Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.

Sabtu, 10 Mei 2014

Payung mana?



Ilustrasi Payung @ google

Ada- ada saja teman- teman ini berteriak. Minta jas hujan, dan Payung. Kami berlomba- lomba mengunakan payung dan jas hujan yang ada. Mungkin lebih tepatnya yang duluan dapat. Kecuali pemiliknya.

Saya termasuk orang yang beruntung memiliki payung. Apalagi akhir- akhir ini hujan  melanda Bogor. Kemudian Banjir Melanda Jakarta. Semoga tidak selayak kekerasan melanda Papua. Karena  hebat. Kalau hujan cukup diatasi dengan payung.

Payung yang saya miliki ini, tak pernah alpa dari hantaman hujan gerimis hingga deras. Matahari tak memancarkan senarnya secara baik. Cuaca cukup buruk.

Saya teringat pepatah lama. “ sediakan payung sebelum hujan”. Lebih tepatnya “ sediakan payung sebelum ke Bogor”. Seperti biasanya juga, hujan menjadi teman setia kami disini. Apalagi untuk kondisi saat ini. Semoga hujan di Tahun 2014 tidak lebih hebat seperti panasnya setuasi politik di tahun 2014.

Ahh sudah, abaikan, politik dulu. Kembali ke payung.

Payung berwarna putih adalah Payung yang saya miliki sejak lama. Payung ini masih terawat hingga sekarang. Walaupun bagaimana pun juga sebagai pengaman dari terpaan hujan.

Di Bogor hujan bukan hal baru. Sudah menjadi ciri khas. Jadi, Ayo teman kita miliki payung dari sekarang. Atau jas hujan. Supaya kita terlindungi dari hujan deras yang ada. Supaya aman melakukan aktivitas kita.

Syukur- syukur, kepada mereka yang baru datang, sekalian bawa payungnya. Atau beli di tempat jual. Saya beli saat BBM belum dinaikkan harganya. Harganya terjangkau. Sekarang dan nanti, Tanya pada Pemimpin besok?

Kebanyakan di Papua, payung bukan kebutuhan yang mendesak. Yang lebih mendesak di Papua adalah kedamaian, keadilan, dan ketentraman hidup. Kenyamanan hidup karena kekerasan yang sedang terjadi disana.

Kembali lagi ke payung. Kalau kehujanan cari payung untuk kenyamanan dari basah. Tapi kalau kekerasan di Papua kembali lagi ke Payung. Payung hukum. Payung mana?

Nanda Rindu Bapak



Nanda Madai

Pasti setiap orang butuh kasih sayang orang tua. Kasih sayang dari Bapak, Mama, dan semua orang yang kita jumpai  dimanapun dan kapanpun. Sama halnya yang dirasakan Nanda Madai di Nabire Papua.

Kasih sayang yang dibutuhkan siang ini oleh Nanda adalah kasih Sayang seorang Bapak, Martinus Madai. Martinus Madai adalah Seorang Pekerja Keras, Baik dan Murah hati. Dia telah meningal sejak lama saat Nanda kecil.

Kini hari telah siang, namun panas tak tampak di sudut langit di akhir- akhir ini.  Nanda mengirim pesan singkat untuk kegiatannya hari ini di Nabire

Dia mengirim pesan kalau dia sedang mendegarkan beberapa lantunan lagu kesukaan bapaknya yakni lagu- lagu Tota Mana, PNG dan Mambesak. Nanda  mengirim pesan juga kalau dengan mendegar lagu- lagu ini mengigatkan pada bapaknya.

“ Nanda Rindu Bapak “, Dengan pesan yang sama sebanyak 5 kali

Pesan singkat ini masuk sebanyak lima kali di Handphone Saya. Saya tidak sanggup menjawab pesan singkat ini. Saya hanya bisa menjawab dengan kata- kata semangat dan motivasi buat Nanda. Kemudian, Saya bilang, kalau memang bapak Nanda itu suka dengar musik.

Kini saya bertanya bahwa, dari mana Nanda tahu soal bapaknya adalah  orang yang suka musik. Apalagi mendegarkan lagu- lagu diatas.  Karena saat itu Nanda masih kecil.

Saya yang masih mengigatkan beberapa potongan cerita dengan bapaknya. Saya tidak bercerita soal itu. Tapi Saya hanya memberi semangat kepada Nanda supaya menjadi tetap semangat.

Saya menyarankan supaya tidak pernah lupa orang- orang terdekat dari bapaknya seperti Ones Madai, Dinan Madai dan Lainnya. Ini saya ingatkan supaya dia tidak kembali memikirkan bapaknya telah meningal itu.

Dia mengucapkan terima kasih atas pesan singkat itu.  Saya pendam beberapa potong cerita bersama bapaknya. Saya akhiri dengan senyuman.

Nanda, Saya mau bilang. Tetap semangat saja. Tentu Kasih sayang itu bisa didapat juga dari orang lain selain bapak Martinus Madai. Ada Ones Madai, Dinan, dan lainnya. Ada Mama dirumah juga. Tetap Sayang Mama juga. Semua keluarga tentunya. Dapatkan terus kasih sayang disana.

Koyao !

Apiye Yosepina Edoway


Add caption

Malam  pekat ini menuju jam 10 malam.  Panas matahari belum menyisahkan sisa pancaran. Hanya kemerlapan lampu- lampu di Pelabuhan. Dan hiruk- Pikuknya Manusia. Kemudian, dengan kapal yang  Jam 11 Lebih, kapal siap berangkat.

