Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.

Jumat, 13 Mei 2011

MIFEE, bukan solusi pangan untuk masyarakat Pribumi Papua.

this is a map of the papua lands, recently in merauke lands, where, mifee is a program of government of indonesia.




this is a picture about planning only. Just to development to MIFEE's program..



Pengantar
Ada sebuah cerita yang berkembang di bumi Papua, tepatnya di kabupaten Merauke. Katanya, program MIFEE menjadi sebuah prioritas di kabupaten ini, dengan tujuan mengembangkan pangan dan energy bagi nasional. Tetapi apakah tujuan ini menjadi transparansi semua elemen termasuk masyarakat pribumi. Ini mungkin menjadi jawaban bagi berdirinya program MIFEE ini.
Ketika, menengok kebelakang, tentu tidak terlepas dari sejarah masa lalu. Entahlah, menamakan teori lama, modifikasi baru bagi tanah Papua. Karena, tentu MIFEE bisa saja berkat ataupun kutuk. Untuk itulah, saya coba uraikan saja sesuai pemahaman saya saja dengan program MIFEE.
Sejarah menjawab

MIFEE ATAU Merauke Integrated Food and Energy Estate ,yang digagas oleh bupati Merauke, Jhon Gluba Gebse ini, secara resmi di canangkan oleh Jhon saat perigatan HUT merauke yang ke 108 pada tanggal 12 Februari 2010. Tentu bupati ini memunyai tujuan hanya untuk pengembangan pangan dan energy di kabupaten Merauke. Hal inilah yang mendasari Jhon Gluba Gepse ,namun, kenyataan dan tujuan tersebut berbicara lain. Tengok saja, kota Merauke dari dekat. Tanah seluas 1.616.234,56 dengan kekayaan akan kayu, binatang buruan, dan sumber makanan pokok, serta manusia menjadi tantangan terbesar dengan masuknya program MIFEE.
Program MIFEE ini sedang berbicara bahwa, hal ini merupakan teori lama yang gunakan oleh zaman VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), sebuah perusahan saat ini sudah Berjaya di Zamannya. Yang tentunya, nasib pribuminya menjadi tanda Tanya. Mifee tidak lain adalah, hanya itu. Mengunakan teori lama. System tanam paksa. Metode perampasan tanah, melalui undang- undang agrarian 1870 dan politik etis zaman belanda saat itu.
Untuk membandingkan dengan MIFEE, mari kita bercermin pada jaman VOC, Daendels, Raffles, Sistem Tanam Paksa (STP), UU Agraria 1870, Politik Etis (PE), Fasisme Jepang & Revolusi Borjuasi 1945, Sistem Setengah Jajahan Setengah Feodal (SJSF) Sejak 1949 & Gagalnya Land Reform. Inilah sederetan pengalaman yang memberikan inspirasi berdirinya program berskala besar seperti MIFEE.
Ketika kongsi Belanda bernama VOC didirikan pada tahun 1602, 6 tahun setelah Cornelis de Houtman mendarat di Banten tahun 1596. Saat itu, awalnya VOC hanya melaksanakan monopoli di komoditas yang laku di pasaran Eropa, yakni komoditas rempah- rempah. Namun, karena Voc memunyai pengaruh saat itu dan berlansung, akhirnya dari monopoli bergeser ke usaha tanam berbagai komoditas. VOC pun saat itu titik focus pada dunia pertanian, yang katanya adalah nadi berkembangnya kehidupan manusia. 
Selain rempah- rempah, voc mengembangkan usaha pertanian lainnya yakni kopi. Bagaimana dengan MIFEE di Merauke? Saya pikir di Merauke pun sama. Awalnya hanyalah lumbung padi, namun kemudian sekarang, banyak komoditas yang prioritas MIFEE. Lebih kepada pangan dan energi. Inilah satu-satunya tantangan bagi kaum pribumi setempat yang telah dirampas dan diberikan kepada 33 Investor yang akan membuat perkebunan kelapa sawit, kedelai, jagung, industri kayu, perikanan darat dan peternakan.
Saat VOC Berjaya, benteng pertahanan mereka di Batavia ( sekarang Jakarta). System yang pernah dijalankan oleh VOC ini adalah kerja paksa bagi masyarakat pribumi. Ini tentu motif untuk memaksimalkan produktivitas komoditas atapun motip lainnya menjadi pertanyaan. Begitupun, dengan MIFEE yang baru kemarin lahir saat di canangkan Jhon Gluba Gebse yang katanya, bapak MIFEE. 
Setelah VOC dinyatakan bubar pada tahun 1799 (VOC resmi dibubarkan pada 1 Januari 1800; hak miliknya dialihkan kepada pemerintah Belanda), karena bangkrut akibat besarnya biaya perang, banyaknya beban hutang dan lebih sebagai akibat dari korupsi yang merajalela didalamnya – dimana akibat bangkrutnya Kongsi Dagang tersebut biasa disebut juga dengan VOC = Vergaan Onder Corruptie = Bubar Karena Korupsi, Sistem Perkebunan skala besar dilanjutkan oleh Daendels (1808-1811) dan Raffles (1811-1816) 
Dengan cara merombak birokrasi tanah jajahan. Mereka menerapkan penarikan pajak seperti pada jaman feodalisme Eropa, terutama pajak tanah dan hasil bumi. Sistem upeti yang semula diterapkan, digantikan dengan Pajak Tanah atau Land Rent yang dibayar dengan penyerahan wajib atau Verlichte Leveraties atas hasil panen. Sistem ini didasari ide agar ada kepastian hukum dalam menguasai tanah di wilayah Hindia Belanda saat itu.
