Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.
Tampilkan postingan dengan label SAINS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAINS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2011

Narasi dan Pantau

setelah selesai pertemuan terakhir dengan bu Janet Steele. @ sumber foto: mbak Figoh.

setelah selesai pertemuan terakhir dengan mas Andreas Harsono. @ sumber foto: mbak Figoh.


SAYA TIDAK PERLU perdebatkan panjang lebar lagi mengenai buku, “ Agama saya adalah Jurnalisme”.  Sebelumnya, Saya sudah membaca  diblog  Andreas Harsono. Argumen yang baik  untuk wilayah Indopahit ini. Andreas yakin, hanya dengan Jurnalisme  dapat menyelesaikan persoalan di bangsa ini.

“Saya lihat semua negara yang mencampur urusan negara dengan agama tak ada yang beres. Misalnya Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lainnya. Di dunia ini tak ada negara yang agamanya seragam. Selalu ada banyak agama minoritas. Isunya adalah bagaimana memperlakukan mereka kalau salah satu agama dijadikan dasar bernegara? Saat itu juga akan ada agama lain yang menjadi kelas dua,” kata Andreas Harsono, kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, Kamis (3/5) 2007 lalu.

Hari itu, mampir ke warnet. Kesana  untuk melihat informasi yang sedang melintas di facebook (fb). Saya tersentak dengan buku merah karangan gemilang  Andreas Harsono. Dengan semakin penasaran  untuk membaca. Apalagi disajikan secara memikat dan mendalam.

Dalam bulan Desember 2010 itu,  Andreas itu sudah publikasi di FB (facebook). Saya pun  mempublikasikan buku itu. Buku ini  layak dibaca oleh siapa saja yang peduli terhadap tanah air. Apalagi di wilayah Indopahit. Perlunya pemahaman yang cukup untuk kebersamaan dan tentunya kemajuan Jurnalisme.

Dua kali saya pun mempublikasikan ulang tulisan ini.

 saya membuka halaman demi halaman. Tulisan buku ini adalah sebagian tulisan yang ada di blog. Blog ini saya sempat membaca beberapa tulisan yang di blog. Misalnya mengenai, Sembilan Elemen Jurnalisme, Agama saya adalah Jurnalisme, dan belajar menulis bahasa inggris dan lain- lain. Sebuah elemen yang baik bagi Jurnalisme di tanah air.
Buku Sembilan Elemen Jurnalisme, adalah buku yang sangat baik   dalam memajukan Jurnalisme. Apalagi Jurnalisme ditanah air.   Titik tolak pertama adalah pada kebenaran.

Ucapan terima kasih bagi Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Dari diskusi ke diskusi. Dari kepedulian akan kemajuan Jurnalisme yang awalnya berkembang di Cambridge, Amerika, akhirnya menghasilkan buku yang gemilang juga, yakni Sembilan Elemen Jurnalisme yang diterjemahkan oleh Andreas Harsono. Edisi revisinya, sepuluh elemen Jurnalisme. Hanya ditambahkan hak dan kewajiban bagi warga. Buku  yang ditulis secara mendalam dan memikat.

                                                                     ***

DISKUSI SINGKAT. Pada kos berwarna pink dengan dalamnya berwarna biru. Kontrakan kawan- kawan Nabire. Disinilah sesama komunitas bercanda tawa dan bersama sebagai sesama komunitas. Sungguh senangnya hidup bersama.  Bersama saat suka maupun duka.

“Kawan, ko kenal mas Andreas Harsono ka tidak?” kata kawan Auki

“Saya belum kenal” sahutku cepat untuk mendegar keterangan selanjutnya

“ ko bergabung ke dia pu FB. Ko gabung saja supaya ko tambah kenal deng dia.”

“dia adalah orang yang sangat hebat” Katanya untuk meyakinkan saya.

Pertemuan singkat dengan kawan telah usai. Sore itu, otak- atik dengan FB. Sayapun add fb mas Andreas Harsono. Tujuannya, hanya satu, ingin belajar menulis. Menulis bisa menjadi inspirasi yang bagi orang yang ingin mengenal papua lebih dekat. Bersuara demi tanah Papua. Orang papua perlu bersuara.

 Dalam beberapa hari berjalan, ada informasi untuk  ‘Kursus Jurnalisme Sastrawi’. Kursus yang akan berlansung di Yayasan Pantau. Disinilah, saya kenal Sembilan elemen Jurnalisme.

Walaupun belum mengenal baik di fb namun saya secara pribadi menawarkan diri untuk ikut kursus. Informasi ini awalnya saya tawarkan diri lewat fb. Setelah ada informasi bahwa, akan dipertimbangkan, akhirnya saya mengirimkan email saya.
Kemudian, saya membaca email, ada formulir pendaftaran  di email. Saya mendaftar diri secara online. Formulir yang telah didesain mengunakan program Microsotf Exel. Ada beberapa nama kawan- kawan juga yang tampil di email itu, diantaranya Heni Lani, Yulan Kurima Meke, Oktovianus Pogou, dan Kristianus Madai.

