(Prof. Yohanes Surya Pendiri Surya Institute School of Education/STKIP Surya)
1. Pendahuluan
Indonesia
adalah sebuah negara yang sangat majemuk. Penduduknya yang berjumlah sekitar
240 juta jiwa ini dapat dikelompokan dalam 1128 suku bangsa yang berbicara 750
bahasa. Mereka mendiami lebih dari 17.000 pulau yang tersebar dalam daerah
seluas 1,919,440 sq km.
Kualitas
pendidikan matematika di Indonesia sangat beragam. Mereka yang tinggal di
kota-kota besar umumnya mendapat pendidikan yang cukup baik dibandingkan dengan
mereka yang tinggal di daerah-daerah tertinggal (seperti mereka yang tinggal di
hutan, di gunung atau di lembah-lembah). Di daerah-daerah tertinggal anak-anak
sangat sulit belajar matematika. Anak usia 17 tahun masih belum mampu
menghitung 9 + 5 apalagi untuk menghitung 4 x 5. Merupakan suatu tantangan
besar untuk mengajar matematika di daerah-daerah tertinggal ini.
Melihat
kualitas pendidikan matematika yang sangat rendah di daerah-daerah pedalaman
ini, saya tertarik untuk mengadakan suatu penelitian tentang bagaimana mengajar
matematika pada anak-anak yang tinggal di daerah tertinggal. Untuk itu saya
memutuskan memilih satu pulau yang banyak dihuni oleh penduduk yang sangat
tertinggal dalam bidang matematika yaitu Papua.
Papua
adalah satu pulau di Indonesia bagian timur. Pulau ini adalah pulau yang sangat
besar. Sebagian pulau milik Pemerintah New Guinea dan sebagian lagi milik
Pemerintah Indonesia. Pulau ini bisa dikatakan sebagai pulau kedua terbesar
didunia setelah Pulau Greenland di Eropa.
Bagian
Pulau Papua yang milik Indonesia dibagi dalam 2 propinsi (Propinsi Papua dan
Propinsi Papua Barat). Disini tinggal sekitar 2 juta penduduk yang terdiri dari
lebih dari 270 suku bangsa. Sebagian penduduk tinggal di kota-kota besar
seperti di Jayapura, Merauke dan Sorong. Tetapi yang menarik perhatian saya
adalah penduduk-penduduk yang tinggal di daerah-daerah pedalaman. Saya tertarik
pada mereka yang tinggal di gunung-gunung dan dihutan-hutan karena pendidikan
mereka ini jauh lebih tertinggal dari mereka yang tinggal di kota-kota.
Bekerja
sama dengan Pemerintah Daerah Papua, kami menyelenggarakan penelitian mengajar
matematika pada anak-anak pedalaman Papua ini. Paper ini menceritakan
langkah-langkah dan strategi yang kami lakukan untuk melatih dan mengajar
anak-anak Papua dalam bidang matematika.
Paper
terbagi dalam beberapa bagian. Setelah bagian pendahuluan ini dalam bagian
kedua kami akan menceritakan tentang metode dan strategi yang kami lakukan
untuk mengajar dan melatih anak-anak Papua ini. Dalam bagian ketiga kami akan
menceritakan berbagai hal menarik yang terjadi dilapangan ketika melatih
anak-anak Papua ini. Paper akan diakhiri dengan kesimpulan dan penelitian ke
depan.
2. Metode dan Strategi
Keadaan daerah pedalaman
Anak-anak
di daerah tertinggal (yang saya sebut anak pedalaman) tidak mengenal bilangan
yang besar. Ada suku-suku di Papua hanya mengenal bilangan sampai 3 saja. Lebih
dari 3 mereka sebut “banyak”. Dalam kehidupan mereka, mereka merasa tidak perlu
matematika. Kalau mereka mau makan, mereka tinggal kehutan mencari buah-buah
atau berburu hewan. Kalau mereka butuh sayuran, mereka tinggal pergi ke kebun.
Mereka pikir dalam hidup mereka yang sederhana ini tidak perlu berpikir sampai
angka jutaan, miliaran atau triliunan. Mereka tidak mempunyai motivasi yang
kuat belajar matematika.