Rakyat jajahan dibawah dominasi VOC, Daendels dan Raffles mengalami dua sistem penindasan yang berlangsung secara bersamaan : (1) mereka harus membayar pajak tanah dan penyerahan wajib hasil panen kepada pemerintahan kolonial dan, (2) mereka harus menyerahkan upeti dan penggunaan tenaga secara cuma-cuma bagi penghidupan para bangsawan lokal. Dua sistem penindasan ini melahirkan klas-klas kolonial, tuan tanah (raja dan bangsawan) dan tani hamba dalam masyarakat saat itu.
Dengan melihat ini, tentu MIFEE merupakan motif yang sama. Pengembangan dunia pertanian. Tapi apakah ini menjadi penyelamat bagi masyarakat yang memiliki hak ulayat. Inilah memang menjadi jawaban dari sumber sejarah yang ada.
Pemerintahan dan kaum konglomerat
MIFEE yang dimandatkan melalui PP No.18/2010 sangat memihak investor atau pemodal dengan janji pemberian insentif fiskal. Jelas lah bahwa ketahanan pangan tidak lagi mengandalkan inisiatif dan usaha masyarakat setempat, tetapi menjadi industri yang menguasai hulu hingga hilir. Langkah ini tidak sesuai dengan janji Menteri Pertanian, Suswono, untuk mengalokasilkan lebih banyak lahan bagi petani kecil
Dari hal inilah, Kita ketahui bahwa, perintah dalam hal ini adalah pemeran penting untuk membuat MIFEE menjadi kutuk atau berkat. Walaupun kemudian ini semua tidak terlepas dari kepentingan yang telah berakar. Tetapi, tentu masyarakat papua dengan tegas menolak MIFEE.
Kita ketahui bahwa, pemerintah pemeran penting dalam pengambil kebijakan, agar kebijakan dalam berjalan sebagaimana adanya. Namun kenyataan dan uji kelayakan di lapangan untuk terprogramnya MIFEE di kota Merauke tidak sejalan. Hal ini dibuktikan dengan lahan seluas 4,5 hektar dari 4,7 hektar adalah komoditi hutan yang luas, yang juga merupakan komoditi zaman kekinian menjadi terabaikan. 
"Areal yang bukan kawasan hutan hanya 125.485,5 hektare, 1.157.347,5 hektare lainnya masuk dalam kawasan hutan. Ini berarti 90,2 persen lahan MIFEE merusak hutan," ujar Elfian Effendy selaku direktur eksekutif greenomics indonesia.
Artinnya, Dari 1,28 juta hektar areal MIFEE tersebut, seluas 125.485,5 hektar di antaranya adalah bukan kawasan hutan, sisanya seluas 1.157.347,5 hektar adalah kawasan hutan.”Kawasan hutan tersebut merupakan kawasan Hutan Produksi Konversi (HPK), yang secara tata ruang memang dicadangkan untuk pembangunan di luar sektor kehutanan,seperti pertanian. Namun, dari total luas 1,45 juta hektar kawasan HPK di Merauke, hanya 366.612,4 hektar yang dalam kondisi tak ber-hutan. Sisanya seluas 1,06 juta hektar masih berupa tegakan hutan alam dengan kondisi baik
Kenyataan ini menunjukan bahwa, luasan bagi program MIFEE sebagian menganggu kestabilan hutan. Hutan yang katanya, dapat memberikan cukup berarti bagi masa kekinian, menjadi terganggu. Program MIFEE, sebuah keputusan yang sangat dipaksakan. Terlalu diada- ada diwilayah tanah papua, khususnya Merauke. 
Oleh karena itu, putra dan putrid papua angkat bicara, “Kami ingin pemerintah mencabut program MIFEE dari Merauke, karena program tersebut tidak akan memberi dampak yang baik pada masyarakat,” kata Stanislaus Gebze, Ketua Dewan Adat Papua Wilayah V, Malind Anim. Begitu juga bahwa, “Kami sangat menolak program MiFEE yang di perjuangkan oleh Jhon Gluba Gebze” tegas Diana Gebze, selaku putrid tanah papua, khususnya merauke.
Namun, Presiden Indonesia, dalam hal ini Susilo Bambang Yudoyono telah memberikan komentar bahwa, krisis yang terjadi di Indonesia adalah krisis pangan dan krisis energy. Dari landasan inilah, pemerintah pusat membangun komunikasi sepihak. Dari komunikasi inilah kemudian berkiprah untuk menaganai masalah krisis pangan dan krisis energy yang dimaksud. 
Sungguh ironis memang, karena menjadi kebijakan sepihak, tanpa melibatkan masyarakat pribumi. Walaupun, masyarakat dengan tegas menyatakan, kami tolak MIFEE, melalui Sorpatom (solidaritas papua tolak MIFEE), namun, pemerintah pusat maupun perintah daerah masih membisu dengan suara anak pribumi. Pemerintah belum menghargai masyarakat pribumi yang punya hak ulayat atas tanah dan isinya.
Kebisuan pemerintah sudah jelas. Mereka mencari kepentingan. Dari kepentingan itulah, kira- kira ada 33 perusahaan yang bergabung untuk memajukan program MIFEE. Perusahaan itu diantarannya, PT. Kertas Nsantara , PT. Dongin Prabhawa, PT. Berkat Citra Abadi, PT. Inocin Kalimantan, PT. Balikpapan Forest Indo, PT. Papua Agro Lestari, PT. Bio Inti Agrigindo, PT. Ulilin Agro Lestari, PT. Agrinusa Persada Mulia, PT. Selaras Inti Semesta, PT. Wannamulia Sukses Sejati, PT. Hardaya Sugar Papua, PT. Indosawit Lestari, PT. Bangun Cipta Sarana, PT. Digul Agro Lestari, PT. Munting Jaya Lestari, PT. Plasma Nutfah Marind Papua, PT. Cendrawasih Jaya Mandiri, PT. Energi Hijau Kencana, PT. Sumber Alam Sutera, PT. Karya Bumi Papua, PT. Medco Papua Industri Lestari, PT. Kharisma Agri Pratama, PT. Agri surya Agung, PT. Nusantara Agri Resources, PT. PT. Mega Surya Agung, PT. Centeal Cipta Murdaya, PT. Agriprima Cipta Persada, PT. Anugrah Rejeki Nusantara, PT. Medco Papua Alam Lestari, PT. Tebu Wahan Kreasi, PT. Energi Mitra Merauke,(data BAPINDA, mei 2010). 

