kantor pukul 08.30. Jarak dari rumah sakit ke kantor sekitar 12.000 meter. Hitung berapa meter tiap menitnya Amir harus bergerak agar ia tidak terlambat tiba di Kantor”

o Level ketiga, siswa diminta untuk berpikir dan melakukan eksplorasi, disini dibutuhkan thinking out of the box, misalnya “Dengan lima angka 1 buat operasi-operasi yang hasilnya 13”.

Catatan: diatas kami katakan pentingnya bilangan negative dalam menyelesaikan soal-soal aplikasi dan pecahan. Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan bilangan negative.

- Tony mengendarai mobil dari kota Jakarta pukul 08.40 dan tiba di kota Surabaya pukul 16.20. Hitung berapa lama Tony mengendarai mobil? Dengan konsep bilangan negative kita akan peroleh hasilnya adalah 8 jam – 20 menit = 7 jam 40 menit.

- Berapa . Dalam soal ini kita lihat bahwa untuk operasi bilangan bulat menghasilkan 6-4 =2. Sedangkan operasi bilangan pecahannya adalah . Hasilnya adalah . Terlihat bahwa perhitungan jadi lebih sederhana jika menggunakan konsep bilangan negative.

Dalam mengajar matematika GASING perlu diperhatikan bahwa dalam pikiran guru tidak boleh terpikir siswa yang sedang dilatihnya ini adalah siswa yang bodoh. Setiap guru harus punya keyakinan bahwa tidak ada anak bodoh di dunia ini. Guru juga harus punya passion dalam mengajar anak-anak yang dikatakan “bodoh” ini.

d. Pelatihan Guru dan Implementasi matematika GASING di Indonesia

Untuk menyebarluaskan metode matematika GASING ini, kita perlu melatih guru-guru. Langkah-langkah yang kami akan lakukan dalam penyebarluasan metode ini di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Tiap kabupaten di Papua mengirimkan 10 guru terbaiknya + 2 siswa yang dianggap terbodoh di kabupatennya untuk dilatih di Jakarta
2. Guru ini akan dilatih selama 6 bulan sambil praktek dengan 2 siswa yang dibawanya.
3. Setelah pelatihan, guru kembali ke daerahnya. Di daerahnya tiap guru melatih 10 guru yang lain selama 6 bulan persis seperti kami melatih guru tersebut.
4. Tiap guru wajib melatih masing-masing 10 murid.

5. Lewat proses ini maka dalam waktu 3-5 tahun seluruh murid SD/SMP di daerah tersebut akan mampu menguasai matematika kelas 1 sampai kelas 6 SD.

6. Guru-guru Papua yang sudah dilatih ini nantinya bisa melatih guru-guru dari daerah tertinggal lainnya sehingga metode ini dapat tersebar secara cepat di seluruh Indonesia, khususnya untuk daerah-daerah tertinggal. Terjadilah percepatan pembangunan pendidikan di daerah tertinggal.

3.Berbagai pengalaman selama mengajar matematika Gasing

Janus adalah siswa dari kabupaten Yahukimo, ia berusia 16 tahun tetapi masih kelas IV SD. Ia tidak pernah mendapat pelajaran matematika yang baik di tempatnya. Ini terlihat pada waktu ia datang ke tempat pelatihan kami, ia tidak dapat menghitung 3+

2. Awal pelatihan kami berikan konsep bilangan sampai 100, dilanjutkan dengan konsep penjumlahan. Yanus mengalami kesulitan dalam menjumlahkan 9 + 7. Untuk membuatnya mengerti, kami menggunakan alat peraga yang berkaitan dengan budaya Papua yaitu berupa daun atau tabung panah dan anak panah. Tabung panah mempunyai tempat untuk 10 anak panah dan anak panah bernilai 1. Pertama kami tunjukan tabung anak panah dengan 9 anak panah. Kemudian kami ambil 7 anak panah. Satu anak panah kami pindahkan kedalam tabung. Di dalam tabung ada 10 anak panah dan 6 anak panah. Jumlahnya adalah 16. Pendekatan budaya membuat Yanus lebih memahami matematika secara lebih mudah. Cara lain adalah dengan menggunakan daun.