Anak
daerah tertinggal juga mempunyai rasa percaya diri yang kurang. Orang tua
terlalu sering mengatakan anak-anaknya sebagai anak bodoh. Jarang sekali orang
tua mau memuji anaknya. Sehingga anak-anaknya kurang percaya diri. Ketika
mereka dipertemukan dengan anak-anak dari kota, terlihat sekali betapa
mindernya mereka. Mereka merasa diri bodoh dan merasa tidak akan mampu belajar
matematika.
Di
daerah-daerah tertentu untuk kesekolah anak-anak harus berjalan kaki 2-3 jam.
Bagi mereka yang tidak mempunyai motivasi kuat untuk belajar, mereka tidak
termotivasi untuk berjalan sebegitu jauhnya ke sekolah.
Di
daerah pedalaman sulit mendapat guru yang berkualitas. Guru-guru ini sangat
lemah dalam konten. Dalam berbagai pelatihan yang kami lakukan di berbagai
daerah pedalaman kami menemukan banyak guru-guru sekolah dasar yang tidak dapat
menghitung . Bahkan yang lebih ekstrim mereka tidak mampu menghitung
penjumlahan 3 digit seperti 327 + 348. Latar belakang para guru ini adalah
bukanlah guru matematika. Mereka adalah guru-guru olahraga, guru bahasa, guru
agama yang di”paksa” menjadi guru matematika karena tidak adanya guru
matematika disana.
Dengan
masalah-masalah besar diatas maka untuk meningkatkan pendidikan matematika
disana maka kami melakukan strategi sebagai berikut:
a. Peningkatan motivasi
b. Peningkatan rasa percaya
diri
c. Pengembangan matematika
GASING (Gampang Asyik Menyenangkan)
d. Pelatihan guru dan
implementasi metode GASING di Indonesia.
a. Peningkatan motivasi
Anak-anak
di daerah tertinggal membutuhkan motivasi untuk keluar dari lingkaran ketidak
tahuan akan matematika. Mereka harus diberitahu betapa pentingnya matematika di
abad modern ini. Mereka perlu tahu bahwa di luar dari daerah mereka ada yang
namanya teknologi yang dapat membantu mereka hidup lebih mudah, lebih nyaman,
lebih menyenangkan. Dan teknologi ini memerlukan pengetahuan matematika.
Mereka
perlu diberitahu bahwa untuk bertemu dengan teman-temannya mereka tidak perlu
naik gunung turun gunung berjam-jam, cukup menggunakan handphone 3G dimana
mereka bisa saling melihat sambil berkomunikasi. Mereka perlu tahu bahwa bulan
yang terlihat begitu jauh dapat dicapai dengan teknologi. Mereka perlu tahu
bahwa teknologi sedang mengembangkan mobil terbang ataupun pesawat luar angkasa
yang akan membawa mereka ke tempat lebih jauh dari bulan.
Beberapa
bulan yang lalu saya pergi ke Tolikara dan memberikan seminar pada ratusan
penduduk desa dan puluhan kepala suku disana. Mereka ternganga-nganga ketika
saya menceritakan tentang teknologi yang sedang berkembang di dunia. Tentang
adanya mesin bahasa dimana setiap bangsa nantinya dapat berkomunikasi satu sama
lain dengan mudah, tentang transportasi yang dapat membawa mereka ke
planet-planet yang jauh, tentang peningkatan hasil perkebunan lewat teknologi
dan sebagainya. Dalam seminar itu saya tekankan bahwa perlu sekali mendorong
anak-anak mereka untuk belajar matematika agar anak-anak mereka dapat juga
menguasai berbagai teknologi ini. Selesai seminar banyak dari mereka meminta
saya untuk melatih anak-anak mereka belajar matematika.
Saya
sudah lakukan diberbagai tempat sejenis seminar untuk anak-anak pedalaman ini,
hasilnya adalah seperti yang kita harapkan yaitu siswa termotivasi untuk
belajar matematika.
Mereka
yang sudah termotivasi ini di follow up dengan program berikut yaitu program
peningkatan rasa percaya diri. Perlu ditanamkan rasa percaya diri bahwa mereka
pasti bisa belajar matematika. Sama seperti rekan-rekan mereka yang ada di
pulau Jawa atau daerah-daerah yang sudah berkembang lainnya.
b. Peningkatan rasa
percaya diri
Tahun
2003 saya pergi ke Papua, saya menginterview beberapa orang salah satunya
adalah Andrey Awoitauw. Saat itu Andrey masih kelas VI SD, kemampuan
matematikanya kurang bagus tetapi ia punya semangat yang tinggi. Saat itu saya
bertanya Ia jawab 1/5!