Perusahaan ini jumlahnya ada 33 perusahaan. Tiga sisanya merupakan ganda dari perusahaan yang tertera diatas. Perusahaan yang akan beroperasi ini SK persizinannya ada yang tahun 2007, 2008, 2009, dan bahkan ada yang tahun 2010. Luasan yang akan digunakan dalam pengoperasiannya adalah 2.051.157 Hektar (Ha). Semuanya berinvestasi dibidang pertanian secara terintegrasi.
Dengan membonceng beberapa perusahaan membuat hak ulayat tanah tidak akan aman karena limbah yang dapat menganggu kondisi tanah dan lainnya, ketika analisis dampak lingkunganpun tidak diimbanggi. Ini sudah jelas dipertanyakan. Karena, program ini terlalu memaksakan di tanah merauke dan akhirnya dampaknya akan dirasakan seluruh masyarakat tanah papua. 
Lebih ironisnya lagi, mengerakan militer masuk untuk menjaga program MIFEE untuk tetap beroperasi disana. Hal ini mengindikasikan bahwa, tentu ada beberapa alasan yang bisa dibeberkan oleh mereka. Entahlah, katakana saja, bahwa agar MIFEE dengan aman dapat beroperasi walaupun ada berbagai kegiatan yang tentunya merugikan bagi masyakat pribumi papua. 
Naluri Pribumi
MIFEE telah hadir karena kebijakan yang dipaksakan di Merauke, tanah Papua. Sekitar beribu luasan telah menjadi lahan olahan bagi program MIFEE. Dari sepuluh kraster, depalan klaster masuk didalam kabupaten merauke dan lainnya masuk didalam Mappi dan Boven digul. 
Dampak dari ini, tentu kehilangan mata pencarian. Apalagi, masyarakt sana yang telah menyatu dengan alam. Tapi toh, program MIFEE hadir memberikan warna lain. Warna yang bagi masyarakat pribumi tanah papua, tidak begitu penting. Malah, dengan ini membuat, masyarakat sana, mencari nafkah sangat susah, mencari hasil buruan sangat susah. Dengan masuknya program ini, membuat hutan yang sebenarnya dilindugi menjadi santapan orang- orang yang hanya mengenjar kepentingan. Unsur kepentingan yang telah berakar.
Warna baru yang telah diciptakan bagi masyarakat Merauke, membuat masyarakat Merauke sangat dikawatirkan untuk beralih langka lagi dalam semaraknya keterpurukan. Entahlah, bisa saja pencarian utama masyarakat hilang. Dan kemudian, dengan adaanya program yang tersembunyi, masyarakat papua khususnya Merauke dan sekitarnya mengalami keterasinan di tanahnya sendiri dan semacamnya. 
MIFEE, dalam kajian pertanian
Mifee telah dan sedang berlanjut. Dari yang awalnya penguatan hanya pada padi nasional akhirnnya sekarang lebih pada penguatan pangan dan energy, lebih kompleks. Tentu ini adalah pergeseran yang cukup luar biasa. Dari pergeseran ini tentu memberikan masalah dari permasalahan pertanian yang akan diproses. Tentu inipun punya kerja ekstra untuk membuktikan daya operasiannya yang baik, yang tentunya akhirnya menjawab MIFEE membawa berkat atau kutukan.
Kita lihat saja, saat memproses padi sebagai lumbung nasional saat itu, sebelum MIFEE. Saya pikir pasti saja menghadapi masalah yang tidak kalah dengan penambahaan masalah MIFEE diatas hak ulayat tanah yang keputusannya sepihak bagi kongloromerat dan antek- anteknya. MIFEE yang mengandung permasalahan yang kompleks. Dari kegiatan produksi hingga pascapanen.
Permasalahan pertanian yang tentunya akan dihadapi adalah tentunya, masalah pembibitan, pembudidayaan, pemanenan, pengemasan hingga pemasaran. Pembudiyaan misalnya, tentu mereka harus memikirkan tenaga kerja, teknologi yang digunakan, komoditinya. Didalam hal pemeliaraan misalnya, merasa harus hitung- hitung dengan pupuk yang layak digunakan, yang artinya adalah ramah lingkungan. Masalah itu misalnya, menangani masalah pertanian dari hulu hingga hilir. Dari pembibitan hingga pemasaran atau sampai pada konsumen. 
Dengan berpatokan dari teori ini, tentu harus dipertanyakan lagi, pertanian berbasis local atau bukan. Karena, misalnya komoditi kopi, katanya menurut teori, dia menyebar dari afrika dan akhirnya merambah ke Indonesia dan papua dan kemudian tingkat manajemennya pun, sampai tingkatan star burck. Jangan sampai program MIFEE yang digalakkan ini komoditasnya pun dari luar. Artinya bukan komoditi local yang diberdayakan, yang katanya komodity pilihan direktorat jenderal, namun apakah komodity ini merupakan pilihan komodity merauke sendiri. Misalnya ubi, singkong, ketela, babi, ayam dan lainnya. Dan, jangan sampai hasil dari MIFEE itu kesejahteraannya itu tidak dirasakan oleh masyarakat pribumi. Tetapi, lebih pada penguatan seperti star burck.
