Welcome to my blog

Selamat datang di webblog saya. Saya senang menyapa anda semua.

Sabtu, 10 Mei 2014

Saya di AGUSTIAN




Baju Biru adalah Agustian Tatogo
Selamat sore kataku, pada seorang anak muda yang luar biasa. Namanya Agustian Tatogo. Di Agustian,  Satu jam bukan lama dan bukan pula cepat buatku untuk mencari tahu soal agustian dan teman setianya, sepeda yang berwarna putih dominan. Ternyata kata ‘selamat sore’ bukan hanya buat agustian tetapi sepedanya yang ada didepan kosnya di kota gudeg jogja.

Kira- kira pukul lima sore, saya  masuk di kos berukuran tiga kali empat meter kali lima meter. Disitulah agustian dan temannya, sepeda setia, tinggal. Jujur saja bahwa, sebenarnya saya datang mengangu keseharian agustian. Tetapi, saya datang hanya ingin menyapa saja.  Karena aku baru saja tiba di kota gudeg dan malamnya akan kembali ke kota studiku, tanah Pasundan.

“ Dik, ko ceritakan ko dengan ko pu teman setia sepeda itu bagaimana nih. Sa juga  ingin tahu? “ kataku cepat

Agustian mulai cerita soal dirinya dan sepeda putih itu. Dia mulai cerita dari inspirasi timbul dirinya terhadap sepeda putih itu. Ternyata jelas benar bahwa, agustian punya misi yang luar biasa untuk dirinya dan demi lapisan bumi dan manusia.

Agustian mulai cerita soal pengalaman ke semarang. Ke boyolali. Pengalaman tidur di gereja. Di gua Maria.  Pengalaman tidur di dekat Satpam. Katanya adalah mengenali dunia yang berbeda dan kemudian melihat buah- buah roh, apalagi soal cinta kasih.

Terima Kasih agustian saya sudah satu jam mengangu kegiatan anda di kota gudeg Jogja. Selamat beraktifitas. Selamat melanjutkan kegiatan selanjutnya dengan teman setiamu, sepeda.  Proficiat Yah !

Saya [telah]  di Agustian.


Per- [ubah]- an

Ilustrasi @ google


"......Aku berpikir bahwa aku akan merubah dunia....tetapi setelah dipertimbangkan, ternyata jauh juga jangkauannya. Kemudian saya pun bergegas memperkecil jangkauan. kuperkecil lagi, kuperkecil lagi, ternyata sampailah pada diri saya sendiri karena sebuah perubahan menuntut diri saya sendiri."

Ones, Selamat Ikut Kursus di Pantau.


Ones Madai, Jurnalis Muda Papua di Tabloid jubi online.

Malam ini Ones Madai Tiba di Bogor.  Tempat Saya Kuliah. Ones adalah seorang jurnalis Muda Papua, di http://tabloidjubi.com/. Ones cerita Kalau dia mau mengikuti Kursus Yang dirampu oleh Yayasan Pantau. Ones mau belajar soal Genre ini.

Ones datang ke saya tidak lain, supaya besok  menghantar Ones  ke Jakarta sekalian lebih berkenalan dengan alamat pelatihan Kursus yang akan dilaksanakan. Saya menemani Ones ke Jakarta dan menunjukan alamat di Yayasan Pantau itu.

Siang itu, tepat Hari minggu. Saya dan Ones berada di depan Pintu Masuk utama stasius Kereta Api Bogor. Entahlah, Pintu itu telah ditutup. Katanya beralih jalur. Sudah diberlakukan melalui jalur depan. Bukan Jalur samping seperti biasanya. Kata Beberapa Orang yang berada disitu.

Saya dengan Ones Masuk lewat jalur yang baru dibuka. Disana ada banyak orang. Ada yang sekedar berlalu lalang. Ada yangsedang pulang. Ada yang mau berangkat. Dan ada juga yang berjualan. Dan macam-macam.