Nando anak SD kelas 5 dari Puncak Jaya, ia sulit sekali menghafalkan penjumlahan bilangan yang hasilnya 9. Ia tidak bisa mengingat 9 = 8 +1, 9 = 7 +2 , 9 = 6 + 3, 9 = 5 + 4. Nando sangat senang main games. Kami manfaatkan sebuah games semacam games luxor, tetapi bola-bola yang bergerak bertuliskan angka-angka. Misalkan bola yang bergerak bertuliskan angka 7, ia harus menembak bola itu dengan bola dengan angka 2. Dengan cara ini Nado merasa senang dan tanpa sadar belajar menghafalkan penjumlahan bilangan yang hasilnya 9 ini. Menghafal penjumlahan ini sangat penting untuk menghafalkan perkalian 9.

Ros anak dari Kabupaten Jayapura, ia lebih senang menyanyi maka kami mengajarkan perkalian 3 dengan lagu “twinkle-twinkle little star” tetapi kata-katanya diganti dengan hasil perkalian 3. Ternyata Ros senang dan ia dapat mudah menghafalkan perkalian 1-10 yang semula sangat sulit untuk diingat.

Dieterina termasuk anak yang cerdas. Kemampuan mengingatnya cukup baik. Untuk menghitung 24 x 38 kita ajarkan teknik menghitung diluar kepala. Dimulai dengan mengalikan puluhan dengan satuan (8x2) dan (4x3). Jumlahkan hasilnya 16 + 12 = 28. Disini kita punya 2 ratusan dan 8 puluhan. Kemudian kalikan puluhan dengan puluhan 2 x 3 = 6. Disini kita punya 6 ratusan. Jumlahkan ratusan ini dengan ratusan

sebelumnya, kita punya 6 + 2 = 8 ratusan. Selanjutnya kalikan satuan dengan satuan 4 x 8 = 32. Disini kita punya 3 puluhan dan 2 satuan. Sehingga totalnya kita punya 8 ratusan 11 puluhan dan 2 satuan. Kita sederhanakan lagi kita peroleh 9 ratusan 1 puluhan dan 2 satuan. Jadi 24 x 38 = 912. Cara ini sangat disukai oleh anak-anak yang cukup cerdas. Mereka mampu melakukan perkalian dengan lebih cepat dan semua dilakukan diluar kepala tanpa menulis.

Anita mengalami kesulitan dalam menghitung pembagian bersisa 41:8 = ?. Setelah kami analisa ternyata ia kurang dalam latihan perkalian. Ia mengerjakan soal perkalian hanya separuh jumlah soal-soal yang seharusnya dikerjakan. Ia juga tidak mengerjakan banyak soal pengurangan. Setelah meminta ia mengerjakan soal-soal perkalian dan pengurangan lebih banyak, ternyata anak itu sekarang demikian mudah mendapatkan 41:8 = 5 sisa 1. Kami menemukan bahwa ada proses self organizing di otak anak yang memampukan ia untuk melakukan pembagian bersisa setelah ia mengerjakan banyak soal perkalian dan pengurangan.

Kesimpulan

Dari penelitian kami melatih matematika di daerah pedalaman kami dapat menarik beberapa kesimpulan antara lain:

1.Tidak ada orang bodoh di dunia ini. Yang ada adalah orang yang belum mendapat kesempatan belajar.
2.Semua orang bisa belajar matematika dari yang muda sampai yang tua, dari yang dikatakan paling “bodoh” sampai yang dikatakan paling “pintar”.
3.Matematika dapat dikuasai orang dengan mudah kalau diajarkan dengan metode yang Gampang dan dilakukan secara asyik dan menyenangkan.
4.Dalam mengajar matematika perlu passion (kesabaran, ketekunan) dan kreativitas. Perlu dicarikan cara-cara baru yang asyik dan mudah untuk mengajar berbagai jenis siswa dengan berbagai karakter.

Kedepannya kami akan mengadakan penelitian dan implemetasi metode GASING ini diberbagai daerah lain di Indonesia maupun diberbagai daerah di dunia yang membutuhkan matematika yang mudah, asyik dan menyenangkan ini.

Mudah-mudahan lewat matematika GASING ini mereka yang sebelumnya dianggap “bodoh” bisa tampil lebih percaya diri dan ikut berpartisipasi dalam membangun dunia ini kearah yang lebih baik.


