Dari kejahuan kudengar. Pagi itu, hape bermerk
nokia telah berdering. Tanda ada beberapa pesan masuk.
“met HUT kemerdekaan Papua Barat”, kata adik yang
saya kenal diseberang.
“terima kasih dikku, met HUT Papua juga” jawabku
cepat.
“Selamat atas kemerdekaan Papua Barat pada 1
Desember 2010 yang ke - 49”, kata orang lain yang ada diseberang.
“terima kasih juga yah, atas sms ini” jawabku lagi.
“merdeka bangsaku, jayalah negeriku untuk
pembebasan” kata sms lainnya.
“thanks”, ucapku.
Dari sms ini saya ingat cerita masa lalu, pada,
pace Brigjend Seth Yafet Rumkorem di wilayah markas Victoria
. Dia memproklamirkan kemerdekaan Papua Barat, walaupun Indonesia
mengatakan papua adalah Negara boneka buatan Belanda. Pernyataan kemerdekaan
papua tidak berlansung lama karena Indonesia
melalui militer mengambil ahli kekuasan wilayah Papua Barat kedalam Indonesia.
Sekaranglah saatnya, Sebagai bukti bangga pada
tanah papua. Saya pun bergegas membuat sms yang mengatakan selamat hari
kemerdekaan bagi bangsa Papua kepada beberapa teman. Mereka pun ucapkan terima
kasih. Bagiku, karena kita sudah pernah merdeka. Walaupun sampai saat ini belum
ada pengakuan dari RI.
Tentu ini melahirkan kebebasan berpikir oleh orang-
orang Papua atas semua ketidakadilan yang terjadi. Namun, beberapa hari
belakangan ini, pemerintah RI lewat kaki tangannya selalu mengangu dan
menghalangi naluri protes dan kebebasan anak Papua dengan menghadang tanpa
hukum yang jelas.
Biasanya, bentuk kebanggaan bagi bangsa Papua sudah
tentunya mengumandangkan lagu kebangsaan “ hai tanahku papua”. Namun, bagi
pemeritahan RI, menamakan ini adalah bentuk separatis.
Walaupun, symbol- symbol yang berkenaan dengan
Papua diperbolehkan oleh Gusdur .Namun, orang- orang yang muncul ditengah,
selalu menjadi penghalang bagi kebebasan berekspersi anak- anak Papua.
Tahun 2004, Filib Karma tampil untuk menyuarakan
hak sebagai anak negeri papua, dengan mengibarkan bendera bintang kejora di Biak,
namun dianggap makar. Begitupun, antara Fillip Karma dan Yusak Pakage yang
mendemontrasikan haknya namun masih disebut sebagai makar.
Todius Tabuni terbunuh tanggal 9 agustus di Wamena
merupakan bukti penghadangan dan penghalangan oleh pemerintahan RI melalui
senjata utamanya militer. Tapol- Napol Papua di Abepura Papua merupakan bukti
juga bahwa RI masih saja menghadang kebebasan berekspresi dari anak- anak
papua.
Aksi yang pernah dipimpin oleh Muchtar Tabuni saat
itu, agar menuntaskan kasus Todius Tabuni, tak ada berujuk pasti yang
ditemukan. Kebebasan ekspresi anak- anak negeri Papua dijadikan sesuatu yang
ditendang tanpa arah dan tujuan. Malah, kebebasan ekspresi anak- anak Papua
dijadikan sebagai bola pimpong yang hanya dilempar kesana- kemari.
Dari kebebasan berekspresi itu, semua adalah
dianggap sebagai bentuk separatis. Ada
kisah, awal bulan Juli tanggal 4 Juli Solidaritas Perempuan Papua (SPP)
dianggap sebagai organisasi separatis. Oleh karena itu, Abina Wasanggai, Sp.d
selaku sekertaris umum membantah atas isu tersebut.
Kisah lain, saat pengibaran bendera 28 juli 2006 di
kantor distrik Sentani, Yakob Ambo Mamori yang berusia 25 tahun diperiksa di
rumah sakit jiwa. Kepolisian polres Jayapura, mengatakan bahwa Yakob sakit
jiwa.
Itulah mereka ( RI) dan antek- anteknya. Ada
kesan bahwa, mereka hanya memberikan nama dari tindakan anak negeri papua,
walaupun dianggap tidak logis sekalipun. Dibilang makar, dibilang cacat mental,
dibilang organisasi separatis dan lainnya.
Sengaja dibuat saja untuk menghadang kebebasan
ekspresi dari anak- anak papua. Lihat saja, wartawan dilarang masuk ke Papua.
Apalagi berbicara soal wartawan luar negeri. Masih tetap dilarang. Sekalipun
ada, mungkin butuh proses yang sangat ketat.
Saya bersyukur kepada ketiga anak- anak negeri
papua yang sms saya tadi. Ternyata mengigatkan saya pada hari kemenangan bangsa
Papua Barat. Saya bersyukur, karena mereka mengekspresikan hari kemenangan itu.
Syukur, syukur saja karena tadi mereka bisa sms.
Syukur sobat- sobatku, karena sobat telah mengekspresikan apa yang menjadi
bagian anda. Selalu berekspresi trus yah, kawan, walau ditolak sekalipun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.