Andrey
kemudian dibawa ke tempat kami tinggal di daerah Karawaci Tangerang yang terletak
sekitar 25 km dari Jakarta. Disana kami latih Andrey selama 8 bulan. Amazing,
Andrey berhasil meraih medali perak dalam Olimpiade Sains Nasional 2004 dalam
bidang matematika. Kemudian Andrey dilatih lagi selama 8 bulan lagi dan
hasilnya adalah Andrey berhasil meraih medali emas matematika Olimpiade Sains
Nasional 2005
Disamping
Andrey kami juga melatih beberapa anak Papua. Septinus George Saa berhasil
meraih medali emas dalam lomba The First Step to Nobel Prize in Physics 2004
disusul Anike Boawire meraih medali emas juga dalam lomba yang sama di tahun
2005. Kemudian Surya Bonay meraih medali emas dalam The First Step to Nobel
Prize in Chemistry.
Hasil-hasil
ini membangkitkan rasa percaya diri pada anak-anak Papua. Mereka seperti
tersadar bahwa kemampuan mereka sebenarnya tidak berbeda dengan siswa-siswa
dari daerah-daerah lain yang lebih maju. Mereka kini punya keyakinan bahwa
mereka tidak kalah dengan siswa-siswa dari berbagai daerah di Indonesia
lainnya. Percaya diri membuat anak-anak di Papua lebih termotivasi lagi untuk
mengejar ketertinggalannya.
Tahun
2009 saya pergi ke beberapa daerah pedalaman di Papua antara lain
Tolikara,Jayawijaya (Wamena) dan Lannyjaya. Disana kami memilih 13 siswa yang
terdiri dari 6 siswa kelas 5 SD, 5 siswa kelas 4 SD dan 2 siswa kelas 3 SD.
Mereka dibawa ke Surya Institute di Jakarta dan dilatih matematika, piano,
computer serta bahasa Inggris. Dalam waktu 6 bulan dengan menggunakan metode
yang baik dan guru yang baik, ternyata anak-anak ini mampu menguasai matematika
kelas 1 sampai kelas 6 SD. Tahun 2010 siswa kelas 5 yang naik ke kelas 6
mengikuti ujian nasional dan hasilnya luar biasa, 1 anak mendapat nilai 100 %
dan 5 anak yang lain mendapat nilai diatas 92 %. Anak-anak yang lain sedang
dipersiapkan untuk mengikuti olimpiade sains nasional bidang matematika.
Tahun
2010 kami membuat gebrakan besar. Kali ini kami menawarkan kepada beberapa
kabupaten di Papua untuk mengirim siswa-siswa yang mereka anggap paling bodoh
ke Surya Institute. Kami hendak tunjukan bahwa siswa yang mereka anggap
terbodoh ini akan mampu menguasai matematika dalam waktu hanya 6 bulan. Target
kami adalah kalau anak-anak yang dianggap terbodoh ini saja mampu menguasai
matematika dalam waktu singkat, maka rasa percaya diri dari anak-anak lain anak
meningkat. Anak-anak yang merasa lebih baik dari anak-anak yang dianggap
terbodoh ini akan lebih yakin bahwa mereka akan mampu juga menguasai matematika
untuk selanjutnya menjadi orang-orang yang akan mengembangkan teknologi untuk
daerahnya.
Pemerintah
daerah kabupaten di Papua ini ternyata sangat tanggap. Pemerintah daerah
Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Tolikara, Puncak Jaya, Jayapura, Mappi, Nduga,
Raja Ampat, Sorong Selatan, Timika, dan Yahukimo mengirimkan siswa-siswa yang
dianggap terbodoh untuk dilatih di Surya Institute.
Anak
yang dianggap terbodoh itu ternyata mereka mampu menguasai matematika dengan
baik ketika kita memberikannya dengan metode yang baik. Ada anak yang
sebelumnya sulit menjumlahkan 7 + 4 tetapi hanya dalam waktu beberapa jam saja
mereka sudah mampu menghitung semua penjumlahan yang hasilnya dibawah 20. Dalam
waktu 1 minggu anak-anak ini mampu menguasai berbagai jenis penjumlahan. Dalam
waktu 3 minggu kemudian mereka mampu menghitung segala jenis perkalian sampai
perkalian 4 digit dikalikan 4 digit.