Memang menjadi aneh ketika, awal terbentuknya, dikatakan padi. Pasti, yang awam pasti bertanya, apakah memang, masyarakat papua, makanan pokoknya adalah beras. Ataukah, beras itu dari mana dan diberlakukan sejak kapan? Kenapa harus terjadi seperti ini? Kenapa tidak berdayakan komoditi lokal yang memang menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Kalau permasalahnya adalah krisis pangan dan energy. 
Ketika konteks pembicaraan adalah tentunya dalam pembudiyaannya, maka pembudidayaan itu butuh pupuk. Pupuk itu ada beberapa macam. Yang sebenarnya di ketahui masyarakat umum, pemupukan yang mengunakan bahan kimia dan hanya tergantung dari alam. Bila mengunakan pupuk kimia ataupun pupuk yang diambil dari alam, keduanya jelas bahwa punya efek bagi perkembangan produktivitas pertanian. 
Setelah dilihat- lihat, pupuk yang cocok digunakan pun, adalah pupuk yang berasal dari alam. Misalnya pupuk organik, tetapi ini hanyalah pertanian secara tradisional dan program MIFEE tidak dapat dijangkau. Kalaupun bisa, namun butuh dalam jumlah yang besar, sementara persedian dialam tidak mencukupi. Dari pada mengunakan pupuk kimia. Kenapa? Karena ketika kita mengunakan pupuk kimia tentu akan berpegaruh besar terhadap PH tanah. Dan akhirnya, tanah yang awalnya adalah subur berganti fungsi menjadi tanah tandus. Apalagi kita berpikir ke arah lumbung padi nasional, atapun menangani krisis pangan dan energy yang dimaksud persiden SBY.
Ini hanyalah gambaran sepintas melihat dari sisi pemupukan pada komodity yang sedang dikembangkan. Belum lagi yang lain. Belum lagi masalah managemen. 
Adapun dampak yang akan dirasakan di tanah Papua khususnya merauke dan sekitarnya yang masuk dalam program MIFEE ini, misalnya, pertama, dampak MIFEE bagi orang papua adalah, orang papua makin asing diatas tanahnya sendiri, dan punahnya orang papua secara sistematis. Kedua, dampak ekologi adalah kehancuran ekosistem, musnahnya hewan dan binatang setempat, adanya perubahan daerah aliran sungai, dan krisis air bersih oleh penggunaan zat kimia. Ketiga, adalah Luasnya MIFFE menuntut pekerja (pendatang3 juta?) jumlah tersebut tidak seimbang dengan jumlah orang Papua. Keempat, dampak ekonomi lokal adalah Orang Papua akan menggantungkan hidup dari MIFFE, tanaman tradisional akan punah, etos kerja dan pandangan hidup ekonomis tidak setara dengan sikap kapitalis, menjadi pengemis dan orang asing di tanahnya sendiri, sulit mencari tempat berburu. 
Penutub
Kehadiran MIFEE tidak bisa memberikan mamfaat yang cukup berarti bagi tanah papua khususnya bagi Merauke dan sekitarnya. Apalagi program ini berdiri dan digagas secara keterpaksaan. Tentu ini menjadi nilai ganda yang dapat mengeserkan nilai pribumi lokal, apalagi dari sisi pertanian. Tidak terlepas dari rencana terselubung yang digandeng dalam Program ini. Bila kita boleh bercermin dari sini ini, banyak sekali permasalahan yang sudah dan akan dihadapi masyakarakat yang memiliki hak ulayat. Misalnya, dalam hal mata percarian dan penghidupan yang layak. Karena, dengan masuknya program MIFEE ini, telah membunuh naluri pribumi, dengan pertanian secara tradisional.
Program telah dan akan berjalan hingga kontrak kerja 2030 merupakan jangka waktu yang cukup lama. Kita nantikan saja, apakah program ini merupakan kutuk ataupun berkat bagi masyarakat. Saya harap membawa berkah, kalau tidak, akan terjadi krisis yang berkepanjangan dan akhirnya kehidupan ras Melanesia, ras negroid dalam titik kritis, dan hanyalah kata melawanlah menjadi jawaban. Karena, kalau dipahami secara teliti, MIFEE bukan solusi pangan. Apalagi energy. MIFEE membawa masalah. (Dari berbagai sumber),