Ada bel lewat Handphond (HP) Mama Mote. “Ada Jhon ka”, Suara seberang atas pembicaraan dengan mama.

Mama Mote  bilang Jhon  ada. Mama memberikan saya HP itu. Saya balik menanyakan. Dengan siapa dan dimana. Karena pikiran lagi berkecambuk dengan menunggu kapal yang lagi berlabuh di pelabuhan Samabusa Nabire Papua.

Suara ini semakin jelas. Saya lansung menebak suara ini. Apiye Yosepina Edowai. Dia bel dari Jayapura. Saya asik mendengarkan. Rupanya dia memberikan nasehat.

Walaupun begitu saya belum ingat semua nasihat itu. Saya hanya ingat salah satunya saja.
“Jhon, Jangan Lupa Tuhan Yah” Kata Apiye saat itu.

Saya ucapkan terima Kasih. Saya merasa bersyukur karena kata nasihat luar biasa yang saya pernah dapat dari orang- orang terdekat.

Namun sayang, saya siap naik kapal. Saya siap menghakiri pembicaraan dari kaka Apiye Yosepina Edoway.

Apiye Yosepina bilang, iya, saya hanya mengingatkan itu saja. Saya bel lewat mama hanya mengigatkan itu saja. Selamat berjuang yah. Katanya menghakiri juga. Saya naik kapal.

***

Saya mengenal Yosepina itu saat dulu di wakeitei, Kota tua saat Sub Afdelling Belanda. Kemudian  di Nabire. Sampai akhirnya dia pergi kuliah di Jayapura juga.

Karena dia tahu saya keluar studi ke Jawa akhirnya dia bel lewat mama. Tapi hingga kini saya belum ingat semua nasihatnya. Hanya kalimat  diatas.

Tapi kini, saya terbantu dengan satu kalimat diatas. Saya benar- benar diberi sebuah hal yang berharga dalam hidup. Kalimat yang lansung bermuara ke Penyelengara kehidupan yakni Tuhan.

Sekali lagi terima kasih Apiye Yosepina Edowai. Luar biasa berharga atas Nasehat- nasehatmu.
Saya menulis cerita singkat ini untuk mengenangmu. Selamat Jalan kepada Sang Penyelengara Kehidupan Yakni Tuhan. Semoga diterima di sisi-Nya.

Salam mengenang !

Auleman



Auleman Pekei, Penyanyi Mee- Pago
Selain sederetan nama seniman di Papua. Seperti Kelas hebat Arnold AP. Generasi berikutnya  di Mee Pago mengenal beberapa Nama seniman, selain Yuli Yeimo, dan lain sebagainya. Kini kita lebih mengenal Auleman Pekei.

Jadi, Ketika saya ditanya apa yang anda Ingat dari Seorang Auleman Pekei? Saya akan cerita soal, perjumpaan saya pertama kali dengan Auleman Pekei di Nabire. Saya mengenal secara lebih dekat ketika SMA di Nabire Papua. Tapi itu juga tidak mengigat betul cerita- cerita bersama dia.

Auleman Pekei adalah seorang Seniman asli Wilayah Adat Mee- Pago. Dia adalah salah satu  yang cukup piawai memainkan melodi dan menarik suara indahnya.

Siang itu saya pulang dari sekolah. Saya tidak tahu, kalau ada seorang pemuda ada di sudut ruang tamu. Dia juga telah mengengam gitar. Dia adalah Auleman Pekei. Dia datang dari Wamena. Dia lahir besar Wamena, alias Labewa.

Siang itu, dia bicara dengan mama tentang kondisi di Wamena. Tampaknya mama cukup mengenal dengan Auleman. Ternyata, Mama saat di Wamena, sering menjaga Auleman ketika orang tuanya keluar dari Rumah.

Satu keunikan dari Auleman yang saya lihat adalah, gitar selalu menjadi teman setia. Menyanyi dan memainkan gitar adalah satu moment yang tak pernah dilewatkan dari seorang Auleman Pekei.

Bukti dari kesetiaannya itu, selama tiga bulan dia menciptakan tiga lagu. Lagu yang siap tampil. Lagu tentang cinta Papua, Rohani dan tema Cinta. Dari lagu itu, Dia dengan teman- temannya tampil konser di Taman Gisi Nabire Papua. Banyak yang datang kesana, hanya untuk mendegar lagu- lagu merdu Auleman. Selain, bersama seniman lainnya.

Saat sebelumnya,  Auleman dengan teman- temannya di Wamena  cukup produktif keluarkan album produksi  mereka yang menginspirasi.  Lagu- lagunya cukup enak didegar hingga saat ini, walaupun diproduksi dengan kaset biasa.

Auleman dan teman- temannya itu  cukup piawai dalam memainkanya. Hingga terakhir, merilis ambum Puncak Deiyai.

Jadi,  Auleman adalah piawai menyanyi. Dan Gitar selalu menjadi teman saat di Rumah. Apalagi saat sedang tampil. Dia adalah figur seniman Mee Pago yang menghibur.Dia adalah salah satunya. Masih banyak lagi.

Auleman, ini cerita  singkat yang saya buat untukmu. Sekaligus untuk mengenangmu.

Akhir kata, Auleman Selamat Jalan Kepada Tuhan. Semoga diterima disisi-Nya.