Catatan untuk para Bupati/Walikota yang tertarik untuk mengembangkan pembelajaran ini di wilayahnya dapat menghubungi Surya Institute di srisetio@suryainstitute.org, metodegasing@gmail.com atau ke Prof. Yohanes Surya surya.yohanes@gmail.com (sms: 0811997837)

Beberapa daerah yang sedang mengikuti program ini adalah: Sragen, Kudus, Kota Kediri, kab Tangerang, Kab. Kupang, kota Tomohon, Tolikara, Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Mappi, Kab Jayapura, Raja Ampat, Fakfak, Nduga, Lanny Jaya, Timika, dan Yahukimo.


sumber: http://www.yohanessurya.com/

Rabu, 04 Agustus 2010

A PART I OF MY LIFE: Jalan Pagi Sehat.


Tadi pagi, kami bagi tugas. Saya dan Nato Tebai pagi- pagi kira- kira jam 9 keluar untuk sebarkan proposal untuk persiapan buat turnamen dalam rangka mencari dana. Asik yak, karena sebagai bagian dari belajar. Kegiatan yang akan di adakan oleh se komunitas di kota studi bogor. Turnamen yang diadakan untuk mengundang teman- mahasiswa dari kota studi lain.

Ini mengigatkan saya di SMA Adhi Luhur. Saya teringat dengan Romo Bei. Romo Bei ini sangat senang dengan kegiatan seperti kemping rohani maupun kegiatan jalan- jalan.

Waktu itu, Romo Bei, dia sebagai Frater sebelum kursus alkitab di Thailand, dan menlanjutkan studi di Teologi Filsafat Dryakarya Jakarta. Awalnya di Adhi Luhur ini, dia buat kegiatan jalan ke Dokar. Artinya jalan- jalan ke mata air, jalan kaki, dan balik pun jalan kaki. Dan tempat itu kira- kra 5 kilo meter dari Adhi Luhur. Adhi Luhur ini merupakan salah satu kolese Jesuit dalam pembebasan pendidikan. Dan juga ini merupakan salah satu dari kolese Jesuit yang ada di indonesia dan di Papua adalah salah satunya.

Sebelum kedokar itu kita di suruh persiapkan segalanya untuk pembambilan nilai agama. Karena Frater Bei (sekarang Romo Bei) merupakan guru agama di Kolese yang termasuk kedalam Yayasan Tiellmans Papua.

Dari situlah saya mengenal banyak teman dari berbagai daerah. Karena saya ini merupakan siswa baru dari Pedelaman Papua. Kota kecil peningalan Belanda dalam beberapa tahun silam. Belanda yang dibilang bagus oleh seluruh warga Papua dibangding pergaulan dengan Indonesia. Indonesia yang selalu lempar batu sembunyi tangan. Dibilang peduli padahal tidak peduli terhadap dirinya sendiri.

Jujur. Saya waktu datang dari pedelaman kota kecil Waketei ke Nabire itu , saya tidak bisa berbicara berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bicara pun menjadi kaku. Dan, akhirnya pergaulan saat itu membuat saya agak tertutup. Tidak leluasa seperti teman- teman lain dari kota nabire.

Saya masih ingat kata- kata yang itu saya kasih keluar, kemudian menjadi tertawaan bagi banyak orang. Saya bilang sama adik Denis Badii, saat kita lagi petik Sayur di Kebun. Waktu itu, ada mamade bilang sama saya untuk harus datang ambil sayur yang telah dipetik mamade. Saya bilang, Denis, dorang bilang bagaimana? ....


Pokoknya waktu itu, berbasa- basi, dorang....kitorang,....dan lain- lain.

Saat kita ke dokar pun sama. Karena memang masih baru sehingga saya bicarapun masih berbasa- basi.

Waktu itu, Frater suruh kami untuk berbaur sesama teman agar kenal satu sama lain. Tapi, memang waktu itu saya masih ragu untuk bergaul dengan teman- teman dari kota. Teman- teman kota yang waktu itu saya ajak bicara itu hanya sama saudara perempuan yakni Yuliana Pekei, yang sekarang masih di nabire.

Ketika saya salah bicara, saudara Yuli Pekei yang membela saya. Tapi, dengan berjalannya waktu akhirnya, saya bisa juga untuk berbahasa Indonesia. Saya kira, kita lebih mahir berbahasa indonesia di banding teman- teman Jakarta ataupun lainnya. Saya yakin itu sesuai buku yang di tulis Fredi Numbery dan beberapa diskusi bersama teman- lain dari daerah lain.