Pemerintah
daerah yang mengetahui perkembangan ini merasa sangat gembira dan sangat
termotivasi. Kini mereka berlomba-lomba untuk menerapkan metode ini di
daerahnya. Tahun 2011 mendatang kami akan menerapkan metode ini di berbagai
kabupaten di Papua.
c. Pengembangan
Matematika GASING
Matematika
GASING yang kami kembangkan adalah suatu pembelajaran matematika dimana siswa
belajar matematika secara mudah, asyik dan menyenangkan.
Dikatakan
mudah karena metodenya sangat mudah dimengerti oleh siswa. Karena mudahnya maka
siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal matematika. Ketika
anak tahu cara menyelesaikan matematika, maka siswa akan merasa asyik berlatih.
Mereka anggap mengerjakan soal matematika itu seperti bermain game. Mereka
merasa bahwa belajar matematika itu ternyata menyenangkan sekali.
Selama
13-15 tahun mengembangkan matematika GASING ini kami melihat bahwa pelajaran
matematika harus diberikan secara berurutan sebagai berikut:
1. Pengenalan bilangan
2. Penjumlahan
3. Perkalian
4. Pengurangan
5. Pembagian
6. Bilangan negatif
7. Aplikasi operasi hitung
8. Pecahan
9. Desimal
10. Geometri (termasuk
skala dan simetri)
Dalam
belajar matematika GASING, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh siswa
adalah sebagai berikut:
1.
Siswa harus menguasai konsep matematika secara benar. Ini dilakukan lewat
eksplorasi dengan menggunakan alat peraga sederhana yang disesuaikan dengan
budaya anak tersebut seperti batu, panah, daun ataupun buah-buahan.
2.
Siswa harus menghafalkan beberapa hasil operasi hitung seperti perkalian dengan
bilangan 1 sampai 10, penjumlahan bilangan yang hasilnya kurang dari 20,
pasangan 10 (bilangan yang kalau dijumlahkan hasilnya 10) dan pasangan 9 (bilangan
yang kalau dijumlahkan hasilnya 9).
3.
Siswa perlu belajar konsep bilangan negative. Bilangan negative ini sangat
bermanfaat dalam aplikasi maupun dalam menghitung pecahan.
4.
Siswa perlu mengerjakan soal cerita dalam 3 level:
o
Level pertama, soalnya sangat mudah siswa dapat langsung menjawab soal dengan
menggunakan 1 atau 2 operasi hitung yang sejenis. Misalnya dalam soal
penjumlahan “ Budi bermain kelereng dengan Ali dan menang 23 kelereng. Kemudian
Budi bermain lagi dengan Andi dan menang 15 kelereng. Jika mula-mula kelereng
Budi 19 kelereng, berapa jumlah kelereng Budi sekarang?”
o
Level kedua, soal dibuat dengan menggabungkan beberapa operasi hitung. Pada
soal-soal ini kita juga memasukan pelajaran etika seperti perlunya membantu
orang, perlunya hidup dalam keharmonisan dan sebagainya. Misalnya “Amir
mengendarai sebuah mobil. Ia berangkat dari rumah pukul 07.30 menuju kantornya.
Ketika sudah jalan 10 menit, ditengah jalan Amir melihat seorang anak tertabrak
sepeda motor. Amir segera turun dan membawa anak itu ke rumah sakit. Waktu yang
dihabiskan Amir untuk membantu anak itu 30 menit. Amir harus tiba di Kantor
pukul 08.30. Jarak dari rumah sakit ke kantor sekitar 12.000 meter. Hitung
berapa meter tiap menitnya Amir harus bergerak agar ia tidak terlambat tiba di
Kantor”
o
Level ketiga, siswa diminta untuk berpikir dan melakukan eksplorasi, disini
dibutuhkan thinking out of the box, misalnya “Dengan lima angka 1 buat
operasi-operasi yang hasilnya 13”.
Catatan:
diatas kami katakan pentingnya bilangan negative dalam menyelesaikan soal-soal
aplikasi dan pecahan. Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan bilangan
negative.
-
Tony mengendarai mobil dari kota Jakarta pukul 08.40 dan tiba di kota Surabaya
pukul 16.20. Hitung berapa lama Tony mengendarai mobil? Dengan konsep bilangan
negative kita akan peroleh hasilnya adalah 8 jam – 20 menit = 7 jam 40 menit.