Banyak orang antrian disana. Saya dan Ones Antrian disana. Saya dan ones ambil karcis comuter line.
Kami dua mendapat dua buah karcis. Terasa Anehnya, Bukan karcis kertas yang seperti biasanya, tetapi karcis elektronik yang kami dapatkan. Saya pun sempat bertanya karena karcis elektronik ini dalam minggu ini diberlakukan. Nyatanya sekarang diatur lebih baik dan lebih ketat.

Saya sempat bertanya. Ones menjelaskan kalau informasi  tentang Karcis Elektronik itu sudah dipublish di Media. Saya hanya mengiyahkan karena saya jarang mengikuti informasi sedetil seperti itu. Apalagi Ones sebagai wartawan tentu informasi menjadi input sebagai seorang Jurnalis.

Dan, Karcis elektronik itu simpel. Dia berukuran seperti kartu ATM. Bahannyapun sama. Warna dominan adalah Merah. Kemudian disusul warna Kuning. Didesain sedemikian rupa sehingga bagian salah satu sisinya berisi gambar kereta api comuter line, dengan background langit. Sisi lainnya berisi informasi pengunaan kartu. Entahlah, salah satu poinnya adalah,kartu tersebut digunakan saat bepergian satu kali.

Kami dua tiba di Stasiun Cawang. Kemudian melanjutkan perjalanan Ke Slipi. Dari sana Saya cerita soal alamat Ke Kebayoran Lama. Soal Angkot Bolak- Balik. Soal Grogol tempat tinggalnya. Soal Slipi atau Pal Merah.Kemudian, Alamat  Yayasan Pantau, tempat dimana Kursus ini diampuh.

Ini Hanyalah Pengalaman Karcis Elektronik. Kemudian soal Mengantar Ones untuk menunjukan Alamat. Hanya sekilas Pengalaman.

Selamat Ones. Selamat mengikuti Kursus.

Iya, Selamat ya.

Buku Emas

Ilustrasi buku J. C. Maxwell

Sore yang mendung. Jam lima waktunya akan hujan.  Anak muda Papua  masuk pagar depan. Dengan Senyuman lebar yang terpancar.  Namanya Marten Yeimo. Marten Yeimo  adalah anak didik dari Prof. Yohanes Surya juga. Dia kuliah di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Mengambil jurusan Hukum. Hari ini, dia datang membawa salah satu buku buat saya.

Kami duduk di kamar tamu. Tempat saya tinggal di  Bogor. Kami mulai cerita buku itu. Dia berikan buku itu ke saya. Gratis. Saya ucapkan terima kasih.

Buku ini berukuran, dengan panjang 16,5 cm, lebar11 cm. dengan ketebalan 1,5 cm. Dengan jumlah halaman adalah 165 halaman.

Marten Yeimo, sering datang ke Bogor. Dia sering datang pada saat libur. Kadang juga saat Sabtu- Minggu. Dia datang dari Tanggerangtempat dia kuliah. Dia datang mengunakan motor. Untuk bersantai bersama kami di Bogor.

Marten suka diskusi. Apalagi diskusi yang  sifatnya membangun. Satu hal yang saya suka dari Marten adalah Setiap pembicaraannya selalu mengandung  motivasi. Hebat.

Kata- kata atau setiap pembicaraan Marten tidak pernah jahu dari kata- kata motivasi. Saat santai hingga pembicaraan serius,pembicaraannya tak pernah jahu dari kata- kata motivasi yang menyertai pembicaraannya. Salut.

Karakter motivasi adalah salah satu contoh karakter yang saya temukan pada anak- anak yang pernah dididik oleh Prof. Yohanes Surya.Termasuk pada Marten Yeimo. Hal ini juga kita bisa baca di Novel yang ditulis oleh Yohanes Surya. Novel yang sangat inspiratif juga.