Setelah dari kegiatan dokar, di lanjutkan dengan kegiatan kemping. Kegiatan kemping yang dilaksanakan di lapangan Adhi Tama atau sekarang lapangan Persinab atau lapangan Adhi Putra. Dilapangan Adhi Luhur ini kita buat 20 tenda. Dari kegiatan ini, selain kegiatan yang berkaitan dengan religius, kegiatan yang tak kalah pentingnya adalah kunjugan ke kantor untuk kerja.

Awalnya kita dirusuh jangan makan. Tapi cari makan di kantor dengan minta bantu kerja di kantor. Entah sapu- sapu, entah mengetik, entah babat rumput, atapun kerja apa yang halal.

Sebelum berangkat ke kantor, kami di bagi kelompok menjadi 25. kalau tidak salah, saya dapat kelompok 15. kita punya ketua kelompok itu, Mira Kobogau. Mira Kobogau ini, badanya besar, dan tinggi kira mendekati badan normalnya anak- anak Paskibra. Dan memang Mira Kobogau ini sempat ikut paskibra saat kita kelas 2 di adhi luhur.

Setelah itu, kita pergi melewati jalan merdeka. Pertama kami masuk di perusahaan Telkom. Disana kita pergi temui bapak yang disitu. Akhirnya kami diperbolehkan untuk kerja bakti di samping rumahnya. Rumputnya tidak terlalu tinggi karena, setiap saat di potong dengan mesin potong. Saat itu, kita hanya meratakan rumput itu saja. Kelompok kami terdiri dari 10 orang.

Setelah kami kerja bakti, kami disuruh makan. Kemudian kami dikasih 200 ribu rupiah. Sebenarnya kami harapkan adalah 200 dolar sebagai harga ganti rugi PT freeport, yang status hukumnya tidak jelas. Tapi gitulah karena masuk dalam rupiah.

Syukur. Kami bagi 20 ribu untuk satu orang. Kemudian kami lanjutkan ke kantor lain. namun, kami tidak di terima karena, tidak ada kerjaan yang bisa diselesaikan.

Akhirnya, sampailah kami mendekati pada waktu yang ditentukan oleh Romo Bei. Karena begitu, kami makan bakso yang ada didepan gedung putih nabire ( kantor kabupaten nabire).

Dari situlah saya belajar kunjungan ke kantor untuk berbagai urusan. Artinya, saya baru kenal untuk hal ini. Jelas, saya hanya kenal, dunia anak yang ada di kota kecil peningalan belanda itu. Misalnya, permainan tradisonal yang sudah dikenal.

Melihat itu, Saya tidak tahu tapi nato tebai sudah siapkan motor king di depan kontrakan untuk sebarkan proposal di seluruh kota Bogor. Setelah saya sama Nato siapkan tujuh proposal. Satu proposal kita kasih ke gedung seni dan budaya IPB. Gedung megah yang di miliki oleh IPB. Dari sarana olahraga inilah akhirnya IPB menerima penghargaan dari menpora dari SBY jilid 1, bahwa IPB merupakan kampus prima. Keprimaannya selalu menjadi perdebatan ketika harga sewa sarana olahraga naik. Namun, sekarang sudah harga standart.

Saya dan Nato masuk ke Gymnasium untuk menyerahkan sebundel proposal yang telah dikreasikan oleh teme- teman sekomunitas Bogor itu. Saya dan dik Nato diterima duduk oleh salah satu penerima arsip itu. Karyawan itu badannya tinggi. Kira- kira mencapai 2 meter. Entah kenapa saya tidak tahu tapi memang dia punya tinggi begitu. Bila dilihat dari wajahnya, tampaknya orang jawa. Entah jawa tengah atau jawa timur dan bukan asal jawa barat atau daerah pasundan. Daerah yang punya ciri khas tersendiri ini.

Daerah pasundan ya daerah pasundan. Daerah yang kalau tidak salah, nasibnya hampir sama yang dirasakan di papua.

Bapak karyawan setelah ambil proposal itu. Ia periksa sesuai perizinan kami. Dan, setelah kami lihat, maka jumlah uang yang kami harus bayar adalah 520.000 rupiah. Saya Kira kurang untuk stándar obama. Stándar obama yang sudah dan sedang mensetafet perusahaan raksasa PT Freeport, terekayasa dan CACAT HUKUM didepan mata ini. Semoga saja kalau datang ke indonesia. Ia dapat mengulanggi pertanyaan yang sempat diajukan sama ayah tirinya saat di menteng jakarta. Bagaimana dengan kabar kondisi papua ( dahulunya ia sebut: warga new guinea)

Tapi, jumlah uang yang dibilang pak karyawan, bagi kami merasa harus lobi lagi dengan baik untuk hari berikutnya.