Sabtu, 22 Januari 2011

Senang membaca tulisan bergendre jurnalisme Sastrawi

Awalnya saya tidak menduga. Saya mengenal Andreas Harsono lewat FB (facebook). Apa itu jurnalisme sastrawi. Tapi setelah saya mengikuti jurnalisme sastrawi di pantau. Sangat berarti bagi saya. Ketika Andreas Harsono, mengiyahkan saya untuk ikut Kursus Jurnalisme Sastrawi di pantau, saya merasa, saya dapat terbantu. 

Bayangkan saja, ketika kita melihat perkembangan jurnalisme di Indonesia. Banyak sekali, yang hanya berpatokan pada kepentingan. Banyak sekali kasus- kasus yang perlu di angkat menjadi terabaikan. Mungkin, kaum awam melihat bahwa belum cukupnya wartawan dalam jumlah yang cukup. Mungkin iya dan mungkin tidak untuk pendapat ini. Tetapi yang menjadi sorotan disini adalah, belum nampaknya wajah jurnalisme di tanah air. 

Apalagi bila kita berbicara soal jurnalisme di tanah Papua. Nilai- nilai jurnalisme di tanah papua menjadi lebih penting. Karena, bila dilihat dengan mata papua, tentu di papua banyak masalah yang perlu di angkat ke mata nasional maupun internasional.

Dari kerinduhan- kerinduhan inilah, rasa kepedulian dari Bill Kovach dan Tom Rosenteell di Amerika. Dua orang yang berhasil mengarang buku sembilang elemen jurnalisme. Inilah yang menjadi patokan yang harus di tiru oleh semua wartawan. 

Dari pengalaman itulah, mas Andreas pun berbagi mengenai nilai jurmalisme yang baik di Indonesia.
Saya secara pribadi senang sekali membaca Jurnalisme Sastrawi ini. Saya juga ingin mengembangkan jurnalisme gendre ini, sebagai pembangan bakat saya. Yang tentunya, tak lepas dari nilai- nilai dari kedua tokoh Amerika dan Andreas Harsono.