Saya diterima. Saya ikut kursus selama dua minggu. Ikut kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan XVIII. Saya bergabung bersama kawan- kawan.

Pelatihan selama dua minggu memberikan masukan sangat berarti bagi saya sebagai orang papua. saya bertemu dengan beberapa wartawan tanah air. Juga ketemu dengan karyawan yayasan pantau, yang selalu menemani kami.

Kawan- kawan yayasan Pantau misalnya, Basilius Triharyanto, Imam Shofwan, dan Siti Nurrofiqoh. Saya juga mendegar cerita bahwa, ada juga beberapa orang yang dari yayasan Pantau, Budy Setiyono, Endah Yuliani, Khoruddien dan Sri Maryani dan lain- lain (lainnya saya belum kenal baik). Ucapan terima kasih buat kalian. Saya banyak belajar juga dari kalian.

Kemudian kepada mantan karyawan Pantau, Chik Rini penulis “ kegilaan di simpang kraft ” dan Linda Cristanty seorang wartawan dan sekaligus sastrawan. Serta segala penyumbang tulisan dengan judul Buku “ Jurnalisme sastrawi”. Buku yang disunting oleh Adreas Harsono dan Budy Setiyoso. Tulisan mereka  yang menginspirasi saya.
Saya pun banyak belajar dari beberapa wartawan tanah air yang sedang kursus bersama. Walaupun selama dua minggu bertatab muka. Terima kasih buat kalian juga.  Teristimewa kepada pemandu materi, Janeet Steal dan mas Andreas Harsono.

Janet steele adalah seorang dosen di Universitas Washington. DC, Amerika. Andreas Harsono adalah wartawan asal Indonesia.  Ini   memberikan inspirasi yang cukup, apalagi saya sebagai orang papua yang harus banyak belajar jurnalisme, supaya yang tersembunyi dibumi tanah papua dapat terungkap.

“Memang, sampai kesana butuh proses. Tapi, dari belajar ke belajar pastilah bisa memberikan hasil yang memuaskan”, kata saya.

Saya dari Bogor ke Jakarta. Jakarta tinggal sama Okto Pogou dan selalu bolak- balik dari kontrakan Okto di uki. Tujuannya, hanya satu, ingin mendalami penulisan secara Jurnalisme Sastrawi. Bahasa krennya, menulis kreatif. Kerap kali disebut juga menulis Narasi.

Senang sekali mendalami genre ini.

                                                                      ***

BANGUNAN BERLANTAI tiga, bercat krem kekuningan adalah ruangan kami. Ruangan kami yang berbentuk persegi panjang yang kira- kira 6m x 3m. Dengan tinggi kira- kira tiga meter. Di ruangan ber-AC ini adalah tempat kami mengikuti pelatihan ‘kursus Jurnalisme Sastrawi’.

Baik ketika dipandu oleh Janeet Steal maupun mas Andreas Harsono, tulisan kami sebagai orang papua tentu agaknya hadir dengan isu- isu Papua. Kami ingin memberikan semacam pemahaman saja kepada kawan- kawan peserta kursus. Supaya mereka pun tahu bagaimana nasib orang Papua.

Kami hadir sekaligus untuk memberikan pemahaman. Walaupun tulisan kami, masih pemula pun belum. Walaupun masih dalam taraf belajar. Bagi kami sebagai orang papua, tidak menjadi soal, tetapi yang terpenting adalah masih dengan niatan untuk belajar. Belajar menulis kreatif itu. Atau yang disebut menulis Narasi.

                                                                         ***

DARI TANGGAL 26 JULI AKHIR HINGGA awal agustus adalah waktu kami mengikuti Jurnalisme Sastrawi. Ditempat yang sama. Dikantor Yayasan Pantau adalah tempat kami belajar,  dalam waktu pendek namun masukan yang sangat berarti.
Banyak bacaan yang memberikan inspirasi. Dari perkembangan Jurnalisme di Amerika hingga di tanah air. Dari kerusuhan di Aceh, Pontianak, hingga Papua. Nasip transmigran di pulau Buru hingga diskusi bagaimana meliput wilayah konflik.

Meliput wilayah konflik ini dipandu oleh Aboeprijadi Santoso. Dia adalah wartawan penyiar radio  Nederlands.  Dimoderatori oleh Basilius Triharyanto, karyawan pantau itu. Diskusi ini berlansung selama satu setengah jam. Diakhiri dengan foto bersama.