Saya dengan adik Nato Tebai melanjutkan perjalanan lagi. Yang menjadi saksi bisu hanyalah motor king yang lajunya melebih motor lainnya. Sampai adik Nato , menancap gas demi terselesainya tugas yang diberikan teman- teman.

Tapi gila choy, saya cari alamat proposal yang dituju. Sampai saya dengan adik Nato bolak- balik sepanjang jalan baru, jalan padjajaran dan jalan djuanda. Saya Kira nama jalan yang menyimpan sejuta cerita bagi masyarakat pasundan. Entah mengenai pajajaran, entah juanda, ataupun lainnya. Apalagi melihat gedung WHITE HOUSE ( ISTANA BOGOR) yang dimiliki masyarakat bogor, lebih umunya warga pasundan yang menyimpan sejuta cerita.

Akhirnya, selesai juga penyebaran proposal. Dan, tersisa satu buah proposal.

Saya dan dik Nato sempat ke alamat yang ditulis oleh teman- teman. Namur, salah tulis alamatnya. Yang sebenarnya jalan Raya Tajur, ditulis Jalan Baru. Wah, tambah tugas lagi untuk diselesaikan di hari berikutnya.


Kemudian, kami dua pulang kembali. Kembali ke basecamp untuk berkumpul lagi bersama teman- teman. Berkumpul seperti beberapa tahun silam, yang dilakukan orang tua dulu, hidup dalam kebersamaan.

Hari berikutnya, saya kaget bangun ketika dik Nato sedang membangunkan saya. Karena, saya tidur pulas di kamar. Nato bilang kak, bagun untuk persiapan. Tapi, saya masih ngatuk untuk tidur. Saat dik Nato menanyakan alamat proposal yang ingin ditujupun saya menjawabnya dengan terbata- bata. Pokoknya, gituhlah karena gantuk punya permainan.

Saya tidur lagi. Nato lanjutkan print satu proposal lagi untuk tambahan. Dan sekalian dia persiapan surat- surat lainnya.

Kira- kira pukul 10 pagi saya dengan Nato pergi gunakan motor yang selalu menjadi teman setia itu. Akhirnya, berhadapan juga dengan macet di sekitar BBS. Tapi saya hanya berdoa agar tidak macet untuk negara ini, tidak macet untuk perintahan ini. Tidak macet untuk birokrasi ini, tidak macet bagi hak- hak aceh, tidak macet untuk hak- hak pasundan, tidak macet untuk masyarakat borneo, tidak macet untuk rakyat timor barat (ntt), tidak macet untuk maluku, apalagi bagi papua.

Bila memang yang terlihat adalah demikian maka, benar yang dikatakan guru besar UGM ini, Amien Rais bahwa, negara ini ibarat negara yang masih menunjukan pagarnya saja, padahal dalam rumahnya berantakan. Inilh kritikan tajam yang ditulis oleh bapak Amien Rais dalam bukunya ”Agenda Mendesak Bangsa”.

Saya dengan Nato tiba di depan PT SINAR SOSRO. Saya menyerahkan proposal ke bapak satpamnya karena bagian umum yang menangani bagian proposal lagi keluar. Kami diberikan nomor kontaknya. Kami diberitahu untuk besok dihubungi. Saya ambil nomor itu, dan kami dua lanjutkan perjalanan lagi.

Alamat yang dituju selanjutnya ini, saya maupun dik Nato tidak tahu. Sehingga saya dengan dik hanya mengandalkan modal tanya dijalan. Kira- Kira beberapa kali kami menanyakan alamat jalan Raya Tajur ini. Tempat yang kami dua sedang tuju di PT COCA- COLA.

Dari depan pagar gapura masuk saya kasih keluar proposal itu, ternyata alamat yang dituju salah tulis. Padahal, sebelumnya juga, salah alamat dan tidak sempat untuk kasih ke pihak perusahaan yang dituju.

Ternyata dik Nato salah dengar. Karena mengatuk dan terbata-batanya saya membuat dik nato salah dengar dan salah kreasi. Semoga saya tidak seperti itu untuk menjerumuskan orang lain pada jalan yang salah.

