setelah selesai pertemuan terakhir dengan bu Janet Steele. @ sumber foto: mbak Figoh.
setelah selesai pertemuan terakhir dengan mas Andreas Harsono. @ sumber foto: mbak Figoh.
SAYA
TIDAK PERLU perdebatkan panjang lebar lagi mengenai buku, “ Agama saya adalah Jurnalisme”.
Sebelumnya, Saya sudah membaca diblog Andreas Harsono. Argumen yang
baik untuk wilayah Indopahit ini. Andreas yakin, hanya dengan Jurnalisme
dapat menyelesaikan persoalan di bangsa ini.
“Saya
lihat semua negara yang mencampur urusan negara dengan agama tak ada yang
beres. Misalnya Afghanistan, Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lainnya. Di dunia
ini tak ada negara yang agamanya seragam. Selalu ada banyak agama minoritas. Isunya
adalah bagaimana memperlakukan mereka kalau salah satu agama dijadikan dasar
bernegara? Saat itu juga akan ada agama lain yang menjadi kelas dua,” kata
Andreas Harsono, kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Kantor Berita
Radio 68H Jakarta, Kamis (3/5) 2007 lalu.
Hari
itu, mampir ke warnet. Kesana untuk melihat informasi yang sedang
melintas di facebook (fb). Saya tersentak dengan buku merah karangan
gemilang Andreas Harsono. Dengan semakin penasaran untuk membaca.
Apalagi disajikan secara memikat dan mendalam.
Dalam
bulan Desember 2010 itu, Andreas itu sudah publikasi di FB (facebook).
Saya pun mempublikasikan buku itu. Buku ini layak dibaca oleh siapa
saja yang peduli terhadap tanah air. Apalagi di wilayah Indopahit. Perlunya
pemahaman yang cukup untuk kebersamaan dan tentunya kemajuan Jurnalisme.
Dua
kali saya pun mempublikasikan ulang tulisan ini.
saya
membuka halaman demi halaman. Tulisan buku ini adalah sebagian tulisan yang ada
di blog. Blog ini saya sempat membaca beberapa tulisan yang di blog. Misalnya
mengenai, Sembilan Elemen Jurnalisme, Agama saya adalah Jurnalisme, dan belajar
menulis bahasa inggris dan lain- lain. Sebuah elemen yang baik bagi Jurnalisme
di tanah air.
Buku
Sembilan Elemen Jurnalisme, adalah buku yang sangat baik dalam
memajukan Jurnalisme. Apalagi Jurnalisme ditanah air. Titik tolak
pertama adalah pada kebenaran.
Ucapan
terima kasih bagi Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Dari diskusi ke diskusi. Dari
kepedulian akan kemajuan Jurnalisme yang awalnya berkembang di Cambridge,
Amerika, akhirnya menghasilkan buku yang gemilang juga, yakni Sembilan Elemen
Jurnalisme yang diterjemahkan oleh Andreas Harsono. Edisi revisinya, sepuluh
elemen Jurnalisme. Hanya ditambahkan hak dan kewajiban bagi warga. Buku
yang ditulis secara mendalam dan memikat.
***
DISKUSI
SINGKAT. Pada kos berwarna pink dengan dalamnya berwarna biru. Kontrakan kawan-
kawan Nabire. Disinilah sesama komunitas bercanda tawa dan bersama sebagai
sesama komunitas. Sungguh senangnya hidup bersama. Bersama saat suka
maupun duka.
“Kawan,
ko kenal mas Andreas Harsono ka tidak?” kata kawan Auki
“Saya
belum kenal” sahutku cepat untuk mendegar keterangan selanjutnya
“
ko bergabung ke dia pu FB. Ko gabung saja supaya ko tambah kenal deng dia.”
“dia
adalah orang yang sangat hebat” Katanya untuk meyakinkan saya.
Pertemuan
singkat dengan kawan telah usai. Sore itu, otak- atik dengan FB. Sayapun add
fb mas Andreas Harsono. Tujuannya, hanya satu, ingin belajar menulis. Menulis
bisa menjadi inspirasi yang bagi orang yang ingin mengenal papua lebih dekat.
Bersuara demi tanah Papua. Orang papua perlu bersuara.
Dalam
beberapa hari berjalan, ada informasi untuk ‘Kursus
Jurnalisme Sastrawi’. Kursus yang akan berlansung di Yayasan Pantau.
Disinilah, saya kenal Sembilan elemen Jurnalisme.
Walaupun
belum mengenal baik di fb namun saya secara pribadi menawarkan diri untuk ikut
kursus. Informasi ini awalnya saya tawarkan diri lewat fb. Setelah ada
informasi bahwa, akan dipertimbangkan, akhirnya saya mengirimkan email saya.