Terima kasih atas semua kepeduliannya. Terima kasih atas datangnya gendre ini. Saya senang membaca. Saya perlu belajar. Saya orang tanah papua perlu belajar. 


Jumat, 07 Januari 2011

Narasi dan Pantau

setelah selesai pertemuan terakhir dengan bu Janet Steele. @ sumber foto: mbak Figoh.

setelah selesai pertemuan terakhir dengan mas Andreas Harsono. @ sumber foto: mbak Figoh.


SAYA TIDAK PERLU perdebatkan panjang lebar lagi mengenai buku, Agama saya adalah Jurnalisme.  Sebelumnya, Saya sudah membaca  diblog  Andreas Harsono. Argumen yang baik  untuk wilayah Indopahit ini. Andreas yakin, hanya dengan Jurnalisme  dapat menyelesaikan persoalan di bangsa ini.

“Saya lihat semua negara yang mencampur urusan negara dengan agama tak ada yang beres. Misalnya Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lainnya. Di dunia ini tak ada negara yang agamanya seragam. Selalu ada banyak agama minoritas. Isunya adalah bagaimana memperlakukan mereka kalau salah satu agama dijadikan dasar bernegara? Saat itu juga akan ada agama lain yang menjadi kelas dua,” kata Andreas Harsono, kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, Kamis (3/5) 2007 lalu.

Hari itu, mampir ke warnet. Kesana  untuk melihat informasi yang sedang melintas di facebook (fb). Saya tersentak dengan buku merah karangan gemilang  Andreas Harsono. Dengan semakin penasaran  untuk membaca. Apalagi disajikan secara memikat dan mendalam.

Dalam bulan Desember 2010 itu,  Andreas itu sudah publikasi di FB (facebook). Saya pun  mempublikasikan buku itu. Buku ini  layak dibaca oleh siapa saja yang peduli terhadap tanah air. Apalagi di wilayah Indopahit. Perlunya pemahaman yang cukup untuk kebersamaan dan tentunya kemajuan Jurnalisme.

Dua kali saya pun mempublikasikan ulang tulisan ini.

 saya membuka halaman demi halaman. Tulisan buku ini adalah sebagian tulisan yang ada di blog. Blog ini saya sempat membaca beberapa tulisan yang di blog. Misalnya mengenai, Sembilan Elemen Jurnalisme, Agama saya adalah Jurnalisme, dan belajar menulis bahasa inggris dan lain- lain. Sebuah elemen yang baik bagi Jurnalisme di tanah air.
Buku Sembilan Elemen Jurnalisme, adalah buku yang sangat baik   dalam memajukan Jurnalisme. Apalagi Jurnalisme ditanah air.   Titik tolak pertama adalah pada kebenaran.

Ucapan terima kasih bagi Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Dari diskusi ke diskusi. Dari kepedulian akan kemajuan Jurnalisme yang awalnya berkembang di Cambridge, Amerika, akhirnya menghasilkan buku yang gemilang juga, yakni Sembilan Elemen Jurnalisme yang diterjemahkan oleh Andreas Harsono. Edisi revisinya, sepuluh elemen Jurnalisme. Hanya ditambahkan hak dan kewajiban bagi warga. Buku  yang ditulis secara mendalam dan memikat.

                                                                     ***

DISKUSI SINGKAT. Pada kos berwarna pink dengan dalamnya berwarna biru. Kontrakan kawan- kawan Nabire. Disinilah sesama komunitas bercanda tawa dan bersama sebagai sesama komunitas. Sungguh senangnya hidup bersama.  Bersama saat suka maupun duka.

“Kawan, ko kenal mas Andreas Harsono ka tidak?” kata kawan Auki

“Saya belum kenal” sahutku cepat untuk mendegar keterangan selanjutnya

“ ko bergabung ke dia pu FB. Ko gabung saja supaya ko tambah kenal deng dia.”

“dia adalah orang yang sangat hebat” Katanya untuk meyakinkan saya.

Pertemuan singkat dengan kawan telah usai. Sore itu, otak- atik dengan FB. Sayapun add fb mas Andreas Harsono. Tujuannya, hanya satu, ingin belajar menulis. Menulis bisa menjadi inspirasi yang bagi orang yang ingin mengenal papua lebih dekat. Bersuara demi tanah Papua. Orang papua perlu bersuara.

 Dalam beberapa hari berjalan, ada informasi untuk  Kursus Jurnalisme Sastrawi’. Kursus yang akan berlansung di Yayasan Pantau. Disinilah, saya kenal Sembilan elemen Jurnalisme.