Ketika membaca bukunya Shindunata. Penulis feature terkenal. Kumpulan tulisan feature. Nasib para pidana di Pulau Buru, sangat tidak adil dirasakan oleh militer. Mereka menjadi budak. Apalagi bila memahami bukunya Pramudya Anantatoer. Pramudya pun hadir dengan cerita dari Pulau Buru, ketika beliau menjadi tahanan. Sedih.

Ketika membaca tulisan buku lain Linda Cristanty mengenai nasib para transmigran Jawa di Sumatra, sungguh tragis juga bagi mereka.  Transmigran jawa pun hidup ditengah penekanan.  Ternyata bila dipikir- pikir, banyak sekali ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa dan sistim ini untuk warganya.

Bedanya, ketidakadilan bagi Papua di perlakukan berbeda. Warga tanah air adalah korban dari sistim yang salah dari bangsa ini.

Papua, Namanya juga dibilang separatis. Namanya juga di bilang makar. Tentu, perlakuan pun berbeda. Mungkin saja, hampir sama dengan warga Ache, Borneo, Maluku, dan berbagai daerah di tanah air.

Selain itu juga, Kondisi warga  misalnya, kita melihat warga di sekitar lumpur lapindo yang katanya sahamnya milik Umar- Bakri namun, tak ada penyelesaian jelas untuk mengamankan penghidupan yang layak bagi warga. Ujung- ujunnya hanyalah milik kaum pemodal. Merekalah yang memainkan system. Rakyatlah yang menderita. Inilah adalah contoh rusaknya moral bangsa ini.

Kehadiran lumpur lapindo di Sidoarjo. Kehadiran Freeport  tembagapura Papua. Kehadiran Exon Mobil di Ache dan perusahaan pengacau lainnya di tanah air, itu hanyalah pengacau bagi kehidupan rakyat kecil.  Malah, rakyat kecillah yang menderita.

 Perusahaan exon mobil  adalah milik Amerika. Amerika  yang Notabenenya adalah naluri Kapitalis, naluri Kolonialis dan Imperalis. Saya belum tahu pasti, apakah perusahaan ini ditutup atau tidak.

Dari ruangan itu, Dari cerita ke ceritera. Dari diskusi ke diskusi. Saya semakin mengerti. Semakin mengerti bahwa, bangsa ini bangsa indopahit. System sudah salah. Rakyatlah yang menderita.

“Untuk warga tanah Papua,  sistim yang salah mengarahkan suku bangsa Melanesia, suku bangsa Negroid kearah yang salah juga. Hanya tinggal satu solusi yakni Pembebasan Nasional”, kata saya. Inilah Kerinduan warga tanah Papua. Warga lain pun punya kerinduan juga untuk terbebas dari system yang salah dari bangsa ini.

Kita sangat berbeda. Mereka melayu dan kita Negroid. Negara kepulauan Melanesia. Sejarah membeberkan panjang mengenai hal tersebut, supaya warga melayu paham.

                                                                        ***

HARI ITU, sudah jam delapan malam. Aku harus ke Gramedia mampir dulu di Gramedia yang terletak di lantai Dasar. Gramedia yang sangat ramai dikunjungi pengunjung yang berlalu lalang. Ada yang sedang membaca. Ada yang membeli. Ada yang hanya melihat- lihat.

Bagiku, hari itu hanya untuk lihat- lihat. Namun, dari pandangan enam meter, saya melihat buku merah terpampang jelas disebelah rak. Saya mendekat. “agama saya adalah jurnalisme”, tertulis jelas di buku itu. Buku inilah yang terlintas setelah menbaca. Tak berpikir  panjang lagi. Saya beli satu buah. Masih tersisa beberapa di Gramedia.

Saya beli  untuk mendalami kembali tulisan- tulisan ini. Banyak sekali cerita yang mengisahkan untuk perkembangan Jurnalisme di tanah air. Agar Jurnalisme ditanah air selalu berpatokan pada Sembilan ataupun Sepuluh Elemen Jurnalisme.  Agar jurnalisme ditanah air terlihat baik.

Senang membaca tulisan yang mendalam dan memikat. Terima kasih pantau atas jenis tulisan narasi. Ingin menambah inspirasi. Sekaligus ingin belajar.

Saya orang tanah Papua perlu belajar.





Rabu, 01 Desember 2010

Ekspresikan trus, Kawan …!!!


Dari kejahuan kudengar. Pagi itu, hape bermerk nokia telah berdering. Tanda ada beberapa pesan masuk.

“met HUT kemerdekaan Papua Barat”, kata adik yang saya kenal diseberang.
“terima kasih dikku, met HUT Papua juga” jawabku cepat.
“Selamat atas kemerdekaan Papua Barat pada 1 Desember 2010 yang ke - 49”, kata orang lain yang ada diseberang.
“terima kasih juga yah, atas sms ini” jawabku lagi.
“merdeka bangsaku, jayalah negeriku untuk pembebasan” kata sms lainnya.
“thanks”, ucapku.