Kemudian,
saya membaca email, ada formulir pendaftaran di email. Saya mendaftar
diri secara online. Formulir yang telah didesain mengunakan program Microsotf
Exel. Ada beberapa nama kawan- kawan juga yang tampil di email itu,
diantaranya Heni Lani, Yulan Kurima Meke, Oktovianus Pogou, dan Kristianus
Madai.
Saya
diterima. Saya ikut kursus selama dua minggu. Ikut kursus Jurnalisme Sastrawi
angkatan XVIII. Saya bergabung bersama kawan- kawan.
Pelatihan
selama dua minggu memberikan masukan sangat berarti bagi saya sebagai orang
papua. saya bertemu dengan beberapa wartawan tanah air. Juga ketemu dengan
karyawan yayasan pantau, yang selalu menemani kami.
Kawan-
kawan yayasan Pantau misalnya, Basilius Triharyanto, Imam Shofwan, dan Siti
Nurrofiqoh. Saya juga mendegar cerita bahwa, ada juga beberapa orang yang dari
yayasan Pantau, Budy Setiyono, Endah Yuliani, Khoruddien dan Sri Maryani dan
lain- lain (lainnya saya belum kenal baik). Ucapan terima kasih
buat kalian. Saya banyak belajar juga dari kalian.
Kemudian
kepada mantan karyawan Pantau, Chik Rini penulis “ kegilaan di simpang kraft ”
dan Linda Cristanty seorang wartawan dan sekaligus sastrawan. Serta segala
penyumbang tulisan dengan judul Buku “ Jurnalisme sastrawi”. Buku yang
disunting oleh Adreas Harsono dan Budy Setiyoso. Tulisan mereka yang menginspirasi
saya.
Saya
pun banyak belajar dari beberapa wartawan tanah air yang sedang kursus bersama.
Walaupun selama dua minggu bertatab muka. Terima kasih buat kalian juga.
Teristimewa kepada pemandu materi, Janeet Steal dan mas Andreas Harsono.
Janet
steele adalah
seorang dosen di Universitas Washington. DC, Amerika. Andreas Harsono
adalah wartawan asal Indonesia. Ini memberikan inspirasi yang
cukup, apalagi saya sebagai orang papua yang harus banyak belajar jurnalisme,
supaya yang tersembunyi dibumi tanah papua dapat terungkap.
“Memang,
sampai kesana butuh proses. Tapi, dari belajar ke belajar pastilah bisa
memberikan hasil yang memuaskan”, kata saya.
Saya
dari Bogor ke Jakarta. Jakarta tinggal sama Okto Pogou dan selalu bolak- balik
dari kontrakan Okto di uki. Tujuannya, hanya satu, ingin mendalami penulisan
secara Jurnalisme Sastrawi. Bahasa krennya, menulis kreatif. Kerap kali disebut
juga menulis Narasi.
Senang
sekali mendalami genre ini.
***
BANGUNAN
BERLANTAI tiga, bercat krem kekuningan adalah ruangan kami. Ruangan kami yang
berbentuk persegi panjang yang kira- kira 6m x 3m. Dengan tinggi kira- kira
tiga meter. Di ruangan ber-AC ini adalah tempat kami mengikuti pelatihan
‘kursus Jurnalisme Sastrawi’.
Baik
ketika dipandu oleh Janeet Steal maupun mas Andreas Harsono, tulisan kami
sebagai orang papua tentu agaknya hadir dengan isu- isu Papua. Kami ingin
memberikan semacam pemahaman saja kepada kawan- kawan peserta kursus. Supaya
mereka pun tahu bagaimana nasib orang Papua.
Kami
hadir sekaligus untuk memberikan pemahaman. Walaupun tulisan kami, masih pemula
pun belum. Walaupun masih dalam taraf belajar. Bagi kami sebagai orang papua,
tidak menjadi soal, tetapi yang terpenting adalah masih dengan niatan untuk
belajar. Belajar menulis kreatif itu. Atau yang disebut menulis Narasi.
***
DARI
TANGGAL 26 JULI AKHIR HINGGA awal agustus adalah waktu kami mengikuti
Jurnalisme Sastrawi. Ditempat yang sama. Dikantor Yayasan Pantau adalah tempat
kami belajar, dalam waktu pendek namun masukan yang sangat berarti.
Banyak
bacaan yang memberikan inspirasi. Dari perkembangan Jurnalisme di Amerika
hingga di tanah air. Dari kerusuhan di Aceh, Pontianak, hingga Papua. Nasip
transmigran di pulau Buru hingga diskusi bagaimana meliput wilayah konflik.