Walaupun belum mengenal baik di fb namun saya secara pribadi menawarkan diri untuk ikut kursus. Informasi ini awalnya saya tawarkan diri lewat fb. Setelah ada informasi bahwa, akan dipertimbangkan, akhirnya saya mengirimkan email saya.
Kemudian, saya membaca email, ada formulir pendaftaran  di email. Saya mendaftar diri secara online. Formulir yang telah didesain mengunakan program Microsotf Exel. Ada beberapa nama kawan- kawan juga yang tampil di email itu, diantaranya Heni Lani, Yulan Kurima Meke, Oktovianus Pogou, dan Kristianus Madai.

Saya diterima. Saya ikut kursus selama dua minggu. Ikut kursus Jurnalisme Sastrawi angkatan XVIII. Saya bergabung bersama kawan- kawan.

Pelatihan selama dua minggu memberikan masukan sangat berarti bagi saya sebagai orang papua. saya bertemu dengan beberapa wartawan tanah air. Juga ketemu dengan karyawan yayasan pantau, yang selalu menemani kami.

Kawan- kawan yayasan Pantau misalnya, Basilius Triharyanto, Imam Shofwan, dan Siti Nurrofiqoh. Saya juga mendegar cerita bahwa, ada juga beberapa orang yang dari yayasan Pantau, Budy Setiyono, Endah Yuliani, Khoruddien dan Sri Maryani dan lain- lain (lainnya saya belum kenal baik). Ucapan terima kasih buat kalian. Saya banyak belajar juga dari kalian.

Kemudian kepada mantan karyawan Pantau, Chik Rini penulis “ kegilaan di simpang kraft ” dan Linda Cristanty seorang wartawan dan sekaligus sastrawan. Serta segala penyumbang tulisan dengan judul Buku “ Jurnalisme sastrawi”. Buku yang disunting oleh Adreas Harsono dan Budy Setiyoso. Tulisan mereka  yang menginspirasi saya.
Saya pun banyak belajar dari beberapa wartawan tanah air yang sedang kursus bersama. Walaupun selama dua minggu bertatab muka. Terima kasih buat kalian juga.  Teristimewa kepada pemandu materi, Janeet Steal dan mas Andreas Harsono.

Janet steele adalah seorang dosen di Universitas Washington. DC, Amerika. Andreas Harsono adalah wartawan asal Indonesia.  Ini   memberikan inspirasi yang cukup, apalagi saya sebagai orang papua yang harus banyak belajar jurnalisme, supaya yang tersembunyi dibumi tanah papua dapat terungkap.

“Memang, sampai kesana butuh proses. Tapi, dari belajar ke belajar pastilah bisa memberikan hasil yang memuaskan”, kata saya.

Saya dari Bogor ke Jakarta. Jakarta tinggal sama Okto Pogou dan selalu bolak- balik dari kontrakan Okto di uki. Tujuannya, hanya satu, ingin mendalami penulisan secara Jurnalisme Sastrawi. Bahasa krennya, menulis kreatif. Kerap kali disebut juga menulis Narasi.

Senang sekali mendalami genre ini.

                                                                      ***

BANGUNAN BERLANTAI tiga, bercat krem kekuningan adalah ruangan kami. Ruangan kami yang berbentuk persegi panjang yang kira- kira 6m x 3m. Dengan tinggi kira- kira tiga meter. Di ruangan ber-AC ini adalah tempat kami mengikuti pelatihan ‘kursus Jurnalisme Sastrawi’.

Baik ketika dipandu oleh Janeet Steal maupun mas Andreas Harsono, tulisan kami sebagai orang papua tentu agaknya hadir dengan isu- isu Papua. Kami ingin memberikan semacam pemahaman saja kepada kawan- kawan peserta kursus. Supaya mereka pun tahu bagaimana nasib orang Papua.

Kami hadir sekaligus untuk memberikan pemahaman. Walaupun tulisan kami, masih pemula pun belum. Walaupun masih dalam taraf belajar. Bagi kami sebagai orang papua, tidak menjadi soal, tetapi yang terpenting adalah masih dengan niatan untuk belajar. Belajar menulis kreatif itu. Atau yang disebut menulis Narasi.

                                                                         ***

DARI TANGGAL 26 JULI AKHIR HINGGA awal agustus adalah waktu kami mengikuti Jurnalisme Sastrawi. Ditempat yang sama. Dikantor Yayasan Pantau adalah tempat kami belajar,  dalam waktu pendek namun masukan yang sangat berarti.
Banyak bacaan yang memberikan inspirasi. Dari perkembangan Jurnalisme di Amerika hingga di tanah air. Dari kerusuhan di Aceh, Pontianak, hingga Papua. Nasip transmigran di pulau Buru hingga diskusi bagaimana meliput wilayah konflik.