-
Berapa . Dalam soal ini kita lihat bahwa untuk operasi bilangan bulat
menghasilkan 6-4 =2. Sedangkan operasi bilangan pecahannya adalah . Hasilnya
adalah . Terlihat bahwa perhitungan jadi lebih sederhana jika menggunakan
konsep bilangan negative.
Dalam
mengajar matematika GASING perlu diperhatikan bahwa dalam pikiran guru tidak
boleh terpikir siswa yang sedang dilatihnya ini adalah siswa yang bodoh. Setiap
guru harus punya keyakinan bahwa tidak ada anak bodoh di dunia ini. Guru juga
harus punya passion dalam mengajar anak-anak yang dikatakan “bodoh” ini.
d. Pelatihan Guru dan
Implementasi matematika GASING di Indonesia
Untuk
menyebarluaskan metode matematika GASING ini, kita perlu melatih guru-guru.
Langkah-langkah yang kami akan lakukan dalam penyebarluasan metode ini di
Indonesia adalah sebagai berikut:
1.
Tiap kabupaten di Papua mengirimkan 10 guru terbaiknya + 2 siswa yang dianggap
terbodoh di kabupatennya untuk dilatih di Jakarta
2.
Guru ini akan dilatih selama 6 bulan sambil praktek dengan 2 siswa yang
dibawanya.
3.
Setelah pelatihan, guru kembali ke daerahnya. Di daerahnya tiap guru melatih 10
guru yang lain selama 6 bulan persis seperti kami melatih guru tersebut.
4. Tiap guru wajib melatih
masing-masing 10 murid.
5.
Lewat proses ini maka dalam waktu 3-5 tahun seluruh murid SD/SMP di daerah
tersebut akan mampu menguasai matematika kelas 1 sampai kelas 6 SD.
6.
Guru-guru Papua yang sudah dilatih ini nantinya bisa melatih guru-guru dari
daerah tertinggal lainnya sehingga metode ini dapat tersebar secara cepat di
seluruh Indonesia, khususnya untuk daerah-daerah tertinggal. Terjadilah
percepatan pembangunan pendidikan di daerah tertinggal.
3.Berbagai pengalaman
selama mengajar matematika Gasing
Janus
adalah siswa dari kabupaten Yahukimo, ia berusia 16 tahun tetapi masih kelas IV
SD. Ia tidak pernah mendapat pelajaran matematika yang baik di tempatnya. Ini
terlihat pada waktu ia datang ke tempat pelatihan kami, ia tidak dapat
menghitung 3+
2.
Awal pelatihan kami berikan konsep bilangan sampai 100, dilanjutkan dengan
konsep penjumlahan. Yanus mengalami kesulitan dalam menjumlahkan 9 + 7. Untuk
membuatnya mengerti, kami menggunakan alat peraga yang berkaitan dengan budaya
Papua yaitu berupa daun atau tabung panah dan anak panah. Tabung panah
mempunyai tempat untuk 10 anak panah dan anak panah bernilai 1. Pertama kami
tunjukan tabung anak panah dengan 9 anak panah. Kemudian kami ambil 7 anak
panah. Satu anak panah kami pindahkan kedalam tabung. Di dalam tabung ada 10
anak panah dan 6 anak panah. Jumlahnya adalah 16. Pendekatan budaya membuat
Yanus lebih memahami matematika secara lebih mudah. Cara lain adalah dengan
menggunakan daun.
Nando
anak SD kelas 5 dari Puncak Jaya, ia sulit sekali menghafalkan penjumlahan
bilangan yang hasilnya 9. Ia tidak bisa mengingat 9 = 8 +1, 9 = 7 +2 , 9 = 6 +
3, 9 = 5 + 4. Nando sangat senang main games. Kami manfaatkan sebuah games
semacam games luxor, tetapi bola-bola yang bergerak bertuliskan angka-angka.
Misalkan bola yang bergerak bertuliskan angka 7, ia harus menembak bola itu
dengan bola dengan angka 2. Dengan cara ini Nado merasa senang dan tanpa sadar
belajar menghafalkan penjumlahan bilangan yang hasilnya 9 ini. Menghafal
penjumlahan ini sangat penting untuk menghafalkan perkalian 9.