Meliput
wilayah konflik ini dipandu oleh Aboeprijadi Santoso. Dia adalah wartawan
penyiar radio Nederlands. Dimoderatori oleh Basilius Triharyanto,
karyawan pantau itu. Diskusi ini berlansung selama satu setengah jam.
Diakhiri dengan foto bersama.
Ketika
membaca bukunya Shindunata. Penulis feature terkenal. Kumpulan tulisan feature.
Nasib para pidana di Pulau Buru, sangat tidak adil dirasakan oleh militer.
Mereka menjadi budak. Apalagi bila memahami bukunya Pramudya Anantatoer.
Pramudya pun hadir dengan cerita dari Pulau Buru, ketika beliau menjadi
tahanan. Sedih.
Ketika
membaca tulisan buku lain Linda Cristanty mengenai nasib para
transmigran Jawa di Sumatra, sungguh tragis juga bagi mereka. Transmigran
jawa pun hidup ditengah penekanan. Ternyata bila dipikir- pikir, banyak
sekali ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa dan sistim ini untuk warganya.
Bedanya,
ketidakadilan bagi Papua di perlakukan berbeda. Warga tanah air adalah korban
dari sistim yang salah dari bangsa ini.
Papua,
Namanya juga dibilang separatis. Namanya juga di bilang makar. Tentu, perlakuan
pun berbeda. Mungkin saja, hampir sama dengan warga Ache, Borneo, Maluku, dan
berbagai daerah di tanah air.
Selain
itu juga, Kondisi warga misalnya, kita melihat warga di sekitar lumpur
lapindo yang katanya sahamnya milik Umar- Bakri namun, tak ada penyelesaian
jelas untuk mengamankan penghidupan yang layak bagi warga. Ujung- ujunnya
hanyalah milik kaum pemodal. Merekalah yang memainkan system. Rakyatlah yang
menderita. Inilah adalah contoh rusaknya moral bangsa ini.
Kehadiran
lumpur lapindo di Sidoarjo. Kehadiran Freeport tembagapura Papua.
Kehadiran Exon Mobil di Ache dan perusahaan pengacau lainnya di tanah air, itu
hanyalah pengacau bagi kehidupan rakyat kecil. Malah, rakyat kecillah
yang menderita.
Perusahaan
exon mobil adalah milik Amerika. Amerika yang Notabenenya adalah
naluri Kapitalis, naluri Kolonialis dan Imperalis. Saya belum tahu pasti,
apakah perusahaan ini ditutup atau tidak.
Dari
ruangan itu, Dari cerita ke ceritera. Dari diskusi ke diskusi. Saya semakin
mengerti. Semakin mengerti bahwa, bangsa ini bangsa indopahit. System sudah
salah. Rakyatlah yang menderita.
“Untuk
warga tanah Papua, sistim yang salah mengarahkan suku bangsa Melanesia,
suku bangsa Negroid kearah yang salah juga. Hanya tinggal satu solusi yakni
Pembebasan Nasional”, kata saya. Inilah Kerinduan warga tanah Papua. Warga lain
pun punya kerinduan juga untuk terbebas dari system yang salah dari bangsa ini.
Kita
sangat berbeda. Mereka melayu dan kita Negroid. Negara kepulauan Melanesia.
Sejarah membeberkan panjang mengenai hal tersebut, supaya warga melayu paham.
***
HARI
ITU, sudah jam delapan malam. Aku harus ke Gramedia mampir dulu di Gramedia
yang terletak di lantai Dasar. Gramedia yang sangat ramai dikunjungi pengunjung
yang berlalu lalang. Ada yang sedang membaca. Ada yang membeli. Ada yang hanya
melihat- lihat.
Bagiku,
hari itu hanya untuk lihat- lihat. Namun, dari pandangan enam meter, saya
melihat buku merah terpampang jelas disebelah rak. Saya mendekat. “agama saya
adalah jurnalisme”, tertulis jelas di buku itu. Buku inilah yang terlintas
setelah menbaca. Tak berpikir panjang lagi. Saya beli satu buah. Masih
tersisa beberapa di Gramedia.
Saya
beli untuk mendalami kembali tulisan- tulisan ini. Banyak sekali cerita
yang mengisahkan untuk perkembangan Jurnalisme di tanah air. Agar Jurnalisme
ditanah air selalu berpatokan pada Sembilan ataupun Sepuluh Elemen
Jurnalisme. Agar jurnalisme ditanah air terlihat baik.
Senang
membaca tulisan yang mendalam dan memikat. Terima kasih pantau atas jenis
tulisan narasi. Ingin menambah inspirasi. Sekaligus ingin belajar.
Saya
orang tanah Papua perlu belajar.
omi.... blog mantap
BalasHapuswauwa blog bgs, dan berita jg mantap,,, wauwa bagi2 ilmu ka,,,,,???
BalasHapus