Meliput wilayah konflik ini dipandu oleh Aboeprijadi Santoso. Dia adalah wartawan penyiar radio  Nederlands.  Dimoderatori oleh Basilius Triharyanto, karyawan pantau itu. Diskusi ini berlansung selama satu setengah jam. Diakhiri dengan foto bersama.

Ketika membaca bukunya Shindunata. Penulis feature terkenal. Kumpulan tulisan feature. Nasib para pidana di Pulau Buru, sangat tidak adil dirasakan oleh militer. Mereka menjadi budak. Apalagi bila memahami bukunya Pramudya Anantatoer. Pramudya pun hadir dengan cerita dari Pulau Buru, ketika beliau menjadi tahanan. Sedih.

Ketika membaca tulisan buku lain Linda Cristanty mengenai nasib para transmigran Jawa di Sumatra, sungguh tragis juga bagi mereka.  Transmigran jawa pun hidup ditengah penekanan.  Ternyata bila dipikir- pikir, banyak sekali ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa dan sistim ini untuk warganya.

Bedanya, ketidakadilan bagi Papua di perlakukan berbeda. Warga tanah air adalah korban dari sistim yang salah dari bangsa ini.

Papua, Namanya juga dibilang separatis. Namanya juga di bilang makar. Tentu, perlakuan pun berbeda. Mungkin saja, hampir sama dengan warga Ache, Borneo, Maluku, dan berbagai daerah di tanah air.

Selain itu juga, Kondisi warga  misalnya, kita melihat warga di sekitar lumpur lapindo yang katanya sahamnya milik Umar- Bakri namun, tak ada penyelesaian jelas untuk mengamankan penghidupan yang layak bagi warga. Ujung- ujunnya hanyalah milik kaum pemodal. Merekalah yang memainkan system. Rakyatlah yang menderita. Inilah adalah contoh rusaknya moral bangsa ini.

Kehadiran lumpur lapindo di Sidoarjo. Kehadiran Freeport  tembagapura Papua. Kehadiran Exon Mobil di Ache dan perusahaan pengacau lainnya di tanah air, itu hanyalah pengacau bagi kehidupan rakyat kecil.  Malah, rakyat kecillah yang menderita.

 Perusahaan exon mobil  adalah milik Amerika. Amerika  yang Notabenenya adalah naluri Kapitalis, naluri Kolonialis dan Imperalis. Saya belum tahu pasti, apakah perusahaan ini ditutup atau tidak.

Dari ruangan itu, Dari cerita ke ceritera. Dari diskusi ke diskusi. Saya semakin mengerti. Semakin mengerti bahwa, bangsa ini bangsa indopahit. System sudah salah. Rakyatlah yang menderita.

“Untuk warga tanah Papua,  sistim yang salah mengarahkan suku bangsa Melanesia, suku bangsa Negroid kearah yang salah juga. Hanya tinggal satu solusi yakni Pembebasan Nasional”, kata saya. Inilah Kerinduan warga tanah Papua. Warga lain pun punya kerinduan juga untuk terbebas dari system yang salah dari bangsa ini.

Kita sangat berbeda. Mereka melayu dan kita Negroid. Negara kepulauan Melanesia. Sejarah membeberkan panjang mengenai hal tersebut, supaya warga melayu paham.

                                                                        ***

HARI ITU, sudah jam delapan malam. Aku harus ke Gramedia mampir dulu di Gramedia yang terletak di lantai Dasar. Gramedia yang sangat ramai dikunjungi pengunjung yang berlalu lalang. Ada yang sedang membaca. Ada yang membeli. Ada yang hanya melihat- lihat.

Bagiku, hari itu hanya untuk lihat- lihat. Namun, dari pandangan enam meter, saya melihat buku merah terpampang jelas disebelah rak. Saya mendekat. “agama saya adalah jurnalisme”, tertulis jelas di buku itu. Buku inilah yang terlintas setelah menbaca. Tak berpikir  panjang lagi. Saya beli satu buah. Masih tersisa beberapa di Gramedia.

Saya beli  untuk mendalami kembali tulisan- tulisan ini. Banyak sekali cerita yang mengisahkan untuk perkembangan Jurnalisme di tanah air. Agar Jurnalisme ditanah air selalu berpatokan pada Sembilan ataupun Sepuluh Elemen Jurnalisme.  Agar jurnalisme ditanah air terlihat baik.

Senang membaca tulisan yang mendalam dan memikat. Terima kasih pantau atas jenis tulisan narasi. Ingin menambah inspirasi. Sekaligus ingin belajar.

Saya orang tanah Papua perlu belajar.