Akhirnya, walaupun cape kami dua bergegas lagi untuk menyelesaikan masalah kecil ini, dari pada mengurusi bangsa indonesia yang kian hari kian berantakan ini. Kami dua bergegas untuk mencari warnet dan penjilitan terdekat untuk menganti alamat jalan maupun menjilid ulang.

Namun, kami dua tidak ketemu. Kami dua pakai motor lagi kira- kira menempuh 5 kilo meter, setelah kami dua menempuh 25 kilometer dari basecamp tercinta. Wao sungguh capek kita dua nih, tapi ini masalah kepercayaan dan tanggung jawab. Maka, yang ada saat itu mengatakan, harus dan harus selesaikan saat itu juga.

Dari Tajur, kami dua buru- buru ke Ciawi. Hanya cari warnet dan tempat penjilidan. Dari warnet adik Nato masuk, ternyata tidak bisa print berwarna. Akhirnya kami dua melangkah lagi ke warnet yang jaraknya 100 meter. Dari situ, kami dua tidak bisa print lagi karena, datanya telah tersimpan di microsoft 2007 dan tidak bisa terbuka di microskop 2003, untuk print berwarna.

Sial benar hari ini. Kami dua harus buru- buru lagi ke warnet yang jaraknya 50 meter. Akhirnya, kami dua print itu. Namanya ”warnet asah”. Warnet ini sebenarnya teras yang dijadikan tempat online. Padahal dibelakangnya ada rumah penjaga itu. Kayaknya, dia orang cina. Dia sempat cerita bahwa dia punya mama sempat ke Jayapura. Dia punya adik tugas di Jayapura sebagai jaksa. Jaksa, yang zaman orang tua mengatakan kepala kampung. Kepala kampung yang sebagai mediator, bukan mempropokasi.

Setelah print kami dua, masukan untuk mau jilid. Ternyata, kami dua lupa bawa stempel lagi. Karena, yang jelas setelah diganti alamat pasti tanda tangan dan tentunya akan dibubuhi dengan stempel.

Lupa ya lupa. Lupa tertingal di basecamp tercinta. Tapi, saya dan dik nato tidak berharap untuk ”lupa akan keriting rambutku, hitam kulitku, melanesiku, dan tentunya tanah papuaku”.

Waduh, saya dan dik Nato harus balik lagi ke basecamp tercinta untuk mengambil stempel lagi. Stempel yang ditujukan untuk dibubuhkan di sebundel proposal.

Setelah ditempel lalu dijilid. Akhirnya jadi deh. Tinggal tancap gas choy. Dalam pertengahan jalan kami dihadagi oleh hujan lebat. Walaupun waktu semakin sore. Saya hanya berharap saja, agar perusahaan PT COCA- COLA masih buka. Harapan saya, seperti mengharapkan sejuta ketenagan, sejuta kesejukan ditengah hirup pikuknya dunia yang semakin tidak jelas, ditengah ketidakjelasannya bangsa indonesia. Setelah disana, Kami berikan proposal itu sama bagian proposal di PT COCA- COLA karena masih ada.

Yes..., beres. Akhirnya kami dua balik ke basecamp.

sementara dalam perjalanan, saat di didepan pom bensin dekat Gunung Batu, kami dua disambar oleh motor bebek jenis Vega. bila kita lihat motor, bodi motornya sudah dilepas, tapi sedang bergaya didepan pom bensin itu dan menabrak kami berdua. Walaupun, yang salah itu, dia ( yang menabrak kami) namun kami dua kasih 100 ribu karena, dia sudah tergores sedikit di kakinya. Kalau kami dua masih stabil karena dik Nato sudah rem dan patahkan stir motor. Dan, kami dua tidak terjadi kecelakaan apa- apa seperti luka dan lainnya.

Pokoknya, begitulah, kami dua yang kasih uang sama yang tabrak kami itu. Tanpa melihat, dia ini siapa? Dengan latar belakangnya bagaimana?

Akhirnya, kembalilah ke basecam untuk berkumpul bersama- sama lagi. Yes, beres. Di basecamp kami untuk mendiskusikan rencana persiapan selanjutnya untuk mau adakan turnmen Futsal dan voli di gimnasium IPB tercinta.

Dan, saat ini, yang ada di benak hanyalah, perasaan berharap. Berharap akan dijawabnya permohonan kami dan suksesnya kegiatan kami. Seperti berharapnya, sang surya menyinari kembali untuk jalan pagi karena akan sehat.

Semoga, acara kami lancar saja, GOD, HELP ME, PLEASE?