Dalam novel itu, karakter anak- Anak Papua yang digambarkan disana adalah Anak Papua harus kalahkan ketidakpercayaan dengan memotivasi diri. Supaya Lebih percaya diri lagi untuk tetap bersaing dengan anak- anak dari daerah lain.

Saya kenal Marthen dari Nabire. Begitu juga disini.Dalam pembicaraan kami yang saling memotivasi. Karena motivasi adalah sebagai bahan bakar  untuk bergerak.

Saya senang menerima buku yang dikasih oleh Adik Marten. Bukunya berwarna kuning emas. Buku yang ditulis oleh John C Maxwell. Saya membacanya sampai tiga kali.Buku yang menginspirasi saya. Buku Emas.

Salam Emas.

Makan Gorengan


Makan Gorengan adalah langkah awal kami. Kami duduk sebagai pembelajar. Kami duduk untuk membicarakan makrap kami. Lebih tepatnya, Kami ingin jadi pemenang Tim. Pemenang tim untuk Makrap Kami.

Saya ingin ucapkan selamat kepada panitia makrab  Imapa  Bogor yang ada di tempat. Panitia ini sudah ada saat sebelum saya tiba. Mereka sudah hadir dulu karena main bola voli dalam rangka pencarian dana. Dana ini akan tentunya mereka peruntukan bagi kepanitian tersebut.

Kini saya mampir sebentar setelah dua jam kemudian. Hadir bagai seorang disitu. Saya hadir karena saya juga anggota Imapa Bogor. Saya lebih suka menyebut diri, Manusia Pembelajar. Saya mau belajar banyak dari teman- teman panitia ini. Saya  bergabung dengan mereka. Kami ditemani malam, udara segar tanah pasundan dan lampu disekitar tempat itu. Disitu ada Kris Pakuai sebagai ketua Panitia makrab Imapa Bogor. Ada Andreas Adii juga sebagai sekertaris Panitia Makrab Imapa. Ada Yorince wandimbo selaku bendahara. Kemudian ada beberapa koordinator setiap seksi.

Saya senang melihat mereka. Mereka saling bertukar ide, gagasan, masukan mereka. Yang intinya adalah untuk mempersiapkan kegiatan tersebut. Mereka membicarakan mengenai sumber dana. Misal dari pengajuan proposal, bazar panitia, kegiatan panitia seperti main voli dan sumbangan wajib setiap anggota panitia.

Selain itu, mereka membicarakan mengenai konsep acara mereka. Dari awal kegiatan hingga selesainya. Dari kepastian Pemateri hingga sumber daya lain yang digunakan. Mereka saling diskusi satu dengan lainnya. Mereka menyaring informasi yang menurut mereka benar dan tepat sasaran sesuai keinginan mereka.

Saya masih membisu. Hanya mendegar. Saya  hanya ditemani Beberapa Gorengan yang dibagikan oleh panitia. Kusantap. Enak. Ada air bening segelas juga. Saya menikmati. Menikmati mereka bicara. Menikmati  makanan gorengan dan segelas air bening. Menikmati udara sejuknya tanah pasundan.

Panitia membicarakan semua. Kris mengarahkan mereka untuk tetap semangat untuk mencari dana. Dari pertemuan itu, dari setiap seksi menyampaikan unek, ide, gagasan, dan masukan mereka. Ada seksi perlengkapan. Seksi publikasi, dekorasi dan dokumentasi. Seksi acara. Seksi Konsumsi.

Saya tahu, mereka sedang belajar. Saya juga sama.  Mereka sedang belajar menyampaikan ide, mereka sedang belajar mendegarkan, mereka sedang belajar analisa persoalan persiapan makrab, dan lain- lain. Kami yang duduk dibawa lampu itu sedang belajar.

Kami senang menyebut diri, Manusia pembelajar. Sambil menikmati gorengan ini. Iya kami pembelajar. Saya ucapkan selamat buat kami semua.

 Iya, selamat.