Ros
anak dari Kabupaten Jayapura, ia lebih senang menyanyi maka kami mengajarkan
perkalian 3 dengan lagu “twinkle-twinkle little star” tetapi kata-katanya
diganti dengan hasil perkalian 3. Ternyata Ros senang dan ia dapat mudah
menghafalkan perkalian 1-10 yang semula sangat sulit untuk diingat.
Dieterina
termasuk anak yang cerdas. Kemampuan mengingatnya cukup baik. Untuk menghitung
24 x 38 kita ajarkan teknik menghitung diluar kepala. Dimulai dengan mengalikan
puluhan dengan satuan (8x2) dan (4x3). Jumlahkan hasilnya 16 + 12 = 28. Disini
kita punya 2 ratusan dan 8 puluhan. Kemudian kalikan puluhan dengan puluhan 2 x
3 = 6. Disini kita punya 6 ratusan. Jumlahkan ratusan ini dengan ratusan
sebelumnya,
kita punya 6 + 2 = 8 ratusan. Selanjutnya kalikan satuan dengan satuan 4 x 8 =
32. Disini kita punya 3 puluhan dan 2 satuan. Sehingga totalnya kita punya 8
ratusan 11 puluhan dan 2 satuan. Kita sederhanakan lagi kita peroleh 9 ratusan
1 puluhan dan 2 satuan. Jadi 24 x 38 = 912. Cara ini sangat disukai oleh
anak-anak yang cukup cerdas. Mereka mampu melakukan perkalian dengan lebih
cepat dan semua dilakukan diluar kepala tanpa menulis.
Anita
mengalami kesulitan dalam menghitung pembagian bersisa 41:8 = ?. Setelah kami
analisa ternyata ia kurang dalam latihan perkalian. Ia mengerjakan soal
perkalian hanya separuh jumlah soal-soal yang seharusnya dikerjakan. Ia juga
tidak mengerjakan banyak soal pengurangan. Setelah meminta ia mengerjakan
soal-soal perkalian dan pengurangan lebih banyak, ternyata anak itu sekarang
demikian mudah mendapatkan 41:8 = 5 sisa 1. Kami menemukan bahwa ada proses
self organizing di otak anak yang memampukan ia untuk melakukan pembagian
bersisa setelah ia mengerjakan banyak soal perkalian dan pengurangan.
Kesimpulan
Dari
penelitian kami melatih matematika di daerah pedalaman kami dapat menarik
beberapa kesimpulan antara lain:
1.Tidak
ada orang bodoh di dunia ini. Yang ada adalah orang yang belum mendapat
kesempatan belajar.
2.Semua
orang bisa belajar matematika dari yang muda sampai yang tua, dari yang
dikatakan paling “bodoh” sampai yang dikatakan paling “pintar”.
3.Matematika
dapat dikuasai orang dengan mudah kalau diajarkan dengan metode yang Gampang
dan dilakukan secara asyik dan menyenangkan.
4.Dalam
mengajar matematika perlu passion (kesabaran, ketekunan) dan kreativitas. Perlu
dicarikan cara-cara baru yang asyik dan mudah untuk mengajar berbagai jenis
siswa dengan berbagai karakter.
Kedepannya
kami akan mengadakan penelitian dan implemetasi metode GASING ini diberbagai
daerah lain di Indonesia maupun diberbagai daerah di dunia yang membutuhkan
matematika yang mudah, asyik dan menyenangkan ini.
Mudah-mudahan
lewat matematika GASING ini mereka yang sebelumnya dianggap “bodoh” bisa tampil
lebih percaya diri dan ikut berpartisipasi dalam membangun dunia ini kearah
yang lebih baik.
Catatan
untuk para Bupati/Walikota yang tertarik untuk mengembangkan pembelajaran ini
di wilayahnya dapat menghubungi Surya Institute di srisetio@suryainstitute.org,
metodegasing@gmail.com atau ke Prof. Yohanes Surya surya.yohanes@gmail.com
(sms: 0811997837)
Beberapa daerah yang
sedang mengikuti program ini adalah: Sragen, Kudus, Kota Kediri, kab Tangerang,
Kab. Kupang, kota Tomohon, Tolikara, Jayawijaya, Pegunungan Bintang, Puncak
Jaya, Mappi, Kab Jayapura, Raja Ampat, Fakfak, Nduga, Lanny Jaya, Timika, dan
Yahukimo.
sumber: http://www.yohanessurya.com/