Dari sms ini saya ingat cerita masa lalu, pada, pace Brigjend Seth Yafet Rumkorem di wilayah markas Victoria . Dia memproklamirkan kemerdekaan Papua Barat, walaupun Indonesia mengatakan papua adalah Negara boneka buatan Belanda. Pernyataan kemerdekaan papua tidak berlansung lama karena Indonesia melalui militer mengambil ahli kekuasan wilayah Papua Barat kedalam Indonesia.

Sekaranglah saatnya, Sebagai bukti bangga pada tanah papua. Saya pun bergegas membuat sms yang mengatakan selamat hari kemerdekaan bagi bangsa Papua kepada beberapa teman. Mereka pun ucapkan terima kasih. Bagiku, karena kita sudah pernah merdeka. Walaupun sampai saat ini belum ada pengakuan dari RI.

Tentu ini melahirkan kebebasan berpikir oleh orang- orang Papua atas semua ketidakadilan yang terjadi. Namun, beberapa hari belakangan ini, pemerintah RI lewat kaki tangannya selalu mengangu dan menghalangi naluri protes dan kebebasan anak Papua dengan menghadang tanpa hukum yang jelas. 

Biasanya, bentuk kebanggaan bagi bangsa Papua sudah tentunya mengumandangkan lagu kebangsaan “ hai tanahku papua”. Namun, bagi pemeritahan RI, menamakan ini adalah bentuk separatis.

Walaupun, symbol- symbol yang berkenaan dengan Papua diperbolehkan oleh Gusdur .Namun, orang- orang yang muncul ditengah, selalu menjadi penghalang bagi kebebasan berekspersi anak- anak Papua. 
Tahun 2004, Filib Karma tampil untuk menyuarakan hak sebagai anak negeri papua, dengan mengibarkan bendera bintang kejora di Biak, namun dianggap makar. Begitupun, antara Fillip Karma dan Yusak Pakage yang mendemontrasikan haknya namun masih disebut sebagai makar. 

Todius Tabuni terbunuh tanggal 9 agustus di Wamena merupakan bukti penghadangan dan penghalangan oleh pemerintahan RI melalui senjata utamanya militer. Tapol- Napol Papua di Abepura Papua merupakan bukti juga bahwa RI masih saja menghadang kebebasan berekspresi dari anak- anak papua. 

Aksi yang pernah dipimpin oleh Muchtar Tabuni saat itu, agar menuntaskan kasus Todius Tabuni, tak ada berujuk pasti yang ditemukan. Kebebasan ekspresi anak- anak negeri Papua dijadikan sesuatu yang ditendang tanpa arah dan tujuan. Malah, kebebasan ekspresi anak- anak Papua dijadikan sebagai bola pimpong yang hanya dilempar kesana- kemari. 

Dari kebebasan berekspresi itu, semua adalah dianggap sebagai bentuk separatis. Ada kisah, awal bulan Juli tanggal 4 Juli Solidaritas Perempuan Papua (SPP) dianggap sebagai organisasi separatis. Oleh karena itu, Abina Wasanggai, Sp.d selaku sekertaris umum membantah atas isu tersebut.
Kisah lain, saat pengibaran bendera 28 juli 2006 di kantor distrik Sentani, Yakob Ambo Mamori yang berusia 25 tahun diperiksa di rumah sakit jiwa. Kepolisian polres Jayapura, mengatakan bahwa Yakob sakit jiwa. 

Itulah mereka ( RI) dan antek- anteknya. Ada kesan bahwa, mereka hanya memberikan nama dari tindakan anak negeri papua, walaupun dianggap tidak logis sekalipun. Dibilang makar, dibilang cacat mental, dibilang organisasi separatis dan lainnya.

Sengaja dibuat saja untuk menghadang kebebasan ekspresi dari anak- anak papua. Lihat saja, wartawan dilarang masuk ke Papua. Apalagi berbicara soal wartawan luar negeri. Masih tetap dilarang. Sekalipun ada, mungkin butuh proses yang sangat ketat. 

Saya bersyukur kepada ketiga anak- anak negeri papua yang sms saya tadi. Ternyata mengigatkan saya pada hari kemenangan bangsa Papua Barat. Saya bersyukur, karena mereka mengekspresikan hari kemenangan itu.

Syukur, syukur saja karena tadi mereka bisa sms. Syukur sobat- sobatku, karena sobat telah mengekspresikan apa yang menjadi bagian anda. Selalu berekspresi trus yah, kawan, walau ditolak sekalipun.